Denpasar, dewatanews.con — Usaha peternakan sapi rakyat yang selama ini mendominasi lanskap agraris di Bali masih kerap berkutat pada sistem pemeliharaan tradisional berskala kecil. Akibatnya, produktivitas belum optimal dan penumpukan limbah kotoran ternak di sekitar kandang memicu persoalan lingkungan. Padahal, jika dikelola lewat sentuhan teknologi tepat guna, limbah yang semula menjadi sumber bau tersebut menyimpan potensi ekonomi hijau yang menjanjikan.
Peluang inilah yang kini tengah digarap oleh para peternak di Banjar Jebaud, Desa Beringkit, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Melalui rangkaian kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang diinisiasi oleh akademisi Universitas Warmadewa, kelompok peternak setempat mulai diarahkan untuk memproses fermentasi kotoran sapi menjadi pupuk organik padat berkualitas.
Ketua PKM dari Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, Nyoman Pande Aryanti, S.Pt., M.Pt, menjelaskan bahwa seekor sapi Bali rata-rata mampu menghasilkan kotoran sebanyak 8 hingga 10 kilogram per hari, atau setara dengan 2,6 hingga 3,6 ton per tahun. Di Kabupaten Tabanan sendiri, populasi ternak sapi telah menembus angka 26.000 ekor.
"Jika potensi limbah yang masif ini dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan, dampaknya adalah pencemaran lingkungan, peningkatan populasi lalat, hingga pelepasan gas amonia yang mengganggu kesehatan pernapasan. Namun, jika difermentasi dengan baik, volume kotoran tahunan dari satu ekor sapi itu bisa dikonversi menjadi 1,5 sampai 2 ton pupuk organik bernilai jual," ujar Pande Aryanti saat diwawancarai di Denpasar, Senin (1/6/2026).
Langkah konkret perubahan paradigma tersebut diawali lewat pelatihan teknis yang digelar pada Sabtu (30/5/2026) lalu di Kelompok Tani Ternak Wahyu Kesiti, Banjar Jebaud. Kelompok yang dipimpin oleh Wayan Suardika dengan beranggotakan 21 peternak rakyat ini didorong untuk tidak lagi menimbun limbah di sekitar kandang, melainkan memprosesnya secara higienis menggunakan metode fermentasi aerob.
Pande Aryanti memaparkan, guna memastikan pupuk yang dihasilkan memiliki daya saing dan layak dipasarkan secara luas, proses pengolahan didasarkan pada standar mutu yang ketat. Intervensi teknologi yang diperkenalkan mengacu pada SNI 7763:2018 tentang pupuk organik padat.
Peternak dilatih memantau indikator kematangan kompos secara praktis melalui parameter visual dan teknis, seperti perubahan warna menjadi coklat kehitaman, tekstur yang remah, bahan terdekomposisi sempurna, serta tidak lagi mengeluarkan bau menyengat. Penggunaan biofermentor atau bioaktivator khusus diaplikasikan untuk mempercepat proses dekomposisi dan menaikkan kandungan hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium.
"Kami tidak hanya membekali peternak dengan aspek produksi, tetapi juga manajemen dan orientasi kewirausahaan. Tujuannya agar mereka mandiri, mampu memotong ketergantungan pada pupuk anorganik (kimia) untuk lahan pertanian mereka sendiri, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru dari penjualan pupuk organik kemasan," tambahnya.
Dalam menunjang keberlanjutan program jangka panjang, tim akademisi Universitas Warmadewa turut menyerahkan bantuan sarana produksi pengolahan berupa mesin pencacah dan penghalus, tong fermentasi, terpal, molase, hingga bioaktivator. Perbaikan tempat usaha dan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengolahan juga dilakukan agar aktivitas produksi pascapelatihan tetap berjalan konsisten.
Ketua Kelompok Ternak Wahyu Kesiti, Wayan Suardika menyambut baik kegiatan ini dan berharap pelatihan yang diberikan dapat terus dikembangkan menjadi usaha produktif kelompok. Menurutnya, teknologi yang diperkenalkan sangat mudah diterapkan dan sesuai dengan kondisi peternak di lapangan karena memanfaatkan bahan baku yang tersedia secara melimpah di lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat ini, diharapkan anggota Kelompok Ternak Wahyu Kesiti mampu mengembangkan pengolahan pupuk kandang secara mandiri dan berkelanjutan. Program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi peternak, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan serta pengembangan pertanian organik di Desa Beringkit, Kabupaten Tabanan.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com