Nuanu Lipatgandakan Dukungan Fight For A Cure, Komunitas Tinju Bali Galang Dana untuk Riset Kanker - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

10/4/26

Nuanu Lipatgandakan Dukungan Fight For A Cure, Komunitas Tinju Bali Galang Dana untuk Riset Kanker


Tabanan, dewatanews.com — Bukan sekadar pertarungan di atas ring. Puluhan petarung dari berbagai gym di Bali naik ring membawa misi yang sama: mengubah adrenalin pertandingan menjadi dukungan nyata bagi perjuangan melawan kanker.

Pesan itulah yang kembali digaungkan melalui Fight For A Cure edisi keempat yang digelar di Block 42, Nuanu Creative City, Tabanan, Bali, Sabtu (3/10). Acara yang digagas Germ Cell ini mempertemukan lebih dari 30 gym dari seluruh Bali, sekitar 40 petarung, serta lebih dari 1.500 pendukung untuk menggalang dukungan bagi riset kanker.

Dukungan terhadap gerakan tersebut tahun ini semakin besar. Nuanu Social Fund (NSF) meningkatkan kontribusinya menjadi hampir Rp117 juta atau sekitar US$6.500, lebih dari dua kali lipat dibandingkan kontribusi Rp45 juta atau sekitar US$2.500 pada 2025.

Peningkatan tersebut menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan NSF dalam mendukung berbagai inisiatif berbasis komunitas yang memiliki dampak sosial terukur.

Rp1,5 Miliar untuk Riset Kanker

Dukungan terhadap Fight For A Cure turut memperkuat kiprah Germ Cell dalam mendukung penelitian kanker. Hingga kini, Germ Cell telah menyalurkan sekitar Rp1,5 miliar atau US$83.000 untuk riset kanker.

Dana tersebut mendukung sejumlah penelitian dan kegiatan di Chris O’Brien Lifehouse, salah satu lembaga riset dan perawatan kanker terkemuka, serta penelitian yang dipimpin oleh Dr. Kim Alexander dan Profesor Jeremy Crook.

Riset yang didukung Germ Cell menyasar sejumlah tantangan penting dalam penanganan kanker, mulai dari deteksi dini dan pemantauan kekambuhan hingga pengembangan terapi yang lebih efektif untuk kanker agresif.

Dr. Kim Alexander, misalnya, meneliti potensi penggunaan tes darah sederhana untuk membantu mendeteksi kembalinya glioblastoma sekaligus memantau respons pasien terhadap pengobatan. Sementara itu, Profesor Jeremy Crook mengkaji metode agar obat kanker dapat menjangkau sel tumor secara lebih efektif.

Dukungan terhadap Chris O’Brien Lifehouse juga turut membantu pengembangan riset serta layanan perawatan kanker yang lebih luas.

Berawal dari Pengalaman Pribadi

Germ Cell didirikan oleh Kai Suteja, seorang penyintas kanker yang telah dua kali berhasil melewati penyakit tersebut. Pengalaman personal itu kemudian mendorongnya mengubah perjuangan pribadi menjadi gerakan bersama.

Berawal dari komunitas kebugaran di Bali, Germ Cell kini berkembang menjadi gerakan penggalangan dana tahunan yang mempertemukan petarung, gym, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mendukung riset kanker.

Semangat tersebut juga terlihat dari kisah para petarung yang naik ring.

Anatoli dari Lions MMA, misalnya, bertarung dengan membawa kenangan terhadap bibinya yang meninggal akibat kanker darah ketika dirinya masih kecil. Pengalaman tersebut bahkan menjadi salah satu alasan yang mengantarkannya ke dunia tinju.

Sementara Jake dari The Block mendedikasikan pertandingannya untuk kedua orang tuanya yang sama-sama pernah berjuang melawan kanker dan berhasil melewatinya.

Kisah-kisah personal tersebut memperlihatkan bahwa Fight For A Cure bukan hanya tentang menang atau kalah dalam pertandingan. Di balik setiap pertarungan, ada pengalaman, kehilangan, harapan, dan alasan personal untuk terus mendukung perjuangan melawan kanker.

“Kemenangan Sebenarnya adalah Dana untuk Riset”

Founder Germ Cell, Kai Suteja, mengatakan banyak orang yang terlibat dalam Fight For A Cure memiliki hubungan personal dengan kanker.

“Bagi banyak orang yang terlibat dalam Fight For A Cure, kanker adalah sesuatu yang sangat personal. Banyak dari mereka yang pernah kehilangan orang terdekat, atau melihat orang yang mereka sayangi berjuang melawan kanker. Fight For A Cure menjadi salah satu cara untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berarti,” ujar Kai.

Menurutnya, para petarung yang naik ring bukan hanya bertanding untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa nama dan perjuangan orang-orang yang tidak dapat bertarung melawan penyakit tersebut.

“Banyak petarung yang naik ring untuk mewakili mereka yang tidak bisa melakukannya sendiri. Menang atau kalah, kemenangan yang sebenarnya adalah dana yang berhasil kami kumpulkan untuk mendukung riset kanker. Dengan sains yang lebih baik, kita bisa mendapatkan hasil yang lebih baik, dan saya rasa itu adalah sesuatu yang bisa didukung oleh semua orang,” lanjutnya.

Nuanu: Partisipasi Komunitas Bisa Jadi Dampak Nyata

Head of Nuanu Social Fund, Ida Ayu Astari Prada, mengatakan peningkatan kontribusi NSF diberikan karena Fight For A Cure dinilai mampu menunjukkan konsistensi dalam menggerakkan komunitas sekaligus menghasilkan dampak sosial yang nyata.

“Kami meningkatkan dukungan karena Fight For A Cure telah membuktikan kemampuannya dalam menggerakkan komunitas dan mengubah partisipasi tersebut menjadi dukungan yang nyata,” kata Ida Ayu Astari Prada.

Ia menilai inisiatif tersebut berhasil membangun partisipasi konsisten dari komunitas kebugaran Bali dan menghubungkannya dengan dukungan konkret terhadap riset kanker.

“Bagi NSF, ini merupakan model dampak yang kuat—bagaimana partisipasi dari komunitas lokal dapat diwujudkan menjadi dukungan bagi riset yang relevan dan berdampak bagi pasien,” ujarnya.

Memasuki penyelenggaraan keempat, Fight For A Cure menunjukkan bahwa sebuah pertandingan olahraga dapat memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar hasil di atas ring.

Dengan dukungan puluhan gym, para petarung, pelaku usaha, dan ribuan masyarakat, energi komunitas kebugaran Bali kembali diarahkan untuk satu tujuan: mendorong riset agar perjuangan melawan kanker memiliki peluang yang lebih besar untuk menghasilkan harapan baru bagi pasien.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com