Tak Lagi Jual Biji Mentah, Petani Desa Pengejaran Mulai Olah Kopi Sangrai Mandiri - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

8/20/26

Tak Lagi Jual Biji Mentah, Petani Desa Pengejaran Mulai Olah Kopi Sangrai Mandiri


Bangli, dewatanews.com — Ketergantungan petani kopi pada penjualan biji mentah (green bean) bermarjin rendah mulai dikikis oleh warga Desa Pengejaran, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sumber Wana, kelompok tani setempat kini melangkah mandiri mengolah hasil panen mereka menjadi produk kopi sangrai dan kopi bubuk berkualitas premium.

Lompatan rantai produksi ini didukung oleh penyaluran serta pendampingan teknologi satu unit mesin penyangrai (roasting) kopi modern dari tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).

Ketua Tim PkM Undiksha, Prof. Dr. I Gede Astra Wesnawa, M.Si., mengungkapkan bahwa selama ini nilai tambah terbesar dari industri kopi justru dinikmati oleh pihak luar karena keterbatasan fasilitas pengolahan di tingkat petani.

"Selama ini petani kita hanya berhenti di tahap panen dan jemur lalu menjual biji mentah. Padahal lonjakan nilai ekonomi terbesar ada di proses roasting dan pengemasan. Kami ingin memutus rantai itu agar keuntungannya tinggal di desa dan dirasakan langsung oleh warga Pengejaran," kata Wesnawa di Desa Pengejaran, Bangli, Kamis (20/8/2026).

Mesin roasting berkapasitas 5 kilogram per proses tersebut dibekali instrumen pengontrol presisi, seperti thermo drum digital, thermo beans digital, speed control, serta sistem pendingin (cooling blower). Kehadiran teknologi ini memungkinkan petani mengatur tingkat kematangan biji kopi sesuai preferensi pasar.

Perbekel (Kepala Desa) Pengejaran, I Wayan Arta, menyebutkan bahwa ketersediaan mesin penyangrai mandiri menjadi momentum penting bagi kemandirian ekonomi desanya.

"Sebelumnya kami tidak punya pilihan selain melepas green bean dengan harga tengkulak atau pembeli besar. Sekarang, secara bertahap LPHD Sumber Wana bisa menyangrai sendiri dengan standar mutu yang terukur. Kami optimistis bisa membangun merek kopi khas Desa Pengejaran yang punya daya saing tinggi," tutur Arta.

Selain penyerahan fisik mesin, para pengurus LPHD Sumber Wana juga dibekali pelatihan teknis yang mencakup pengoperasian alat, manajemen suhu penyangraian, hingga perawatan rutin agar produksi dapat berjalan berkelanjutan.

Program hilirisasi ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan Tahun 2026. Inisiatif ini diproyeksikan menjadikan Desa Pengejaran tak sekadar sentra penghasil bahan baku, tetapi juga pusat olahan kopi mandiri di kawasan Kintamani.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com