Gede Artawan: Singaraja Layak sebagai Kota Sastra - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

11/18/15

Gede Artawan: Singaraja Layak sebagai Kota Sastra

 Salah satu geliat Dermaga Seni Buleleng Semarakkan HUT Kota Singaraja, 30 Maret 2015

Buleleng, Dewata News.com — Koordinator DSB, Gede Artawan mengatakan, ternyata pada akhirnya terbukti bahwa sastra modern tidak dimarginalkan, karena pegiat sastra dengan komunitas sastra yang ada di Buleleng, termasuk teman-teman dari Denpasar punya komitmen untuk tetap mengalir – berkarya. 

       ”Kami bersyukur DSB selama 18 tahun masih tetap eksis diikuti komunitas sastra lainnya menjaga tungku apresiasi sastra yang terus mengalir ditengah masyarakat. Itu sebagai bukti, bahwa sastra di Bali Utara tetap berdenyut,” ungkap Artawan di Singaraja

      Malah dalam sebuah diskusi, lanjut Doktor Sastra Undiksha ini, Ngurah Parsua mencanangkan Singaraja tidak saja sebagai Kota Pendidikan, juga Kota Sastra. Kenapa? Gede Artawan memaparkan, selama ini Singaraja dijadikan sebagai barometer denyut sastra modern.

   ”Singaraja melahirkan seniman sastra Panji Tisna, disusul Putu Wijaya yang mengaku Singaraja sebagai kota ke dua setelah Tabanan,di samping Kirjomulyo dan lainnya. Karena itu, sudah layak Singaraja menuju Kota Sastra, entah kapan tapi pegiat sastra modern terus mengalirkan karya-karyanya,” tegas Artawan.

Buleleng sebagai kabupaten ujung Utara pulau Dewata, lanjut Artawan, juga mempunyai ”manusia perkasa” Ngurah Pasua sebagai seniman legendaris kelahiran Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula. Sementara dari kawasan barat, Ngurah Adnyana penjaga gawang Pengastulan, Kecamatan Seririt, bersama Nyoman Nada Sariada yang sudah jadi ”sulinggih”.

Sedangkan dari lereng selatan Buleleng di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada melahirkan Ketut Syahruwardi Abbas, di samping seniman dan budayawan serba bisa Gede Dharna almarhum. Di pusat Kota dengan Singa Buldog, Agung Brawida sebagai salah satu pewaris I Gusti Panji Tisna.

Begitu juga dramawan dan penulis Putu Satria Kusuma dari Kampung Seni Banyuning dan penulis underdog Cantiryas Boy di tahun 1960-an yang menghuni Sanggar Sastra Puri Tirta, yakni Made Tirthayasa pada periode 2015 ke depan menggawangi Seksi Sastra Modern Listibya Kabupaten Buleleng, bersama penulis wanita yang terus menggeliat, Kadek Sonia Piscayanti dengan Komunitas Mahima di Pantai Indah.

   Belum lagi denyut teater Seribu Jendela Undiksha Singaraja, serta komunitas seni lainnya yang terus mengapresiasi dunia seni yang terus berdinamika. Sehingga mendukung menjadikan Singaraja tidak saja sebagai Kota Pendidikan, juga Kota Sastra. Puisi dan teater adalah denia seni yang yang begitu kaya dan tanpa batas. (DN ~ TiR).—

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com