Mengukur Kedewasaan Berinternet Lewat Ritual Keheningan - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

3/18/26

Mengukur Kedewasaan Berinternet Lewat Ritual Keheningan


Denpasar, dewatanews.com - Perayaan Nyepi merupakan momentum krusial bagi manusia modern untuk menguji ketahanan mental di hadapan layar digital. Fenomena ini bukan lagi sekadar penghentian aktivitas fisik (Catur Brata Panyepian), melainkan sebuah laboratorium sosial yang sangat relevan. Masyarakat kini dihadapkan pada satu tolok ukur penting mengenai sejauh mana tingkat kedewasaan mereka dalam berinternet di tengah banjir informasi yang nyaris tanpa saringan.

Ritual yang mengharuskan jutaan orang mematikan daya perangkat komunikasi selama 24 jam ini menawarkan perspektif kontradiktif dengan keseharian global. Bali memilih berhenti total saat dunia bergerak dalam kecepatan tinggi. Titik balik ini menunjukkan bahwa literasi digital seharusnya tidak lagi diukur hanya dari kemahiran mengoperasikan aplikasi, melainkan dari keberanian individu untuk tidak terhubung.

Koordinator Wilayah Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) wilayah Bali, NTB, dan NTT, I Nengah Muliarta, memberikan pandangan tajam mengenai esensi kedaulatan digital ini. Konfirmasi yang dilakukan pada Rabu (18/3/2026) mengungkap bahwa kedewasaan berinternet memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar pemahaman teknis.

"Kedewasaan berinternet sejatinya tidak hanya terlihat dari cara kita menyaring informasi, tetapi juga dari kemampuan kita melepaskan ketergantungan pada perangkat tersebut. Nyepi memberikan ruang bagi setiap individu melakukan evaluasi mandiri atas perilaku digital mereka selama setahun terakhir," ujar Muliarta.

Definisi literasi digital sering kali terjebak pada hal-hal teknis atau sekadar upaya menangkal hoaks. Aspek psikologis dan etika justru menjadi bagian yang jauh lebih mendalam untuk dibahas. Kecepatan jari dalam membagikan informasi sering kali melampaui kecepatan otak dalam memproses kebenaran maupun dampak dari informasi tersebut.

Keheningan Nyepi menjadi antitesis dari algoritma media sosial yang dirancang untuk terus mengikat perhatian pengguna secara terus-menerus. Manusia dipaksa kembali pada komunikasi intrapersonal—bercakap dengan diri sendiri—ketika akses digital diputus. Kedewasaan seseorang diuji melalui kemampuannya mengelola kegelisahan karena tertinggal informasi atau justru merasakan kemerdekaan karena terlepas dari kebisingan.

Muliarta menekankan bahwa esensi utama dari jeda ini adalah kontrol diri. Internet hanyalah sebuah alat yang seharusnya tunduk pada kehendak manusia, bukan sebaliknya. Keberhasilan ritual ini tidak sepatutnya hanya dinilai dari matinya sinyal atau jaringan telekomunikasi.

"Hal yang paling mendasar sebenarnya bukan sekadar mematikan jaringan internet, melainkan mematikan ego dan kemauan liar kita dalam menggunakan teknologi. Internet tetaplah alat, sehingga kitalah yang harus memegang kendali penuh atas jempol dan pikiran sendiri," tambah Muliarta.

Kualitas interaksi manusia secara sosiologis akan kembali menemukan substansinya melalui jeda digital ini. Hubungan antarmanusia di lingkup keluarga bisa kembali hangat tanpa intervensi notifikasi yang konstan. Pemahaman mengenai kapan waktu untuk terhubung secara global dan kapan waktu hadir secara lokal menjadi inti dari literasi digital yang nyata.

Tantangan terbesar muncul saat masyarakat harus membawa spirit keheningan ini ke dalam perilaku pasca-Nyepi. Fondasi interaksi di ruang siber seharusnya dibangun di atas kedewasaan yang telah diuji selama 24 jam tersebut. Ruang siber yang sehat memerlukan individu-individu yang memiliki kontrol diri serta empati yang tinggi, bukan sekadar bebas dari disinformasi.

Perayaan Nyepi di era digital menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa ada manusia yang butuh jeda di balik layar yang bercahaya. Kebijaksanaan untuk tahu kapan harus bersuara di media sosial dan kapan harus memilih diam untuk mendengar suara hati adalah wujud nyata dari kedewasaan. Keheningan ini merupakan sebuah lompatan peradaban guna memastikan manusia tetap menjadi subjek utama, bukan objek dari kemajuan teknologi.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com