Pengertian Sugihan Jawa dan Sugihan Bali - Dewata News

Breaking News

Home Top Ad

Gold Ads (1170 x 350)

12/22/18

Pengertian Sugihan Jawa dan Sugihan Bali


SELAMA dua hari, Kamis (20/12) dan Jumat (21/12) ini, umat Hindu di Bali merayakan Rahinan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, menjelang tibanya Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Rabu(26/12) nanti.

Jika dilihat dari urat arti katanya, Kata Sugihan Jawa berasal dari urat kata Sugi, yang artinya membersihkan, dan Jawa artinya luar. Jadi Sugihan Jawa dapat diartikan sebagai suatu upacara yang berfungsi untuk membersikan Bhuana Agung atau alam semesta (makrokosmos), baik sekala maupun niskala.

Berdasarkan Lontar Sundarigama, Sugihan Jawa diartikan sebagai Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).

Pada saat peksanaan Sugihan Jawa, yang menjadi target (yang disucikan) adalah buana agung atau alam semesta, seperti misalnya membersihkan pelinggih atau tempat-tempat suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan, membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci.

Sedangkan Sugihan Bali berasal dari kata Sugi yang berarti membersikan dan Bali yang berarti  kekuatan yang ada dalam diri (bahasa Sansekerta). Jadi Sugihan Bali adalah upacara yang bertujuan untuk menyucikan buana alit atau mikrokosmos (manusia) secara sekala dan niskala, sehingga bersih dari perbuatan-perbuatan yang ternoda atau pembersihan lahir dan batin.

Pembersihan dapat dilakukan dengan penglukatan, sarananya dapat menggunakan bungkak nyuh gading. Dalam Lontar Sundarigama, Sugihan Bali bermakna Kalinggania amrestista raga tawulan yang artinya oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing /mikrocosmos yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan. 

Pelaksanaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali
Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, keduanya merupakan rangkaian pelaksaan hari Raya Galungan dan Kuningan yang dimulai pada Saniscara Kliwon wuku Wariga atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Wariga (25 Hari). Sugihan Jawa jatuh pada Wraspati / Kamis Wage Wuku Sungsang sedangkan Sugihan Bali jatuh pada Jumat Kliwon Wuku Sungsang atau sehari setelah Sugihan Jawa.

Perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali
Kedua sugihan ini memiliki makna sebagai wadah Pembersihan, Namun yang menjadi perbedaan terletak pada apa yang dibersikan (disucikan). Jika dilihat lebih dalam Sugihan Jawa lebih kepada pembersihan makrokosmos atau alam semesta seperti misalnya:

Niskala: pembersihan dengan jalan mengaturkan upacara banten pengerebuan dan prayasita sebagai lambang penyucian. Semua itu diaturkan kepada Ida Batara, para leluhur dan para dewa yang berstana di masing-masing palinggih atau pura. Diyakini pada saat Sugihan Jawa ini, para dewa akan turun diiringi dengan para luluhur untuk menerima persembahan.

Sekala: membersihkan palinggih atau tempat-tempat (ngererata atau mabulung yakni pekerjaan merabas atau mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar palinggih) Istilah Bali.

Sugihan Bali lebih mengarah pada pensucian (pembersihan) mikrokosmos atau diri sendiri. Penyucian dapat dilakukan dengan cara:

Niskala: Pembersihan badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira) dengan cara melakukan yoga semadi yang ditujukan untuk mulat sarira, sebab pada saat ini umat seharusnya memiliki kesucian batin dengan menahan diri dari segala macam godaan indria. Hal inilah yang menjadi penekanan dalam kaitannya pelaksanaan ritual Sugihan Bali.

Sekala: Pembersihan badan fisik dari debu kotoran dunia maya, agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan.

Kesimpulan
1. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah upacara penyucian macrokosmos dan Microkosmos.
2. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan jang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Wariga dan Jumat Kliwon Wuku Sungsang.
3. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali sebaiknya keduanya dilaksanakan sebab dikisahkan bahwa dalam menyambut hari Raya Galungan  Dewa Siwa menugaskan para Bhuta untuk menggoda para manusia. Sehingga dengan melakukan pembersihan Bhuana Agung pada Sugihan Jawa dan pembersihan Bhuana Alit pada Sugihan Bali akan mampu lebih menjauhkan kita dari godaan para Bhuta yang akan dapat merugikan diri kita.
4. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali dapat dilaksanakan sesuai dengan desa Kala Patra (keyakinan kita sendiri). Intinya kembali kepada diri sendiri mana yang terbaik. ~ Jro Made Tirthayasa ~
*  Dari berbagai sumber.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com