Perubahan Iklim Ancam Ketahanan Pangan Global dan Kesejahteraan Petani - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

8/14/26

Perubahan Iklim Ancam Ketahanan Pangan Global dan Kesejahteraan Petani


Denpasar, dewatanews.com — Perubahan iklim yang makin tidak menentu kini tidak lagi sebatas isu lingkungan, melainkan telah menjadi ancaman nyata bagi stabilitas sistem pangan dunia dan kesejahteraan masyarakat tani. Anomali cuaca, kenaikan suhu bumi, hingga pergeseran pola curah hujan secara langsung memukul produktivitas sektor pertanian dan mengganggu mata pencaharian masyarakat di berbagai kawasan pedesaan serta pesisir.

Kondisi krusial tersebut ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Riset, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. dr. Dewa Ayu Putri Sri Masyeni, Sp.PD-KPT, saat membuka ajang bergengsi International Conference on Agricultural Innovation and Ecotourism Environment (CAITEC) 2026 di Sanur, Bali, Jumat (14/8).

Mengusung tema “Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Ecotourism Practices in the Issue of Climate Change”, konferensi internasional ini menjadi wadah lintas negara untuk merumuskan langkah konkret dalam menghadapi krisis pangan global.

“Ketahanan pangan bukan sekadar isu ketersediaan pasokan di pasar, melainkan mencakup keterjangkauan, aksesibilitas, pemenuhan gizi, hingga keberlanjutan sistem produksi itu sendiri. Sayangnya, kita menyaksikan sendiri bagaimana perubahan iklim merusak stabilitas pertanian melalui curah hujan yang tak menentu dan cuaca ekstrem yang terus menekan kesehatan tanah serta sumber daya air,” ujar Dewa Ayu Putri Sri Masyeni saat membacakan amanat pembukaan.

Menurut Masyeni, tekanan lingkungan yang kian berat berdampak langsung pada daya tahan ekosistem lokal dan keanekaragaman hayati. Oleh sebab itu, upaya membangun masa depan pangan tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional atau sekadar mengejar peningkatan produksi jangka pendek. Diperlukan pendekatan berbasis pemikiran sistem (systems thinking) dan perencanaan jangka panjang yang mampu melindungi manusia sekaligus melestarikan alam.

Salah satu jalan keluar strategis yang ditawarkan dalam forum ini adalah penguatan integrasi antara praktik pertanian berkelanjutan dan ekowisata berbasis masyarakat. Kedua sektor ini dinilai saling melengkapi dalam memperkuat daya tahan (resilience) kawasan pedesaan dan pesisir dari guncangan iklim.

Melalui praktik pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture), petani dapat meningkatkan produktivitas tanpa harus merusak tanah dan air. Di sisi lain, tata kelola ekowisata yang bertanggung jawab mampu menghadirkan alternatif pendapatan bagi warga desa, membangun kesadaran lingkungan, sekaligus menciptakan insentif ekonomi untuk menjaga kawasan hutan, daerah aliran sungai (DAS), serta habitat alami.

Masyeni menegaskan bahwa perguruan tinggi memegang peran vital dalam menjembatani riset ilmiah dengan praktik nyata di lapangan. Universitas Warmadewa berkomitmen memastikan hasil riset akademis tidak berhenti dalam bentuk dokumen jurnal atau di atas kertas belaka, tetapi ditransformasikan menjadi program pelatihan praktis, panduan kebijakan, serta aksi pemberdayaan masyarakat lokal.
“Inovasi hasil riset harus benar-benar sampai ke tangan masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan mereka,” tegasnya.

Forum ilmiah internasional CAITEC 2026 ini menghadirkan para pakar, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari tujuh negara, yakni Australia, Malaysia, Taiwan, Timor Leste, Jepang, Amerika Serikat, dan Indonesia.

Beberapa pakar dunia yang hadir memberikan pandangan akademis antara lain Prof. Takuya Sugahara (Ehime University, Jepang), Dr. Michael Van Keulen (Murdoch University, Australia), Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa (UNHI, Indonesia), Dr. Justinus Satrio (L'ile Roix International Hospitality, AS), Assoc. Prof. Ts. Dr. Aida Firdaus MN Azmi (Universiti Teknologi MARA, Malaysia), Dr. Ir. Brigida Antonia Correia (Universidade Nacional Timor Lorosa'e), serta Dr. Margo Sulistio (National Ilan University, Taiwan).

Pakar pertanian dari Fakultas Pertanian, Ehime University, Prof. Takuya Sugahara, Ph.D., mengungkapkan bahwa perubahan iklim dan pemanasan global kini mengancam keberlanjutan industri pertanian dunia, tak terkecuali budidaya buah jeruk. Menghadapi tantangan ini, riset pertanian modern mulai berfokus pada konsep ekonomi sirkular dan valorisasi limbah untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

"Berdasarkan proyeksi iklim, wilayah yang cocok untuk budidaya jeruk Unshu (Unshu mandarin) di Jepang diprediksi akan bergeser ke arah pedalaman, kawasan pesisir Laut Jepang, hingga wilayah selatan Tohoku pada rentang tahun 2046–2055," ujar Prof. Sugahara.  

Ia menambahkan bahwa seiring bergesernya area tanam baru, area pertanian lama justru berisiko mengalami lonjakan suhu ekstrem yang tidak lagi ideal bagi pertumbuhan tanaman jeruk.  

Selain ancaman iklim di hulu, sektor pascapanen dan pengolahan jeruk juga menyisakan persoalan lingkungan tersendiri, khususnya volume sampah kulit jeruk dari industri pemrosesan jus. Menurut Prof. Sugahara, kunci keberlanjutan sektor ini berada pada pemanfaatan limbah secara optimal (zero waste agriculture). 

"Pabrik pengolahan jus menghasilkan limbah kulit jeruk dalam jumlah yang sangat besar. Jika tidak dikelola, limbah ini hanya akan menjadi beban lingkungan. Padahal, kulit hingga daun jeruk mengandung berbagai senyawa bioaktif bernilai tinggi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia," jelas Prof. Sugahara.

Konferensi internasional ini diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa sebagai host utama. Dalam pelaksanaannya, Unwar menggalang kolaborasi erat dengan sejumlah perguruan tinggi mitra di Bali dan nasional sebagai co-host, meliputi Institut Teknologi dan Kesehatan Bali (ITEKES Bali), Universitas Dhyana Pura, Universitas Markandeya, Universitas Dwijendra, dan Universitas Pelita Bangsa.

Melalui kolaborasi antarnetwork akademis global dan lokal ini, CAITEC 2026 diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan, model pertanian adaptif, serta skema ekowisata etis yang dapat langsung diadopsi oleh masyarakat luas dalam merespons tantangan iklim global.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com