Badung, dewatanews.com - Panggung pembukaan hari pertama 7th World Congress on Probation and Parole di Bali International Convention Centre berubah menjadi ruang penuh emosi dan makna. Bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pertunjukan yang menggugah nurani dunia.
Penampilan bertajuk “The Journey of Second Chance (For Safer Society)” yang dibawakan warga binaan dari Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan berkolaborasi dengan Lapas Kelas IIA Kerobokan sukses memukau para delegasi internasional. Hadirin dari berbagai negara tampak larut dalam alur cerita yang disampaikan melalui perpaduan seni tari, musik, dan teater yang kuat secara emosional, Selasa (14/4).
Sejak awal pertunjukan, atmosfer ruangan dipenuhi kekhidmatan. Lantunan choir membuka panggung dengan nuansa reflektif, diikuti tarian tradisional dan kontemporer yang menggambarkan perjalanan hidup manusia—tentang kesalahan, penyesalan, hingga proses pembinaan. Penampilan energik dari Antrabez Band memberi dinamika, sementara monolog yang disampaikan menjadi titik klimaks yang menyentuh, menghadirkan pesan tentang harapan dan kesempatan kedua.
Lebih dari sekadar hiburan, pertunjukan ini menjadi representasi nyata dari semangat pemasyarakatan modern—bahwa setiap individu memiliki peluang untuk berubah. Pesan tentang pentingnya reintegrasi sosial dan pembinaan yang humanis tersampaikan dengan kuat, meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton. Tepuk tangan panjang pun bergema di akhir penampilan, menjadi bentuk apresiasi atas karya yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna.
Acara pembukaan kongres secara resmi dibuka oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Agus Andrianto, bersama perwakilan World Congress on Probation and Parole (WCPP). Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menyampaikan bahwa kongres ini menjadi wadah strategis untuk bertukar pengetahuan dan praktik terbaik dalam sistem pemasyarakatan global.
Sementara itu, keynote speech disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra. Ia menekankan pentingnya penerapan sistem probation dan parole sebagai bagian dari pendekatan keadilan restoratif dalam menciptakan masyarakat yang lebih aman dan berkeadilan.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan, Ni Luh Putu Andiyani, mengungkapkan rasa bangga atas penampilan warga binaan yang mampu tampil percaya diri di panggung dunia.
“Ini adalah bukti bahwa mereka memiliki potensi besar untuk berubah dan berkarya. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, mereka mampu menunjukkan sisi terbaiknya dan menginspirasi banyak orang,” ujarnya.
Ia menambahkan, momentum ini menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas program pembinaan di dalam lapas. Menurutnya, semangat “second chance” yang diusung dalam pertunjukan tersebut sejalan dengan tujuan pemasyarakatan—membentuk individu yang siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.
Kongres internasional ini sendiri bertujuan memperkuat kolaborasi global dalam pengembangan sistem pemasyarakatan, khususnya dalam penerapan probation dan parole, serta mendorong pendekatan yang lebih humanis dan berkelanjutan.
Penampilan “The Journey of Second Chance” pun menjadi salah satu sorotan utama hari pertama kongres. Di balik keterbatasan, para warga binaan berhasil membuktikan bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang. Dari panggung di Bali, mereka mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa setiap manusia berhak atas kesempatan kedua—dan dari sanalah masa depan yang lebih baik dapat dibangun.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com