Dr. Made Metera: Perubahan itu Perlu Dimimpikan - Dewata News

Breaking News

Home Top Ad

Gold Ads (1170 x 250)

5/10/19

Dr. Made Metera: Perubahan itu Perlu Dimimpikan


Buleleng, Dewata News. Com - Dua puluh tiga tahun lalu, Gede Made Metera yang kini sudah menjadi Pimpinan puncak di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di kota Singaraja pernah memimpikan situs eks Pelabuhan Buleleng suatu saat akan menjadi tempat pemajangan dan penjualan produk olahan pertanian dan produk industri kerajinan. 

Kenapa? Pengamat sosial di Gumi Den Bukit asal Tabanan ini melihat, bahwa wisatawan asing dan domestik yang datang ke Singaraja dapat melihat beragam produk di tempat pemajangan itu. 

"Kalau mereka membutuhkan lebih banyak bisa mencari ke tempat produksinya atau memesan melalui penjual di tempat pemajangan itu. Mimpi itu hampir terwujud saat ini, meski belum sepenuhnya", ujarnya ketika pagi-pagi menikmati desir angin pantai eks Pelabuhan Buleleng, Jumat (10/05).

Menyimak perubahan perlu  dimimpikan itu, Made Metera mengingat ceritanya ketika sebagai dosen muda. "Ya dosen muda, usia 36 tahun jabatan masih Lektor Muda saat itu, baru selesai pendidikan Magister Sain", celotehnya mengiringi suara burung terbang di antara ombak damai pantai Utara Bali, Buleleng.

Ia masih membayangkan ketika mengikuti pelatihan penelitian sosial ekonomi di Bogor tahun 1996 tahap I diteruskan tahun 1997 tahap II, masing-masing selama satu minggu. Menurut Metera, beragam proposal penelitian dipresentasikan oleh peserta pelatihan. Kebanyakan proposal membahas upaya memberi nilai tambah kepada produk lokal. 

Salah satu proposal peserta yang menarik perhatian Made Metera, adalah proposal yang meneliti pengolahan bandeng presto duri lunak aneka rasa. Produk yang dihasilkan adalah bandeng presto duri lunak yang memiliki rasa sesuai selera konsumen dan mempunyai masa kadaluarsa cukup lama, disimpan dalam suhu kamar.

Menurut Rektor Unipas murah senyum ini, ebagai rangkaian dari acara pelatihan penelitian itu, peserta pelatihan mengunjungi  Cianjur dua kali. Pertama, mengunjungi Cianjur di malam hari tanpa diatur oleh panitia. Dirinya sangat terkesan kepada  keindahan Cianjur di malam hari. Bagi Metera, udaranya sejuk, tetapi beberapa teman yang datang dari hampir seluruh Indonesia mengatakan udara Cianjur di malam hari dingin.

"Saya juga terkesan kepada kuliner lokal yang disajikan di daerah wisata itu. Saat itu saya sudah mulai memimpikan kalau eks Pelabuhan Buleleng bisa menjadi obyek wisata di malam hari seperti di Cianjur, meskipun udara di Singaraja panas, tidak sesejuk udara Cianjur. Waktu itu, tahun 1996, eks pelabuhan Buleleng belum ditata seperti sekarang, tetapi Patung Pahlawan sudah dibangun", imbuhnya.

Ketika peserta pelatihan mengunjungi Cianjur di siang hari diatur oleh panitia pelatihan mengunjungi tempat pemajangan dan penjualan produk olahan hasil pertanian dan produk kerajinan.

"Kalau di malam hari saya terkesan kepada keindahan Cianjur serta kulinernya, pada kunjungan di siang hari saya terkesima melihat beragam produk olahan hasil pertanian dan hasil industri kerajinan yang dipajang dan dijual di toko-toko di kota Cianjur. Hampir semua upaya memberi nilai tambah yang dibahas dan dipresentasikan oleh peserta pelatihan penelitian, produk olahan hasil pertanian sejenis sudah dihasilkan, dipajang dan dijual di Cianjur, termasuk bandeng presto duri lunak aneka rasa. Di sini saya lagi memimpikan, suatu ketika produk olahan hasil pertanian dan industri kerajinan Buleleng bisa dipajang di eks Pelabuhan Buleleng",  ungkapnya.

Pulang kembali dari pelatihan penelitian sosial ekonomi, sebagai akademisi, Dr. Gede Metera, M.Si mendapat kesempatan ikut merencanakan pembangunan Buleleng. Tahun 2001 ikut merencanakan Program Pembangunan Daerah (Propeda) dan Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (Repetada). Tahun 2010-2012 menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Buleleng 2005-2025 yang kemudian dijadikan Peraturan Daerah tahun 2013. Tahun 2017 menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kabupaten Buleleng 2017-2022. 

"Walaupun begitu mimpi saya belum belum nampak tanda-tanda bisa terwujud, ya tentu saja karena saya hanya seorang akademisi yang diajak ikut merencanakan pembangunan berkat kepercayaan Pemerintah Kabupaten Buleleng kepada akademisi", jelasnya.

Ketika eks Pelabuhan Buleleng ditata seperti keadaan sekarang, dibangun Restoran Terapung, dibangun pergola dari kayu mengelilingi areal, dibangun Gedung IMACO, kemudian berganti nama menjadi Gedung Mr. I Gusti Ketut Pudja, dan dibangun wantilan, akademisi yang sudah layak disapa pak Prof ini sebenarnya sudah berharap mimpinya akan terwujud. Tetapi ternyata pergola di sisi Selatan diisi pedagang dan desain pergola ditambah-tambah tidak beraturan yang terkesan menjadi kumuh.

"Pagi ini, Jumat 10 Mei 2019  melihat sinyal-sinyal mimpi saya mungkin akan bisa terwujud. Di areal eks Pelabuhan Buleleng ada tenda berjejer rapi di bawah tenda dipajang dan dijual aneka produk pertanian Buleleng, produk olahan hasil pertanian, dan produk industri kerajinan Buleleng. Kegiatan ini sudah beberapa kali dilakukan pada hari Jumat di Taman Kota", kata Metera.

Menyaksikan kehiatan itu, Made Metera sempat bicara kepada pejabat eselon III yang kebetulan ataukah memang sedang bertugas mengatur kegiatan itu. Ini kegiatan bagus. Akan lebih bagus lagi jika dijadikan permanen. Tidak hanya hari Jumat. Respons pejabat itu, ya memang diperlukan ada masukan, kemudian direncanakan bersama dan diwujudkan.

Mendengar respons pejabat itu, mimpi dari seorang akademisi ini menjadi berlanjut, suatu saat eks Pelabuhan Buleleng akan menjadi tempat pemajangan dan penjualan produk olahan hasil pertanian dan industri kerajinan, bukan hanya Buleleng tapi juga produk olahan hasil pertanian dan industri kerajinan Bali.

Perubahan itu memang perlu diawali dari mimpi. - Made Tirthayasa.--

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com