Menarik Generasi Milenial Bali untuk Bertani - Dewata News

Breaking News

Home Top Ad

Gold Ads (1170 x 350)

5/12/19

Menarik Generasi Milenial Bali untuk Bertani


Oleh: Made Metera *

Kalau menengok ke belakang di tahun 1970-an Sekolah Menengah Pertanian (SPMA) dan Fakultas Pertanian (FP) masih memiliki banyak peminat. Berbeda halnya saat ini. SPMA memang sudah ditutup. Namun, FP yang ada di sejumlah perguruan tinggi hampir-hampir tidak memiliki peminat.

Keadaan itu berkaitan dengan minat dan cita-cita generasi milenial dan anak-anak saat ini. Kalau anak-anak sampai dengan siswa sekolah menengah sekarang ditanya cita-cita hampir pasti tidak ada yang berangan-angan menjadi petani. Petani dipersepsi sebagai pekerjaan yang kurang bergengsi dan tidak mampu memberikan kesejahteraan hidup.

Sesungguhnya petani dan pertanian selamanya pasti dibutuhkan sepanjang manusia belum mampu mengkonsumsi produk pangan sintetis. Kontribusi utama petani dan pertanian bagi kehidupan manusia adalah kontribusi produk bahan  pangan yang tidak bisa tergantikan oleh sektor lain.

Adalah ironis sesuatu yang memiliki kontribusi penting bagi kehidupan manusia dan potensial memberikan keuntungan bagi yang menggarapnya, justru tidak diminati. Pasti ada yang keliru pada sistem pengaturan kesejahteraan masyarakat (ekonomi politik) yang menyebabkan ironi itu terjadi.

Kalau dicermati memang kebijakan ekonomi politik sejak dulu sampai kini belum mampu memberikan kesejahteraan bagi petani. Ada bias industri, perdagangan, dan pariwisata. Sehingga kesejahteraan pelaku industri, perdagangan, dan pariwisata pada umumnya lebih baik dari kesejahteraan petani.

Perlu kebijakan ekonomi politik yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Misalnya di bidang fiskal, pajak tanah pertanian ditetapkan lebih kecil ketimbang pajak tanah peruntukan lainnya. Kalau memungkinkan pajak tanah pertanian dihapus atau disubsidi oleh negara. Jika masih mungkin ada subsidi untuk pertanian, subsidi supaya diberikan kepada produk pertanian bukan kepada faktor produksi.

Subsidi kepada produk pertanian didesain menciptakan kepastian harga produk pertanian yang menguntungkan petani yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Di Bali, Pergub Bali Nomor 99 Tahun 2018 Tentang Pemasaran Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri, dapat dipandang sebagai kebijakan ekonomi politik yang dapat diharapkan meningkatkan kesejahteraan petani. Akan lebih baik lagi jika kebijakan itu disertai dengan subsidi terhadap harga produk petanian dalam arti luas.

Kalau petani sejahtera tentu tidak sulit menarik generasi milenial untuk menjadi petani.

 * Rektor Unipas Singaraja

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com