Di Era Milenial, Monumen Yuda Mandala Tama "Terang" Sinar Bulan Purnama - Dewata News

Breaking News

Home Top Ad

Gold Ads (1170 x 350)

4/20/19

Di Era Milenial, Monumen Yuda Mandala Tama "Terang" Sinar Bulan Purnama


MEMPRIHATINKAN memang. Lambang perjuangan Laskar Rakyat Buleleng saat melawan penjajah Belanda di pesisir Utara Pulau Dewata, Buleleng itu dalam kegelapan. "Gelap karena aliran listrik mati? Terang karena sinar bulan Purnama".

Miris di era milenial, di alam digitalisasi sekarang ini monumental perjuangan di eks Pelabuhan Buleleng itu tanpa penerangan listrik. Ketika dewatanews.com tengah malam, tepat bulan penuh di atas kepala pada Purnama Jhista "ngelawang" dan sempat "menikung" ke pelataran eks Pelabuhan Buleleng, ternyata seputaran Monumen Yuda Mandala Tama gelap. Tidak ada satu titik lampu yang pernah menerangi pelataran yang menyala. Kecuali satu titik lampu yang ada, depan monumen menerangi jalan.

Dampaknya? Dari pelataran monumen, baik ke arah timur hingga arah barat sampai timur Pura Segara Buleleng gelap. "Gelap karena aliran listrik putus? Terang atas kilatan petir di tengah bulan mati".

Ketika berupaya konfirmasi kepada UPTD Pengelola Obyek Daya Tarik Wisata eks Pelabuhan Buleleng, Sabtu (20/04) pagi, kantor lagi tutup.

Seperti diketahui, bahwa didirikannya monumen, berupa orang yang bertelanjang dada dengan tangan menunjuk ke arah laut dengan pandangan yang berlawanan ini adalah untuk mengenang perjuangan rakyat Buleleng saat melawan tentara NICA serta pertanda, bahwa disanalah Sang Saka Merah Putih berkibar untuk pertama kalinya.

Tugu perjuangan laskar rakyat Buleleng yang berdiri tegak di eks Pelabuhan Buleleng ini dibangun tahun 1987 pada era kepemimpinan Bupati Nyoman Tastera, yang diberina nama Monumen "Yuda Mandala Tama".

Makna dari nama Yudha Mandala Tama ini adalah tempat perang yang utama, karena ditempat inilah perang yang utama terjadi.

"Kemudian dibuatlah sebuah tugu berupa laskar rakyat yang menggunakan ‘'kancut'’ dan tidak menggunakan baju dengan tangan menunjuk kearah laut dengan pandangan yang menghadap kearah yang berlawanan. Bermakna dia ingin memberitahukan kepada kawan-kawan lainnya yang berada di darat, bahwa ada kapal Belanda yang akan melabuh.”

Kisah heroik perjuangan rakyat Buleleng saat menurunkan bendera Belanda, dengan mengganti bendera merah putih setelah bendera warna biru dirobek mengakibatkan gugurnya seorang pemuda pejuang, Ketut Merta dari Liligundi, Singaraja. Ia ditemukan terkapar berlumuran darah  di dekat tiang bendera oleh Kapten Muka dan Anang Ramli, yang sebelumnya sudah terlatih sebagai tentara PETA (Pembela Tanah Air).

Patung orang bertelanjang dada yang hanya mengenakan kain kancut itu di-design oleh putra Baleagung, bertetangga dengan Liligundi, yakni perupa Made Hardika yang mengambil sosok tubuh rekannya, yakni Metra yang kini sudah almarhum.

Pengunjung yang ingin menikmati suasana indahnya pantai Pelabuhan Buleleng tentu akan datang saat pagi hari atau sore hari. 

Lokasi ini menjadi suasana yang sangat risih untuk dikunjungi, karena dermaga kayu yang digunakan tempat bersandar kapal sejenis sekoci atau motorboot   dipoles jadi warung. Karena setelah dermaga kayu tersentuh proyek renovasi dibentuk untuk petak petak warung. Bagi pengunjung yang ingin menapakkan langkah kaki ke dermaga risih jika tidak berbelanja.

Sirna sudah nilai historis dermaga kayu  yang dibangun di era kekuasaan penjajah Belanda sebagai pelabuhan samudra pertama di Bali. Pelabuhan Buleleng merupakan pelabuhan ekspor, dan Dewata news.com sempat melihat proses kegiatan ekspor ternak sapi ke Hongkong. Tidak sedikit warga dari Desa Banjar Tegal saat itu jadi tenaga cleder mengantar ternak sapi itu di ekspor.

Terkait gelap di malam hari hingga sisi barat dari pelataran monumen Yuda Mandala Tama memberi peluang pasangan generasi milenial menghiasi hampir setiap tempat terlihat bercumbu tanpa punya rasa malu.

Selain dimanfaatkan minum miras, seperti halnya di sudut keremangan Taman Kota kelompok anak muda minum minuman beralkohol. Miris, dua remaja putri sudah lewat tengah malam membeli air mineral di kawasan warung sisi Utara Taman Kota yang sudah pada tutup. Ada satu warung saat ditinggal pemilik pulang dengan permintaan mau beli air mineral, sang pemilik buka gembok pintu mengambilkan satu botol air mineral.

Ketika ditanya, remaja putri dengan celana pendek jeans hingga pangkal pahanya itu mengaku dari Sambangan. "Pengakuan remaja belasan tahun itu, mungkin kost di rumah kost wilayah Sambangan", ujar rekan di sebelah.

Sebagai tempat rekreasi warga kota, baik siang maupun malam hari, dituntut kepedulian Pemkab Buleleng melalui UPT Pengelola Obyek Daya Tarik Wisata eks Pelabuhan Buleleng untuk membuat ”Terang Cita-Cita” didirikannya Monumen Yuda Mandala Tama. Sebab, dengan suasana gelap di malam hari, khususnya di pelataran monumen dan sekitarnya, hingga sisi timur, tembok Pura Segara Buleleng membuat peluang segala kemungkinan terjadi.

Salah satu peninggalan sejarah perjuangan laskar rakyat Buleleng saat melawan Belanda di Pelabuhan, adalah jembatan Putih melengkung yang hingga kini masih tetap kokoh dan tidak difungsikan.  ~ Made Tirthayasa -

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com