Jembrana, dewatanews.com — Ratusan tukik kembali dilepasliarkan ke habitat alaminya dalam peringatan Tumpek Uye (Tumpek Kandang) di Kabupaten Jembrana. Sebanyak 200 ekor tukik penyu lekang dilepas ke laut dari kawasan Konservasi Penyu Kurma Asih, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Sabtu (5/9).
Aksi pelestarian satwa tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga keberlangsungan satwa liar sekaligus kelestarian ekosistem pesisir.
Pelepasliaran tukik diikuti langsung Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Wakil Bupati I Gede Ngurah Patriana Krisna, serta Ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutharmi. Hadir pula perwakilan Forkopimda, jajaran pejabat Pemkab Jembrana, serta masyarakat pemerhati penyu.
Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan mengatakan, pelepasliaran tukik merupakan bentuk nyata pemaknaan Tumpek Uye melalui kepedulian terhadap satwa dan lingkungan.
“Hari ini kita melaksanakan pelepasan tukik memperingati Hari Tumpek Kandang. Jadi ini sebagai upaya kita merawat hewan, menjaga kehidupan, dan menjaga keseimbangan alam kita. Kalau kita menyayangi alam, maka alam pun akan menyayangi kita,” ujar Bupati Kembang.
Ketua Kelompok Konservasi Penyu Kurma Asih, I Wayan Anom Astika, menjelaskan bahwa seluruh tukik yang dilepas merupakan jenis penyu lekang yang baru menetas.
“Ada 200 ekor dan itu semua jenisnya penyu lekang. Itu yang menetas tadi pagi dan baru kemarin,” jelas Anom.
Menurutnya, upaya konservasi di Kurma Asih mengedepankan prinsip pelestarian tanpa eksploitasi. Satwa liar, kata dia, harus tetap diberikan ruang untuk menjalani siklus hidupnya secara alami.
“Kurma Asih melakukan konservasi. Tidak ada eksploitasi. Perlakuannya tidak merasa disiksa, dia tidak boleh ditahan. Soalnya secara nalurinya dia kan satwa liar,” tegasnya.
Peringatan Tumpek Uye di Jembrana ini diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu memperkuat kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga satwa liar dan ekosistem pesisir.
Melalui pelepasliaran tersebut, ratusan tukik diharapkan dapat tumbuh dan kembali ke alam, sekaligus menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut Jembrana.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com