Bangli, dewatanews.com - Upaya melawan dominasi tengkulak di Desa Belantih kini ditempuh melalui penguatan kemandirian petani dalam mengolah hasil panen secara mandiri. Langkah strategis ini menjadi fokus utama dalam serangkaian program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh tim akademisi Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa (Unwar) bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Widya Pertiwi di Kintamani, Bangli.
Desa Belantih yang terletak pada ketinggian 800–900 meter di atas permukaan laut merupakan sentra penghasil jeruk, namun petani setempat juga banyak mengusahakan pisang kepok sebagai tanaman pagar atau pemisah kebun. Sayangnya, potensi lahan seluas 9,06 km2 ini sering kali terbentur masalah klasik saat musim panen tiba.
Ketua KWT Widya Pertiwi, Ni Wayan Sukarini, mengungkapkan bahwa pisang kepok selama ini kurang diminati untuk keperluan upacara adat dibandingkan jenis pisang susu atau raja. Hal tersebut menyebabkan pemanfaatan pisang kepok hanya terbatas untuk konsumsi sederhana seperti pisang goreng atau rebus.
"Harga pisang kepok bisa turun drastis hingga Rp 500 per biji saat panen raya karena tidak terserap pasar. Banyak buah akhirnya terbuang sia-sia karena kami hanya menjualnya dalam bentuk buah masak segar yang sangat rentan terhadap kerusakan," ujar Sukarini, Sabtu (9/5/2026).
Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan pengetahuan teknologi pascapanen di tingkat petani. Minimnya kemampuan dalam seleksi, penyimpanan, hingga pengemasan menyebabkan keuntungan ekonomi terbesar justru dinikmati oleh pelaku usaha atau tengkulak dari luar desa yang memiliki sarana pengolahan lebih baik.
Akademisi Prodi Agroteknologi Unwar, Ir. Ni Komang Alit Astiari, M.Si., menekankan bahwa rantai nilai (value chain) pisang kepok di desa ini harus diperpanjang. Indonesia merupakan produsen pisang terbesar ke-7 di dunia, namun tingkat kehilangan hasil (losses) pascapanen secara nasional masih sangat tinggi, mencapai 20-40 persen akibat sifat buah yang mudah rusak.
"Kemandirian dalam mengelola hasil panen menjadi kunci agar petani tidak lagi didikte oleh harga pasar yang rendah. Kami hadir membawa teknologi pengolahan dasar dan teknik pengemasan untuk memastikan produk memiliki masa simpan lebih lama serta nilai jual yang jauh lebih tinggi," tegas Alit Astiari.
Melalui pendampingan ini, para perempuan tani di Desa Belantih yang berbatasan dengan Desa Selulung dan Desa Daup tersebut mulai menerapkan standar baru dalam menangani hasil kebun mereka. Pengolahan produk mandiri diharapkan mampu mengubah wajah pertanian di Kintamani, sekaligus memastikan kesejahteraan tetap berpihak pada petani lokal.
Edukasi yang diberikan mencakup seluruh aspek manajerial, mulai dari seleksi bahan baku hingga pembuatan video dokumentasi sebagai sarana promosi digital. Melalui pendampingan ini, para perempuan tani di Desa Belantih diharapkan mampu mentransformasi 'pisang pagar' menjadi produk ekonomi kreatif yang tangguh.
Pengolahan produk mandiri ini menjadi oase bagi 2.355 penduduk Desa Belantih untuk memastikan kesejahteraan tetap berpihak pada petani lokal, bukan pada rantai distribusi yang panjang. Program ini juga didukung dengan pengadaan sarana produksi bagi mitra KWT, mulai dari kompor gas, alat pemotong pisang (slicer), hingga mesin pengemas kedap udara (vacuum sealer) untuk menjamin kualitas produk olahan.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com