Bangli, dewatanews.com - Tradisi Unik di Desa Adat Mengani, Kintamani, Bangli berkaitan dengan siklus melepasliarkan anak sapi (godel) yang disucikan. Sapi suci yang digembalakan tanpa kandang khusus alias dibiarkan berkeliaran di kebun warga itu disebut wadak.
Kendati merupakan tradisi, namun pihak keduluan atau tetua adat tetap memperhatikan aspirasi masyarakat yang berkembang. Jro Bayan Kantun tak menampik pro dan kontra dalam pelestarian wadak di desanya. Sebagian warga masyarakat tidak keberatan ada sapi “liar” melintas dikebunnya.
Konsekuensinya, berbagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi kadang “keambil jro Gede” atau dimakan wadak tersebut. Segelintir orang merasa kurang sreg dan berharap tradisi ini tidak lagi dilanjutkan. “Agar tradisi bisa jalan dan keluhan krama juga terakomodasi, kami batasi pembuatan wasak hanya satu ekor setiap tahunnya,” tutur Jro Bayan Kantun, di sela-sela upacara ngerasakin atau prosesi penyucian godel menjadi wadak di Pura Dalem Desa Adat Mengani, Minggu (17/5).
Upacara ini diselenggarakan krama Banjar Adat Mengani, yang sudah ngayah membuat sesajen sejak pagi hari. Berbagai sesajen dibuat sebagai sarana merubah status godel menjadi “Jro Gede” alias wadak. Setelah disucikan, krama Mengani wajib menghormati atau memelihara keberadaan Jro Gede dengan membiarkan komoditas pertanian di makan.
Sejumlah komoditas pertanian yang sering dimakan wadak seperti pisang dan kacang-kacangan. Kadang wadak yang pada masa birahi karena ada betina yang siap dibuahi tidak jarang mengamuk dan menghancurkan tanaman yang dibudidayakan Krama Mengani.
“Walau demikian kami (warga Mengani) harus iklas dan menahan diri untuk mengumpat atau berkata kasar menghadapi kenyataan kebun rusak,” jelas Wakil Kelian Banjar Adat I Wayan Puja. Puja yang akrab dipanggil Kelih Nopi menambahkan jika ada warga yang mengumpat atau mengeluarkan kata-kata senonoh, acap kali mendapat “sanksi” dari Jro Gede, alias wadaknya selalu ngamuk ditanah garapan warga bersangkutan.
Ditegaskan’ keputusan untuk membuat wadan hanya seekor setiap tahunnya dapat dimaklumi agar tradisi tetap berjalan dan pengelolaan kebun warga bisa tetap produktif dan mendapatkan keuntungan yang memadai.
Sementara itu Jro Singgukan, Mangku Wayan Suwarna menuturkan pembuatan wadak dilaksanakan pada setiap tilem sasih Jiestha tiap tahunnya.
“Sekitar 15 hari setelah wali panguang yakni penyembelihan wadak maka prosesi wali di Desa Mengani kembali ke siklus awal yakni ngrasakin atau membuat wadak,” ujar Mangku Pura Puseh Mengani itu.
Kelihan Adat Mengani I Gede Subrata menjelaskan pembuatan wadak tahun 2026 pihaknya tidak mengeluarkan dana khusus untuk pembelian godel.
“Godel yang diupacarai biasanya dibeli menggunakan kas Banjar Adat Mengani atau bisa saja dihaturkan krama yang punya haul atau sesangi,” tutur Gede Subrata.
Sejumlah krama Banjar Mengani mengakui pihaknya punya rencana membayar sesangi menhaturkan pengeleb (anak sapi yang akan diliarkan). Langkah ini sebagai bagian dari langkah membayar haul (sesangi).
Berdasarkan observasi lapangan beberapa warga menghaturkan pengeleb jika berbagai kesulitan keluarga yang dihadapi warga dapat terselesaikan dengan baik seperti anggota keluarga sakit bisa sembung sesuai harapan. Seorang warga menuturkan pihaknya memiliki haul akan menghaturkan pengeleb kalau masalah sengketa tanahnya pada tahun 2013 dapat diselesaikan tanpa konflik dengan pihak lain.
“Saya masih berhutang, walau sesangi itu saya ucapkan tiga belas tahun lalu. Selain dananya belum terkumpul, juga masih masuk daftar tunggu yakni kapan mendapat giliran menghaturkan pengeleb dari prajuru desa,” ujar krama yang enggan namanya ditulis di media.
Pantauan di lapangan, krama banjar adat dan seka truna antusias mengikuti prosesi ngerasakin terutama saat akan melepasliarkan wadak pasca upacara. Karena godel yang diupacarai relatif besar, warga sedikit kesulitan mengaraknya sebelum diliarkan.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com