Buleleng Suguhkan Tari Pindekan Untuk Jokowi Pada Pawai PKB Ke-41 - Dewata News

Breaking News

Home Top Ad

Gold Ads (1170 x 350)

6/16/19

Buleleng Suguhkan Tari Pindekan Untuk Jokowi Pada Pawai PKB Ke-41


Denpasar, Dewata News. Com — Sebagai implementasi dari tema "Bayu Pramana", Kabupaten Buleleng tampilkan Tari Pindekan pada Pawai Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 Tahun 2019, yang dilepas langsung oleh Presiden Jokowi, di Denpasar,  Sabtu (15/06).

Tari Pindekan sendiri merupakan garapan dari siswa-siswi SMA Bali Mandara. Tari ini dibawakan oleh lebih dari 120 orang penari. Sesuai namanya, dalam penampilan tari tersebut, para penari masing- masing membawa Pindekan atau baling-baling yang terbuat dari sebatang bambu, lengkap dengan hiasan janur dan plawa atau daun-daunan.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Kab.Buleleng Gede Komang, dipilihnya Tari Pindekan ini merupakan wujud implementasi dari makna yang diangkat dalam PKB ke 41 tahun ini, yaitu 'Bayu Pramana', yang memiliki makna 'Memuliakan Sumber Daya Angin'.

”Pindekan sendiri maknanya perputaran jagat, perputaran dunia. Dunia ini berputar tanpa henti pada porosnya, sehingga muncullah kehidupan", ungkapnya.

Pembina dan Penari Tari Wayang Wong Tejakula ini juga memaknai Pindekan sebagai lambang dari Cakra. Perputaran itupun dimaknai sebagai seluruh dinamika yang ada dalam kehidupan di alam raya ini.

Selain menampilkan Tari Pindekan, di hadapan Presiden Jokowi dan Gubernur Bali Wayan Koster, Buleleng kembali menyuguhkan Tari Megoak-goakan, sebagai tari permainan khas Buleleng dalam Pawai Pembukaan PKB tahun ini. Tarian yang terinspirasi dari Pasukan Goak yang dibentuk oleh Raja Ki Barak Panji Sakti inipun dibawakan oleh siswa-siswi SMA Bali Mandara.

Dalam bidang seni tetabuhan, pada pawai yang digelar di depan Monumen Bajra Sandhi itu, Buleleng menampilkan Tabuh Kembang Kirang dari Desa Sangsit, Kec.Sawan,  Kembang Kirang sendiri merupakan tabuh sakral yang berasal dari Desa Sangsit. Seperti namanya, Kembang Kirang ini ditabuhkan dari gamelan gong sakral yang jumlahnya kurang (tidak lengkap seperti seperangkat gong pada umumnya).

”Kembang Kirang ini kan termasuk karawitan yang sudah langka", jelas Gede Komang.

Selain seni Tabuh dan Tari, pada barisan awal pawai, Buleleng memamerkan pakaian adat khas Desa Sembiran, Kec.Tejakula. Pakaian adat asal desa kelahiran Gubernur Koster ini merupakan salah satu pakain Bali Kuna (zaman dulu).

Jumlah penari sebanyak 252 orang, ditambah sekaa gong dari Sangsit itu 43 orang. Sehingga total peserta pawai dari Buleleng hampir 300 orang, seperti dijelaskan Kadisbud Buleleng Gede Komang. (DN ~ TiR).—

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com