Ditengah Pandemi Covid-19, Petani Nusa Lembongan Tetap Ekspor Rumput Laut - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

Post Top Ad

Responsive Ads Here

8/28/20

Ditengah Pandemi Covid-19, Petani Nusa Lembongan Tetap Ekspor Rumput Laut

 

Klungkung, dewatanews.com - Sebanyak 500 petani di Nusa Lembongan, Kabupaten Klungkung, Bali tetap mengekspor rumput laut, meski masa pandemi COVID-19.

"Ekspor masih tetap berjalan, kalau di Nusa Lembongan pengirimnya ke Surabaya, ke Nusa Penida juga. Kemudian, dari Nusa Penida berlanjut ke gudang-gudang yang mengekspor tujuan ke luar Bali," kata salah satu petani rumput laut di Nusa Lembongan Wayan Ujiana saat dikonfirmasi ANTARA di Klungkung, Jumat (28/8).

Ia menjelaskan ekspor rumput laut dilakukan dengan tujuan Surabaya, Jakarta untuk luar daerah Bali. Sedangkan khusus wilayah Bali ke Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung dan Nusa Penida.

Sistem ekspornya, dimulai dari para petani yang mengumpulkan rumput laut. Hasil rumput laut tersebut, kemudian dikirim ke pengepul dan dari pihak pengepul akan mengekspor sesuai dengan tujuan pemesan.

Wayan Ujiana menjelaskan selama pandemi ini tidak mempengaruhi ekspor secara signifikan, melainkan terjadi perubahan, pada harga rumput laut. Sebelum COVID-19 harga per 1 kg rumput laut itu Rp18 ribu, setelah pandemi harga rumput laut Rp15 ribu per 1 kg.

"Harga rumput laut sebelum COVID itu bisa sampai Rp18 ribu, tapi gara-gara pandemi ini perlahan mulai turun. Dua bulan lalu harganya anjlok sampai Rp14 ribu, namun sudah meningkat beberapa minggu belakangan jadi Rp15 ribu untuk cottoni merah dan Rp16 ribu untuk cottoni hijau," paparnya.

Ia mengatakan waktu panen rumput laut, yaitu dalam rentang satu minggu sampai satu bulan, biasanya akan mendapatkan satu karung besar seberat 60 kg dan ada juga mencapai 120 kg.

"Untuk waktu ekspor enggak menentu ya, tergantung pengepul, tapi biasanya kalau dihitung dua minggu sekali biasanya petani bisa ngumpulin sampai dua karung atau sekitar 120 kg, lalu dibawa ke pengepul," kata Ujiana.

Sementara itu, untuk perawatannya tidak lagi menggunakan tanam dasar, namun rumput laut dipetik dari tempat budi daya, kemudian dipetakan, dijemur dan dibersihkan dari sampah-sampah laut.

Sampah-sampah laut yang dimaksud merupakan rumput laut yang mengganggu pertumbuhan rumput laut lain dalam bentuk rumput laut benang.

"Sampah-sampah laut yang mengganggu pertumbuhan rumput laut tersebut diangkat dan dibersihkan, lalu dijemur," ucapnya.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here