Kolaborasi Lintas Negara Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

9/9/26

Kolaborasi Lintas Negara Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal


Denpasar, dewatanews.com — Ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan pertumbuhan populasi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Kearifan lokal dan kreativitas generasi muda dinilai menjadi dua kekuatan penting yang perlu dipadukan untuk melahirkan solusi pangan yang adaptif dan berkelanjutan.

Semangat tersebut menjadi fokus kolaborasi akademis lintas negara melalui program Student Mobility bertajuk “Local Wisdom and Youth Innovation: Building Sustainable Food Security” yang resmi dibuka di Denpasar, Bali, Rabu (9/9).

Program ini mempertemukan akademisi dan mahasiswa dari sejumlah institusi, yakni Ehime University Jepang, Universitas Markandeya, Institut Kesehatan Bali, serta Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Dekan FPST Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si. Ia menegaskan, Student Mobility tidak boleh berhenti sebagai kegiatan pertukaran akademik maupun transfer pengetahuan secara teoritis.

“Program Student Mobility bukan sekadar ajang pertukaran akademik, melainkan juga jembatan persahabatan, kolaborasi ilmiah, dan transfer pengetahuan yang saling menguatkan,” ujar Prof. Suriati.

Menurutnya, peserta perlu mendapatkan pengalaman langsung dengan melihat persoalan di lapangan, memahami konteks budaya masyarakat, sekaligus mencari solusi inovatif yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan lokal.

Prof. Suriati mengatakan, persoalan ketahanan pangan global semakin kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknologi tunggal.

Kearifan lokal, kata dia, menyimpan pengetahuan yang telah berkembang dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan selama bertahun-tahun. Pengetahuan mengenai tata kelola lahan tradisional, pengolahan pangan, hingga praktik masyarakat dalam menjaga sumber daya menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Di sisi lain, keterlibatan Ehime University dari Jepang diharapkan memperkuat kolaborasi melalui budaya riset berbasis data dan pemanfaatan teknologi pengolahan pangan modern.

“Ketahanan pangan tidak dapat hanya didekati melalui teknologi semata, melainkan harus dipadukan dengan kearifan lokal dan inovasi kaum muda,” tegasnya.

Ia menilai generasi muda memiliki peran strategis karena membawa kreativitas, literasi digital, serta kemampuan untuk mengembangkan pendekatan baru yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut juga diperkuat dengan keterlibatan Institut Kesehatan Bali dan Universitas Markandeya. Keduanya diharapkan memberikan perspektif yang lebih luas, khususnya terkait kesehatan masyarakat, gizi, keamanan pangan, serta pendekatan berbasis komunitas.

Mahasiswa Ditantang Hasilkan Solusi Nyata

Agar kolaborasi internasional tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, Prof. Suriati mendorong mahasiswa untuk turun langsung mengidentifikasi persoalan pangan di lapangan.

Para peserta diminta berdiskusi lintas disiplin dan lintas negara untuk menghasilkan gagasan yang aplikatif. Bentuknya dapat berupa model pengolahan hasil panen berbasis nilai lokal, edukasi gizi masyarakat, hingga penerapan teknologi tepat guna. Prof. Suriati juga menekankan pentingnya tindak lanjut setelah program berakhir.

“Saya meminta agar luaran dari kegiatan ini tidak berhenti sebatas laporan administratif semata. Harus ada rencana tindak lanjut, mulai dari publikasi bersama, penyusunan proposal kolaboratif, pengabdian masyarakat, hingga penerjemahan gagasan menjadi program skala kecil yang dapat diuji coba dan dievaluasi,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi antarperguruan tinggi yang dibangun melalui Student Mobility harus berkembang menjadi kemitraan yang nyata dan berkelanjutan.

Mengakhiri sambutannya, Prof. Suriati menegaskan bahwa kearifan lokal dan modernisasi tidak harus dipertentangkan.

“Kearifan lokal tidak berarti menolak modernitas, melainkan menjadi landasannya. Inovasi kaum muda bukan hanya tentang gagasan yang menarik, melainkan harus berdampak nyata,” pungkasnya.

Ia berharap perpaduan antara pengetahuan lokal, teknologi, riset, dan kreativitas generasi muda dapat melahirkan strategi ketahanan pangan yang lebih adaptif, diterima masyarakat, serta mampu menjawab tantangan pangan dalam jangka panjang.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com