Lomba Ngelawar Entog Meriahkan TLF VI-2019 - Dewata News

Breaking News

Home Top Ad

Gold Ads (1170 x 250)

7/5/19

Lomba Ngelawar Entog Meriahkan TLF VI-2019


Buleleng, Dewata News. Com - Tradisi ngelawar atau membuat lawar oleh sekelompok masyarakat merupakan tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari daerah Bali. Selain Babi, Entog atau yang lazim disebut kuwir di daerah Bali bisa dijadikan salah satu bahan utama dari lawar. Olahan entog sendiri biasa disajikan dengan jukut ares atau sayur khas Bali yang terbuat dari batang pohon pisang.

Puluhan orang yang berasal dari sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng terlihat sibuk mengolah daging entog pada Lomba Ngelawar serangkaian Twin Lake Festival (TLF) Buyan – Tamblingan VI tahun 2019 yang diselenggarakan di Wantilan Danau Buyan, Desa Pakraman Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kamis (04/07). Peserta merupakan masyarakat desa adat perwakilan masing-masing kecamatan.

Kembali ke daging entog. Daging entog merupakan bahan utama dari lawar yang sangat tricky. Dalam artian, daging entog akan berbau amis jika diolah dengan cara yang salah. Begitu pula sebaliknya. Jika seseorang mengolahnya dengan baik dan benar, olahan daging entog akan menjadi sajian yang sangat nikmat. Dipadukan dengan jukut ares yang terbuat dari batang pohon pisang. 

“Tidak semua orang bisa mengolah daging entog. Jika salah, bisa-bisa bau amisnya masih tersisa,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Komang, M.Si di sela-sela Lomba Ngelawar Kuwir ini.

Memang, daging entog ini memiliki citarasa yang sangat tinggi jika yang mengolah mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai daging entog. Entog sendiri jika dilepas liarkan bisa membuat orang jijik jika melihatnya. Ini dikarenakan entog memiliki lingkungan yang sangat kotor sehingga dagingnya berbau amis.

Lomba ngelawar serangkaian TLF kali ini diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng. Berbeda dengan tahun sebelumnya, bahan utamanya diseragamkan yaitu daging entog. Hal tersebut dilakukan agar tidak sulit menentukan juara karena bahan utamanya berbeda. “Kita seragamkan bahan utamanya yaitu daging entog atau kuwir,” tutup Gede Komang.

Tradisi-tradisi yang ada di Kabupaten Buleleng termasuk tradisi ngelawar ini akan terus dan selalu dilestarikan. Untuk terjaganya kelestarian tradisi-tradisi tersebut, pihak Dinas Kebudayaan secara simultan terus melakukan pembinaan karena pembinaan tradisi kebudayaan tidak bisa dilakukan sekali atau dua kali melainkan secara terus menerus. (DN ~ TiR).—

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com