Badung Peduli Luncurkan SIGAP EMAS di Lapas Perempuan Kerobokan, Fokus Lindungi Tumbuh Kembang Anak WBP - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

9/3/26

Badung Peduli Luncurkan SIGAP EMAS di Lapas Perempuan Kerobokan, Fokus Lindungi Tumbuh Kembang Anak WBP


Badung, dewatanews.com – Pemerintah Kabupaten Badung melalui gerakan Badung Peduli meluncurkan program SIGAP EMAS (Sinergi Pendampingan Tumbuh Kembang Anak Bawaan Warga Binaan pada Periode Emas) di Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan, Kamis (3/9). Program ini menjadi langkah nyata Pemkab Badung dalam memastikan anak-anak yang harus tinggal bersama ibunya di lingkungan pemasyarakatan tetap mendapatkan hak kesehatan, pendampingan psikologis, serta dukungan tumbuh kembang secara optimal.

Peluncuran SIGAP EMAS dirangkaikan dengan Safari Kesehatan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan. Kegiatan tersebut dihadiri langsung Bunda PAUD Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, sekaligus ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai awal pelaksanaan program.

Program SIGAP EMAS dirancang secara khusus untuk memberikan pendampingan terhadap anak-anak bawaan warga binaan, terutama pada periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak. Sinergi tersebut melibatkan Pemkab Badung, Lapas Perempuan Kerobokan, perangkat daerah terkait, serta akademisi Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Turut hadir Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Bali, Andi Wijaya Rivai, beserta jajaran. Hadir pula Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Perikanan, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Badung, perwakilan Disdikpora Badung, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan Ni Luh Putu Andiyani beserta jajaran, akademisi Psikologi FK Unud, serta perwakilan Gerakan Badung Peduli.

Dalam sambutannya, Rasniathi menekankan pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis dan pemenuhan hak anak yang terpaksa tinggal bersama ibunya di dalam lapas.

Menurutnya, anak-anak tersebut tidak pernah memilih kondisi yang mereka jalani. Karena itu, batas usia maksimal tiga tahun bagi anak bawaan warga binaan perlu diikuti dengan proses transisi yang humanis agar anak tidak mengalami kesulitan ketika harus berpisah dari ibunya.

“Anak-anak ini tidak pernah memilih untuk berada di sini. Karena keadaan, mereka terpaksa tinggal hingga batas usia tiga tahun. Kita harus memikirkan psikologis anak ketika nanti harus berpisah dengan ibunya,” ujar Rasniathi.

Ia juga mendorong adanya proses pengenalan terhadap lingkungan luar secara bertahap. Salah satunya melalui kegiatan berkala, seperti pada akhir pekan, dengan melibatkan keluarga maupun lingkungan di luar lapas.

Menurut Rasniathi, pendekatan tersebut penting untuk membantu anak beradaptasi sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi fase kehidupan berikutnya setelah tidak lagi tinggal bersama ibunya di lingkungan pemasyarakatan.

Selain perhatian terhadap anak, Rasniathi mengapresiasi berbagai program pembinaan kemandirian yang telah berjalan di Lapas Perempuan Kerobokan. Ia menilai produk olahan pangan, seperti keripik tempe, hingga berbagai kerajinan tangan hasil karya warga binaan memiliki kualitas yang baik dan berpotensi bersaing di pasar.

Ia pun menegaskan agar kerja sama melalui program SIGAP EMAS tidak berhenti pada seremoni penandatanganan PKS. Program tersebut harus dikawal melalui pemantauan dan evaluasi secara konsisten agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga binaan dan anak-anak mereka.

“Langkah kecil ini akan membawa manfaat besar bagi warga binaan dan tumbuh kembang anak-anak mereka,” tegasnya.

Melalui SIGAP EMAS, Pemkab Badung bersama perangkat daerah terkait, Lapas Perempuan Kerobokan dan akademisi Psikologi FK Unud berkomitmen menghadirkan pendampingan secara berkelanjutan.

Program tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan berkala, layanan Posyandu rutin, pendampingan psikologis anak, hingga pelatihan keterampilan kerja bagi warga binaan. Upaya ini diharapkan tidak hanya mendukung tumbuh kembang anak selama berada di lingkungan lapas, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali berinteraksi dan berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.

SIGAP EMAS pun diharapkan menjadi bentuk nyata kepedulian Pemkab Badung terhadap kelompok rentan, sekaligus memastikan bahwa keterbatasan lingkungan tidak menjadi penghalang bagi anak untuk mendapatkan hak tumbuh dan berkembang secara layak.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com