Denpasar, dewatanews.com – Peta persaingan riset global kini menuntut kecakapan lebih dari sekadar penguasaan materi ilmiah. Menyadari hal tersebut, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa (Unwar) mengambil langkah progresif dengan menggelar workshop penyusunan proposal hibah internasional yang mengintegrasikan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Rektor Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, MP, menegaskan bahwa pemanfaatan AI bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mengakselerasi visi Global Competitiveness yang diusung universitas. "Kita tidak bisa menghindari penggunaan AI karena sudah merambah ke berbagai sendi kehidupan. Jika tidak menggunakan, kita justru akan tertinggal," ujar Prof. Pandit saat membuka acara di Denpasar pada Senin (13/4).
Dalam sambutannya, Prof. Pandit menyoroti bagaimana AI dapat membantu akademisi menembus batasan-batasan teknis yang selama ini sering menjadi penghambat dalam meraih pendanaan internasional, seperti dari sumber-sumber di Eropa maupun lembaga donor global lainnya. Menurutnya, AI mampu membantu peneliti dalam menyelaraskan format pengajuan yang sangat ketat dan spesifik sesuai aturan penyandang dana. Bahkan, penggunaan AI yang tepat (versi berbayar) diklaim mampu menjaga tingkat similarity atau plagiasi tetap rendah, bahkan di bawah 15%.
"AI adalah perangkat luar biasa. Namun, saya ingatkan, ia tidak memiliki rasa. Hasil dari AI tetap harus kita saring kembali agar sesuai dengan maksud dan tujuan riset kita," tambahnya.
Workshop ini bukan sekadar ajang berbagi wawasan. Rektor memberikan target nyata kepada FPST yang kini seluruh program studinya telah meraih akreditasi Unggul. Dengan status tersebut, capaian di level internasional menjadi tolok ukur utama kesuksesan fakultas. "Harapannya, dari workshop ini minimal lahir empat proposal berkualitas—satu dari setiap program studi di FPST. Kita ingin hasil konkret yang bisa langsung diajukan untuk meraih pendanaan internasional," tegas Prof. Pandit.
Dr. Widyadi Setiawan, S.T., M.T, seorang akademisi dari Profdi Teknik Elektro Universitas Udayana yang hadir sebagai narasumber memaparkan secara detail peta jalan penggunaan Generative AI (GenAI) dalam kancah riset global. Ia menekankan bahwa meski AI menawarkan kecepatan, penggunaannya di lingkungan perguruan tinggi harus tetap berpijak pada landasan etika dan regulasi yang berlaku.
"Kita memiliki panduan dari UNESCO serta Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020-2045 sebagai kompas praktik di sektor pendidikan tinggi," ujar Dr. Widyadi.
Dalam sesi teknisnya, Dr. Widyadi memperkenalkan metode CRISP (Context, Role, Instruction, Specification, Performance) sebagai standar baru dalam prompt engineering untuk menyusun dokumen akademis. Metode ini memungkinkan dosen untuk memberikan instruksi yang sangat spesifik kepada AI agar hasil yang keluar memiliki kualitas tinggi dan minim kesalahan.
Melengkapi aspek teknis penggunaan teknologi, Dr. Anak Agung Gde Agung Parameswara, SE., M.Si. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa, memberikan perspektif krusial mengenai bobot substantif dari sebuah pengajuan hibah. Menurutnya, keberhasilan menembus pendanaan internasional tidak hanya ditentukan oleh kemahiran menyusun kata-kata dalam proposal atau sekadar mengikuti panduan administratif.
"Lolos hibah internasional itu bukan sekadar soal seberapa bagus kita menulis rencana riset di atas kertas. Ada aspek 'invisible' yang menjadi pertimbangan utama pemberi dana, yaitu rekam jejak peneliti dan timnya," tegas Dr. Agung Parameswara.
Ia menjelaskan bahwa lembaga penyandang dana internasional sangat memperhatikan konsistensi dan kompetensi para peneliti yang terlibat. Track record yang kuat dalam publikasi ilmiah maupun pengabdian masyarakat menjadi bukti nyata bahwa tim tersebut memiliki kapasitas untuk mengeksekusi dana hibah secara bertanggung jawab dan berdampak luas.
Selain faktor personal peneliti, Dr. Agung juga menekankan pentingnya kredibilitas lembaga asal tim peneliti. Sinergi antara reputasi individu dengan institusi pendukung—seperti Universitas Warmadewa yang kini terus memperkuat posisi globalnya—menjadi nilai tawar yang sangat tinggi di mata mitra internasional.
"Kredibilitas lembaga adalah jaminan bagi pemberi hibah bahwa riset ini akan dikelola dengan tata kelola yang baik. Jadi, penguatan profil peneliti dan institusi harus berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi AI yang tadi kita bahas," pungkasnya.
Dengan adanya kolaborasi antara kecanggihan navigasi AI dan penguatan fundamental rekam jejak akademis, FPST Universitas Warmadewa optimistis dapat melahirkan proposal-proposal kompetitif yang mampu berbicara banyak di panggung riset dunia

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com