Badung, dewatanews.com — Merawat tradisi sekaligus menanamkan kepedulian sosial kepada generasi muda menjadi semangat yang diusung dalam pelaksanaan Upacara Manusa Yadnya Pengeruwatan Sapuh Leger dan Melik Ceciren.
Mengusung tagline “Melangkah Suci, Menyuci Geni, Ngayah Utama, Ngamargi Dana”, kegiatan keagamaan dan sosial ini akan digelar pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di Pasraman Gana Mandala, Mengwi, Badung, Bali.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Yapura (Yayasan Pacung Bhumi Nusantara) yang dibentuk oleh PATSAS (Pesemetonan Agung Shri Arya Sentong) bersama Yayasan Pos Banjar. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya memberikan manfaat sosial bagi masyarakat, tetapi juga menjaga keberlangsungan adat, tradisi, dan nilai spiritual Bali.
Menjaga Tradisi, Menguatkan Generasi
Dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali, upacara Manusa Yadnya memiliki makna penting sebagai bagian dari penghormatan terhadap perjalanan kehidupan manusia. Salah satunya adalah Pengeruwatan Sapuh Leger dan Melik Ceciren, yang berkaitan dengan anak-anak yang lahir pada Wuku Wayang.
Prosesi tersebut menjadi momentum penyucian secara sekala dan niskala sekaligus memohon keselamatan, kesehatan, perlindungan, serta kelancaran dalam menjalani kehidupan.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, kegiatan ini juga membawa pesan tentang pentingnya membangun generasi yang memiliki karakter positif. Anak-anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang sujana, berbudi pekerti, berbakti kepada orang tua dan keluarga, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi generasi penerus untuk memberikan kontribusi positif bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Ketika Tradisi Bertemu Kepedulian Sosial
Kehadiran Yapura, PATSAS, dan Yayasan Pos Banjar menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.
Tradisi tidak hanya ditempatkan sebagai warisan leluhur yang harus dijalankan, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat terus dihidupkan dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Semangat ngayah menjadi salah satu landasan dalam kegiatan ini. Ngayah bukan sekadar bekerja bersama, tetapi juga merupakan bentuk pengabdian dengan memberikan tenaga, pikiran, waktu, dan perhatian secara tulus demi kepentingan bersama.
Sementara itu, semangat “Ngamargi Dana” menjadi pengingat akan pentingnya berbagi dan memberikan manfaat kepada sesama.
Melalui kegiatan tersebut, nilai gotong royong dan kepedulian sosial diharapkan semakin tumbuh, sekaligus menjadi ruang untuk mendekatkan generasi muda dengan tradisi dan budaya Bali.
Empat Pesan dalam Satu Gerakan
Tagline “Melangkah Suci, Menyuci Geni, Ngayah Utama, Ngamargi Dana” menjadi rangkaian pesan yang menggambarkan nilai utama kegiatan.
“Melangkah Suci” menjadi simbol perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik. “Menyuci Geni” dimaknai sebagai simbol penyucian dan pembersihan diri. Sementara “Ngayah Utama” menggambarkan pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan, dan “Ngamargi Dana” membawa semangat untuk berbagi serta memberikan manfaat kepada sesama.
Pesan-pesan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelaksanaan upacara tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi juga membawa nilai pendidikan karakter, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Warisan Leluhur untuk Generasi Berikutnya
Pelaksanaan Pengeruwatan Sapuh Leger dan Melik Ceciren diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa tradisi dan budaya merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Bali.
Melalui upacara, pengetahuan, nilai, dan filosofi kehidupan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal tradisi sebagai sebuah prosesi, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Bagi keluarga, doa yang dipanjatkan dalam rangkaian upacara juga menjadi simbol kasih sayang dan harapan agar anak-anak dapat tumbuh dalam keselamatan, kesehatan, serta kebaikan.
Kolaborasi Yapura, PATSAS, dan Yayasan Pos Banjar ini pada akhirnya diharapkan menjadi momentum untuk membersihkan diri, menguatkan doa, menjaga tradisi, sekaligus berbagi kebaikan.
Sebab, ketika tradisi terus dihidupkan bersama kepedulian, warisan leluhur tidak hanya tetap lestari, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai untuk membangun masyarakat yang harmonis dan generasi yang berkarakter.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com