Tumpek Krulut, Pemujaan Terhadap Taksu’nya Pragina - Dewata News

Breaking News

Home Top Ad

Gold Ads (1170 x 350)

2/9/19

Tumpek Krulut, Pemujaan Terhadap Taksu’nya Pragina


Saniscara Kliwon Krulut, Sabtu – 09 Februari 2019 merupakan Hari Raya Tumpek Krulut. Sesuai Kalender Bali Digital, pada Upacara Tumpek Krulut menghaturkan sesaji kepada Ida Sang Hyang Widhi / Bhatara Iswara di Sanggah Kemulan. Tujuannya? Mohon keselamatan.

Pada Hari Raya Tumpek Krulut, secara khusus warga krama pengempon Pura Kawitan Pasek Gelgel di RT VIII Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng menyelenggarakan Upacara Piodalan. Sejak hari Rabu (06/02) warga karma pesaren melaksanakan ayah-ayahanmempersiapkan sarana dan prasarana upacara yang dipimpin Klian Krama Made Sedana Arta mendampingi Jmk Putu Gelgel.

Berdasarkan Kalender Bali yang disusun I Gede Marayana, hari Sabtu -  tanggal 09 Februari 2019, Saniscara wuku Pahang sebagai Tumpek Krulut, Pemujaan terhadap Taksu’nya Pragina.

Sementara itu, salah seorang dosen Institut Hidu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Prof.Dr.Drs. I Made Surada, MA, mengatakan, Tumpek krulut sesungguhnya melaksanakan pemujaan terhadap Sanghyang Iswara yang diyakini sebagai dewa dari suara yang muncul dalam kesenian yang berupa musik atau gong.

Pada upacara Tumpek Krulut, umat Hindu memberikan sesajen banten kepada gamelan, mulai dari galeman gong kebyar, semara pagulingan, gong gede, gender dan gamelan yang lainnya. “Dengan melaksanakan upacara itu, memohon agar gamelan tersebut dapat berfungsi sebagaimana dapat memberikan rasa keindahan, keseimbangan dan keharmonisan dalam bekesenian. Karena hidup ini tak dapat dipisahkan dari rasa keindahan,” jelas Prof. Made Surada.

Di aman kekinian, Prof. Surada menyebut, kasih sayang sering dikaitkan denganvalentine day. Umat Hindu di Bali, sesungguhnya mempunyai hari kasih sayang yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali.

“Upacara tersebut untuk mengingatkan kembali Umat Hindu agar saling mengasihi pada sesama, sehingga muncul rasa bahagia, tenang, senang dan sejahtera. Tanpa hidup senang dan saling mengasihi, tujuan hidup tidak akan tercapai. Kalau di India dikaitkan dengan hari Raksa Bandan yang juga saling sebagai hari kasih sayang,” paparnya.

Prof. Surada mengatakan, memaknai upacara Tumpek Krulut secara kedalam atau pada diri, maka Iswara itu apa yang ada dalam sabda manusia, suara manusia maka manusia disebut ada. Manusia ada dengan ciri adanya suara. Ketika manusia mengadakan kontak kepada orang lain itu didominasi oleh suara. “Maka itu adasesenggak (pepatah), munyi ane medasarterus diingat (dengan suara memakai logika dan etika akan selalu diingat)”.

Umat Hindu di Bali melaksanakan upacara Tumpek Krulut setiap enam bulan sekali atau dalam kurun waktu 210 hari. Upacara tersebut jatuh pada Saniscara, kliwon, yang semestinya wuku Krulut atau pada, Sabtu 09 Februari 2019. Pada hari Tumpek Krulut, sering pula dsisebut dengan odalan atau otonan gong, karena umat Hindu di Bali melaksanakan upacara terhadap perangkat suara tersebut, sehingga memiliki suara yang indah dan taksu.

Dalam melaksankan upacara Tumpek Krulut, disesuaikan dengan desa kala patra. Kalau di kost cukup menghaturkan sesajen di pelanggkiran. Jika di rumah, bisa di Sanggah Rongtelu Sanggah kemimitan, karena Umat Hindu yakin Bhatara Hyang Guru. Kalau ditempat lain, ditentukan dengan semaya (kesepakatan). Boleh di Pura Desa atau dimana pun bisa. Dan yang penting melaksanakan upacara dengan ketulusan. ”sal adanya keseimbangan keluar dan ke dalam diri. Kita Bisangelinggihang Ida Bhatara Gamalen di dalam diri,” tambahnya.

Begitulah cara Umat Hindu mengyikapai upacara agar dapat membantu dalam memberikan kebahayagaian. Tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga benda dihormati dengan upacara.

Dan yang perlu diingat, pada upacara Tumpek Krulut tak memuja gamelan, tetapi mempersembahkan kepada Dewa Gamelan agar berfungsi untuk memberi keindahan juga bermaftaat pada manusia.  ~ Made Tirthayasa ~

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com