Denpasar, dewatanews.com - Ancaman krisis pangan global akibat perubahan iklim yang kian ekstrem menuntut transformasi radikal dalam sistem pertanian konvensional. Pendekatan monokultur yang mengandalkan input kimia tinggi dinilai tidak lagi relevan dan justru mempercepat degradasi lingkungan. Sebagai gantinya, integrasi teknologi cerdas berbasis ekologi atau agroteknologi cerdas menjadi kunci untuk menjaga kedaulatan pangan sekaligus melestarikan biodiversitas.
Hal tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum Internasional yang digelar secara daring oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Agroteknologi, Universitas Warmadewa, Denpasar, Sabtu (11/4). Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Marco Campera, Senior Lecturer in Conservation and Biodiversity dari Oxford Brookes University, Inggris.
Dalam paparannya yang bertajuk "Smart Agrotechnology: A Strategic Solution to Strengthen Global Food Security Amid Climate Change", Campera menyoroti titik kritis sistem pangan dunia. Pertanian saat ini terjepit di antara kebutuhan untuk memberi makan populasi yang terus tumbuh dan kenyataan bahwa lahan produktif kian menyusut akibat deforestasi serta perubahan iklim.
"Kita tidak bisa lagi hanya fokus pada satu komoditas secara intensif tanpa memikirkan kesehatan tanah. Agroteknologi cerdas bukan sekadar soal digitalisasi, melainkan bagaimana kita menggunakan pengetahuan sains, seperti genomika dan ekologi, untuk memperkuat sistem agroforestri yang berkelanjutan," ujar Campera dari London.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah transisi dari sistem monokultur menuju agroforestri. Campera memaparkan hasil risetnya mengenai komoditas kopi, yang merupakan salah satu penopang ekonomi di Indonesia dengan luas lahan mencapai 1,3 juta hektare dan dikelola oleh 96 persen petani kecil.
Riset menunjukkan bahwa intensifikasi lahan yang menghilangkan pohon pelindung (unshaded coffee) dan penggunaan pestisida berlebih justru menurunkan kualitas ekosistem. Sebaliknya, sistem agroforestri—di mana kopi ditanam berdampingan dengan pohon peneduh dan tanaman lain seperti vanili, cengkih, atau porang—terbukti lebih tangguh.
"Data kami menunjukkan bahwa peningkatan tutupan tajuk pohon tidak mengurangi hasil panen kopi secara signifikan. Justru, keberadaan pohon pelindung mampu menekan serangan hama penggerek buah kopi secara alami melalui peningkatan keanekaragaman hayati, seperti populasi burung dan serangga predator," jelasnya.
Campera juga memperkenalkan konsep Land Maxing. Strategi ini bertujuan untuk memaksimalkan produktivitas lahan melalui pendekatan regeneratif dan transformatif. Dengan memadukan tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan tanaman lokal, petani dapat mengelola enam modal pembangunan berkelanjutan (Six Capitals) secara seimbang.
Penerapan agroteknologi cerdas dalam konsep ini mencakup penggunaan data genomika untuk memahami interaksi kompleks antara tanaman dengan jamur dan bakteri di dalam tanah. Pemahaman ini penting untuk memulihkan kesehatan tanah yang selama ini rusak akibat ketergantungan pada pupuk anorganik.
Selain aspek lingkungan, sisi ekonomi menjadi daya tarik utama. Campera menyodorkan simulasi pendapatan petani yang menerapkan tumpang sari. Di lahan seluas satu hektare, kombinasi kopi dengan tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti vanili atau cengkih dapat memberikan pendapatan yang jauh lebih stabil dan besar dibandingkan hanya mengandalkan satu komoditas.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi panjang antara Oxford Brookes University dan Universitas Warmadewa. Campera mencatat, hingga saat ini kedua institusi telah menghasilkan lima publikasi bersama terkait agroforestri berkelanjutan dan melibatkan pertukaran mahasiswa serta riset lapangan di Bali.
"Bali memiliki potensi besar dengan sistem Subak dan kearifan lokalnya. Jika dipadukan dengan agroteknologi cerdas, ini bisa menjadi model bagi wilayah lain dalam menghadapi perubahan iklim," tambahnya.
Sementara Dekan Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa tantangan pertanian masa depan tidak hanya terletak pada kuantitas produksi, tetapi juga pada aspek keberlanjutan dan kualitas nutrisi.
“Agroteknologi cerdas bukan sekadar tentang pemasangan perangkat teknologi atau pengoperasian aplikasi digital di lahan. Hal yang jauh lebih esensial adalah bagaimana teknologi tersebut terintegrasi secara utuh ke dalam sistem produksi guna menciptakan efisiensi penggunaan air, pupuk, serta meminimalkan dampak lingkungan,” ujar Prof. Suriati.
Menurutnya, perubahan iklim yang ekstrem saat ini telah memberikan tekanan besar pada stabilitas pasokan pangan. Oleh karena itu, inovasi agroteknologi yang dikembangkan di lingkungan kampus harus memiliki dampak langsung terhadap efisiensi biaya produksi dan peningkatan kesejahteraan petani.
Prof. Suriati menekankan bahwa tanggung jawab moral perguruan tinggi adalah memastikan bahwa riset tidak hanya berakhir sebagai dokumen di rak perpustakaan atau laporan laboratorium. Inovasi harus bertransformasi menjadi alat yang bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat luas.
"Kampus memiliki tanggung jawab besar untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang tidak berhenti di laboratorium. Inovasi ini harus mengabdi pada kemajuan bangsa, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan dan stabilitas keamanan sosial kita," tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan fasilitas di lapangan, keberlanjutan pembiayaan, serta kebijakan yang berpihak pada riset dan pendidikan. Tanpa ekosistem pendukung tersebut, transformasi menuju pertanian cerdas akan sulit tercapai secara masif.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com