Menerawang Keduniawian dari Pura Pulaki - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

10/26/15

Menerawang Keduniawian dari Pura Pulaki


Buleleng, Dewata News.com Purnama sasih Kelima jatuh pada hari Selasa, tanggal 27 Oktober 2015, namun kehadiran umat yang melakukan sembahyang tak pernah sepi yang mempunyai puncak upacara Piodalan pada Purnama sasih Kapat. Itulah Pura Agung Pulaki beserta catur pesanakannya yang lumayan mudah untuk dijangkau karena lokasinya yang strategis, yakni terletak di Jalan Singaraja-Gilimanuk.

      Seperti halnya pantauan di hari Minggu, tanggal 25 Oktober 2015 siang, umat Hindu yang melakukan sembahyang tidak saja dari wilayah Bali Utara, tetapi juga hampir dari berbagai kabupaten-kota di Bali. Pura Pulaki disebut juga dengan Pura Petirtan didominasi dengan ornamen batu yang berwarna hitam, selain juga memiliki jaba tengah. Pura ini menempel di kaki perbukitan sehingga membawa suasana yang begitu menakjubkan. Juga pura ini dekat sekali dengan laut dan jika bekunjung maka otomatis deburan ombak pantai akan dengan jelas terdengar.

Banten Pejati
     Minggu (25/10) pukul 11.00 Wita siang, penulis bersama keluarga dan saudara tua didampingi Jro Subur meluncur ke Pura Agung Pulaki untuk melakukan sembahyang dengan acara khusus dan lebih spesifik ”nangkilang duwen Bhatara Lingsir”.

     Niat tulus untuk melaksanakan sembahyang mengiringi Banten Pejati dan Banten Tipat Kelanan dihadapan pelinggih Batara Lingsir tersandung monyet-monyet yang berkeliaran di lingkungan Pura Pulaki ini. Niat tulus agar bisa duduk bersila dihadapan pelinggih Batara Lingsir itu akhirnya sirna, sehingga bergabung dengan umat lainnya.

     Keseluruhan haturan kecuali Canang dan Kewangen sebagai sarana untuk melakukan sembahyang dimasukkan ke dalam tempat yang dikurung dengan kawat, sehingga mampu terhindar dari jamahan monyet-monyet yang berkeliaran.

    Tidak perlu terganggu dengan kehadiran monyet-monyet itu karena memang rumahnya disana. Selama ngaturang sembah yang dipimpin seorang Pemangku, para Pemangku Penyade, termasuk beberapa anak-anak yang membawa sepotong kayu menjaga kita dari gangguan monyet-monyet itu.

    Untuk tangkil sembahyang ke Pura Pulaki, hendaknya anak-anak jangan diijinkan untuk membawa makanan di tangan mereka, karena akan menjadi jarahan dari sang monyet. Bebaskanlah tangan mereka dari makanan-makanan kecil yang dibawa. Demikian juga setelah selesai melakukan persembahyangan jangan membagi-bagikan prasadam atau surudan dari Banten Pejati karena semua akan datang terkecuali kita ingin mengiklaskan semua prasadam itu untuk sang monyet.

Lokasi
    Pura Agung Pulaki adalah salah satu pura di Bali yang memiliki aura religius dipadukan dengan keindahan alam yang menakjubkan. Lokasinya sangat menarik karena berada di atas tebing berbatu yang menghadap langsung ke laut dengan latar belakang bukit berbatu terjal. Pura suci ini terletak di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali.

    Pura Pulaki menjadi tempat persembahyangan umat Hindu Bali dan lingkungan Pura Pulaki itu sesungguhnya merupakan satu kompleks yang terdiri dari lingkungan Pura Agung Pulaki dengan beberapa “Pesanakannya” yaitu lingkungan Pura Melanting, lingkungan Pura Kertha Kawat, lingkungan Pura Pabean dan lingkungan Pura Pemuteran. Karena niat awal hanya sembahyang di Pura Pulaki, sehingga tidak melakukan sembahyang di beberapa ”Pesanakannya”, seperti beberapa waktu lalu ketika melaksanakan aturan Banten Penerus Bakti dari sang “Lina” usai upacara ngaben. (DN ~ TiR).—

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com