Koster: Pariwisata Jadi Penopang Utama Ekonomi Bali, Kontribusinya Capai 66 Persen - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

10/23/26

Koster: Pariwisata Jadi Penopang Utama Ekonomi Bali, Kontribusinya Capai 66 Persen


Denpasar, dewatanews.com – Sektor pariwisata masih menjadi tulang punggung perekonomian Bali dengan kontribusi mencapai sekitar 66 persen pada 2025. Karena itu, perkembangan kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik menjadi indikator penting untuk mengukur kondisi sekaligus pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan hal tersebut saat menghadiri Temu Wirasa Stakeholders 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Jumat (23/10).

“Secara umum, melihat ekonomi Bali bagus atau tidak itu sederhana, dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali, baik wisatawan asing maupun domestik, apakah naik atau turun,” ujar Koster.

Menurutnya, pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor kehidupan ekonomi masyarakat, mulai dari perhotelan, vila, restoran, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), transportasi, hingga pertanian dan penyediaan pangan.

Dengan keterkaitan tersebut, peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya menguntungkan pelaku usaha pariwisata, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat di berbagai wilayah Bali.

Koster mengungkapkan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025 mencapai sekitar 7,05 juta kunjungan. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pariwisata Bali, bahkan melampaui angka kunjungan sebelum pandemi COVID-19 pada 2019.

Sementara itu, perkembangan kunjungan wisatawan mancanegara hingga akhir September 2026 menunjukkan tren positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski sempat mengalami penurunan pada Februari hingga April akibat dinamika geopolitik global, kunjungan wisman kembali pulih dan menunjukkan peningkatan.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, perekonomian Bali pada 2025 tumbuh sebesar 5,82 persen. Koster menilai capaian ini menunjukkan pentingnya pariwisata sebagai penggerak ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan lintas sektor dan wilayah.

“Bedanya ekonomi berbasis sumber daya alam dengan ekonomi pariwisata sangat jauh. Kalau ekonomi berbasis sumber daya alam, seperti tambang, minyak, gas, dan emas, hanya terkonsentrasi di satu tempat. Namun, kalau ekonomi berbasis pariwisata, dampaknya menyebar ke seluruh kabupaten/kota di Bali,” jelasnya.

Ia mencontohkan, meskipun aktivitas pariwisata lebih terkonsentrasi di Denpasar, Badung, dan Gianyar, kebutuhan terhadap produk pertanian, bahan pangan, kerajinan, transportasi, serta jasa pendukung turut menggerakkan perekonomian kabupaten/kota lainnya.

Dampak tersebut, lanjut Koster, juga tercermin dalam sejumlah indikator sosial. Tingkat kemiskinan Bali tercatat sebesar 3,42 persen, tingkat pengangguran terbuka 1,45 persen, dan rasio Gini sebesar 0,333.

Berdasarkan perkembangan pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat, Koster optimistis pertumbuhan ekonomi Bali pada 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

“Jadi, kalau dibandingkan pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2026 dengan tahun 2025, pasti jauh lebih bagus,” tegasnya.

Harga Tiket Pesawat Jadi Tantangan

Meski optimistis, Koster mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi, terutama penurunan kunjungan wisatawan domestik yang antara lain dipengaruhi kenaikan harga tiket pesawat dalam negeri.

Menurutnya, wisatawan domestik memiliki peran penting dalam menjaga pergerakan sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi Bali. Karena itu, keberlanjutan pariwisata harus menjadi perhatian bersama.

“Sekarang, pariwisata menjadi tumpuan ekonomi Bali. Artinya, hidup kita di Bali bergantung pada pariwisata. Kalau ini terganggu, dampaknya tidak hanya ke ekonomi, tetapi juga ke bidang sosial dan lain sebagainya,” ungkapnya.

BI Proyeksikan Ekonomi Bali Tumbuh hingga 5,9 Persen

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menekankan pentingnya ketersediaan data dan informasi yang akurat dari para pemangku kepentingan untuk memahami perkembangan ekonomi daerah sekaligus mendukung perumusan kebijakan yang tepat.

Menurut Achris, informasi dari responden survei Bank Indonesia menjadi sinyal awal untuk mengidentifikasi perkembangan dunia usaha, perilaku konsumen, dan pergerakan harga sebelum data makroekonomi resmi dirilis.

Informasi tersebut juga menjadi bahan dalam penyusunan proyeksi pertumbuhan ekonomi, inflasi, serta rekomendasi kebijakan.

Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Bali pada 2026 tetap tumbuh positif pada kisaran 5,4–5,9 persen. Sementara itu, inflasi diharapkan tetap terkendali dalam sasaran 2,5 persen ± 1 persen.

Temu Wirasa Stakeholders 2026 mengusung tema “Data Pramana, Bali Rahayu: Bersinergi Mendorong Pertumbuhan Bali yang Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”. Kegiatan ini menjadi wadah penguatan sinergi antara Bank Indonesia, responden survei, dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas serta ketersediaan data ekonomi daerah.

Melalui kolaborasi dan pertukaran informasi yang berkelanjutan, Bank Indonesia berharap kebijakan ekonomi dapat disusun secara lebih akurat dan berbasis data, sehingga mampu memperkuat ketahanan ekonomi Bali di tengah dinamika global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com