Gianyar, dewatanews.com — Ketahanan pangan saja dinilai tak lagi cukup. Desa perlu bergerak menuju kedaulatan pangan dengan memastikan petani dan masyarakat lokal memiliki kendali atas produksi, sumber daya, hingga distribusi pangan. Gagasan inilah yang menjadi salah satu fokus program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Warmadewa di Desa Tegallalang, Gianyar.
Program yang berlangsung sekitar satu setengah bulan itu ditutup pada Senin (31/8). Berbeda dari sekadar kegiatan seremonial, mahasiswa KKN membawa sejumlah inovasi terapan yang menyasar persoalan nyata masyarakat, khususnya di sektor peternakan, lingkungan, dan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah pengolahan pakan ternak terfermentasi dengan memanfaatkan limbah pertanian. Sisa hasil panen berupa dedaunan yang sebelumnya kerap dibakar atau dibuang, diolah menggunakan agen mikroba pengurai sehingga memiliki nilai nutrisi dan daya simpan yang lebih baik.
Inovasi tersebut diharapkan mampu membantu peternak menghadapi persoalan tingginya biaya pakan sekaligus mengantisipasi keterbatasan pakan hijau, terutama saat musim kemarau.
Pemanfaatan limbah pertanian menjadi pakan juga menjadi bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan peternakan, sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar desa dapat ditekan.
Selain sektor peternakan, mahasiswa KKN juga mendorong penguatan ekosistem melalui penanaman pohon buah dan tanaman bunga di sejumlah area strategis serta lahan kritis di wilayah Desa Tegallalang.
Pohon buah diproyeksikan menjadi sumber pangan dan gizi bagi masyarakat dalam jangka panjang. Sedangkan tanaman bunga tidak hanya berfungsi mempercantik lingkungan desa, tetapi juga mendukung keberadaan serangga penyerbuk serta berpotensi menjadi sumber komoditas yang dibutuhkan untuk kegiatan adat dan budaya masyarakat Bali.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., menekankan bahwa keberhasilan program KKN tidak semata-mata dilihat dari laporan yang dihasilkan mahasiswa, tetapi dari keberlanjutan inovasi setelah mahasiswa kembali ke kampus.
“Semoga program yang telah dikerjakan mahasiswa dapat dilakukan berkelanjutan oleh masyarakat, sehingga desa tidak hanya berhenti pada ketahanan pangan tapi bergerak ke kedaulatan pangan,” tegas Dr. Muliarta saat memberikan arahan dalam acara penutupan KKN.
Menurutnya, kedaulatan pangan desa hanya dapat diwujudkan ketika masyarakat memiliki kendali terhadap berbagai input produksi, mulai dari pupuk, pakan, hingga benih lokal.
Integrasi pengolahan pakan terfermentasi dengan konservasi produktif yang dilakukan mahasiswa dinilai menjadi langkah awal dalam membangun sistem pangan desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
“Kalau masyarakat mampu memenuhi kebutuhan input produksinya sendiri, ketergantungan terhadap pasokan dari luar dapat dikurangi. Inilah yang menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kedaulatan pangan,” ujarnya.
Perbekel Desa Tegallalang, Anak Agung Gede Raka Ardana, mengapresiasi program yang dijalankan mahasiswa KKN. Menurutnya, sejak awal program mahasiswa telah diselaraskan dengan program pembangunan desa sehingga lebih mudah diterapkan di tengah masyarakat.
“ Masyarakat sudah mulai ada yang mengadopsi pelatihan ataupun pengetahuan yang diberikan oleh mahasiswa, kendati dampaknya belum optimal dan memerlukan waktu lebih panjang,” kata Ardana.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah evaluasi, terutama terkait keterbatasan waktu mahasiswa berada di lapangan. Masa pengabdian yang relatif singkat membuat pendampingan belum dapat dilakukan secara mendalam dan periodik.
Karena itu, Ardana berharap kegiatan KKN dapat dilanjutkan secara berkesinambungan. Menurutnya, masyarakat masih membutuhkan pendampingan secara berkala agar berbagai inovasi yang diberikan mahasiswa benar-benar dapat diterapkan dan memberikan dampak maksimal.
“Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kami di desa, sangat membantu. Bidang ketahanan pangan juga sudah sesuai dengan program pemerintah. Ketahanan yang kami buat melalui desa yaitu peternakan babi,” ungkapnya.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi fondasi untuk membangun kemandirian pangan.
Jika inovasi yang telah diperkenalkan mampu terus diadopsi dan dikembangkan masyarakat, Desa Tegallalang tidak hanya memiliki ketahanan dalam menghadapi kebutuhan pangan, tetapi juga berpeluang melangkah lebih jauh menuju kedaulatan pangan berbasis potensi desa sendiri.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com