Denpasar, dewatanews.com - Naskah Tantu Panggelaran memberikan gambaran yang sangat dramatis mengenai kondisi tanah Jawa yang terus berguncang dan tidak stabil pada masa purba. Pulau ini digambarkan terapung-apung di tengah samudra luas, kehilangan keseimbangan akibat ketiadaan beban yang mampu menahannya tetap diam. Para dewa kemudian memutuskan untuk memindahkan puncak Mahameru dari Jambudwipa sebagai pasak bumi guna menstabilkan daratan yang limbung tersebut. Mitos ini sebenarnya adalah sebuah metafora ekologis yang sangat cerdas mengenai pentingnya integritas pegunungan dalam menjaga keseimbangan sebuah ekosistem besar.
Guncangan daratan dalam teks tersebut harus dimaknai sebagai peringatan dini mengenai kerentanan geografis yang menyertai setiap inci ruang hidup manusia. Gunung berfungsi bukan sekadar sebagai ornamen pemandangan, melainkan sebagai sumbu yang mengikat kestabilan tanah serta mengatur ritme hidrologi bagi wilayah di bawahnya. Menghilangkan atau merusak fungsi gunung sama saja dengan mencabut paku yang selama ini menjaga pulau agar tidak hancur diterjang dinamika alam yang ganas. Kesadaran purba ini menekankan bahwa eksistensi manusia sangat bergantung pada keteguhan pasak-pasak bumi yang bersifat alami dan sakral.
Modernitas yang serakah sering kali mengubah cara pandang terhadap gunung dari sebuah pasak yang vital menjadi sekadar tumpukan material yang siap dikomersialkan. Syahwat eksploitasi lahan dan penambangan yang tak terkendali kini perlahan-lahan mencabut paku-paku bumi tersebut satu per satu dari tempat asalnya. Akibatnya, pulau-pulau yang dulu stabil kini mulai kembali bergoyang dalam bentuk bencana tanah longsor, kekeringan, hingga hilangnya sumber mata air abadi secara masif. Tantu Panggelaran seolah sedang menceritakan kembali realitas hari ini, di mana kestabilan ekosistem sedang berada di ambang keruntuhan sistemik yang sangat mengkhawatirkan.
Kebijakan tata ruang yang mengabaikan aspek keseimbangan ekologis pegunungan mencerminkan rabun jauh moral yang dialami oleh para pengampu kepentingan saat ini. Banyak izin pembangunan diberikan di wilayah-wilayah yang secara tradisional seharusnya menjadi kawasan lindung yang tidak boleh dijamah oleh alat berat. Pelanggaran terhadap batas-batas alami ini mengakibatkan hilangnya daya dukung lingkungan yang selama ini melindungi pemukiman manusia dari amuk alam yang tak terduga. Kegagalan memahami fungsi gunung sebagai paku bumi merupakan langkah awal menuju keruntuhan peradaban yang dibangun di atas fondasi pengabaian terhadap kearifan lokal.
Proses pemindahan Mahameru dalam narasi tersebut juga menyisakan kepingan-kepingan gunung yang terjatuh dan menjadi barisan gunung kecil di sepanjang pulau. Serpihan tersebut melambangkan distribusi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang seharusnya dijaga secara merata dari ujung barat hingga ujung timur daratan. Setiap bukit dan lereng memiliki peran krusial dalam menjaga kelembapan udara serta menyediakan nutrisi bagi tanah-tanah pertanian yang subur di dataran rendah. Merusak satu bagian dari rangkaian pegunungan ini akan memicu reaksi berantai yang melumpuhkan sistem kehidupan secara kolektif dan sangat merugikan.
Manipulasi narasi pembangunan sering kali menggunakan bahasa kemajuan untuk membenarkan penghancuran bentang alam yang bersifat vital bagi kelangsungan hidup. Proyek-proyek ekstraktif skala besar kerap kali menepikan peringatan dari naskah kuno demi mengejar angka pertumbuhan ekonomi yang bersifat semu dan sementara. Padahal, kekayaan materiil tidak akan pernah bisa menggantikan fungsi hidrologis gunung yang telah hancur akibat kerakusan nalar manusia modern. Sastra klasik ini mengajak setiap pembaca untuk melihat kembali bahwa kemakmuran yang sejati hanya bisa dicapai jika bumi berada dalam kondisi yang stabil, tenang, dan terjaga integritasnya.
Rekonsiliasi dengan alam memerlukan keberanian untuk kembali memaku pulau melalui kebijakan konservasi yang tegas dan tidak boleh ditawar oleh kepentingan politik sektoral. Menghentikan alih fungsi lahan di kawasan hulu adalah bentuk implementasi nyata dari pesan ekologis yang terkandung dalam lembar-lembar naskah Tantu Panggelaran. Penjagaan terhadap hutan gunung bukan sekadar urusan estetika ruang, melainkan upaya menjaga agar pasak bumi tetap mampu menahan beban aktivitas manusia yang kian berat setiap tahunnya. Tanpa adanya upaya sungguh-sungguh untuk merawat paku-paku ini, maka kehancuran daratan hanyalah tinggal menunggu momentum alamiah yang sangat menghancurkan.
Tantu Panggelaran akhirnya berdiri bukan lagi sekadar sebagai dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah manifesto etika lingkungan yang sangat mendesak untuk dibaca ulang secara kritis. Pesan mengenai keseimbangan yang ditawarkan oleh para leluhur harus menjadi kompas utama dalam menavigasi krisis iklim yang kian mengancam eksistensi manusia. Menghargai gunung berarti menghargai kehidupan itu sendiri dan memastikan bahwa pulau ini tetap tegak berdiri dengan kokoh untuk generasi mendatang. Masa depan hanya akan berpihak pada mereka yang memiliki kerendahan hati untuk menjaga pasak bumi tetap tertanam kuat di tempatnya semula.
Geofilosofi Pasak Bumi: Fungsi Hulu yang Tak Tergantikan
Filosofi pasak bumi dalam Tantu Panggelaran menempatkan gunung sebagai pusat gravitasi yang mengatur distribusi air dan kestabilan klimatologis secara presisi. Pegunungan berfungsi sebagai menara air raksasa yang menangkap uap dari samudra untuk kemudian dialirkan secara perlahan melalui urat-urat sungai menuju dataran rendah. Pola manajemen air purba ini menunjukkan bahwa leluhur telah memahami prinsip konservasi hulu jauh sebelum istilah hidrologi modern populer di bangku sekolah. Gunung Mahameru yang dipindahkan bukan sekadar benda mati, melainkan organisme hidrologis yang menjamin kelangsungan hidup jutaan makhluk di bawah lerengnya.
Ekosistem pegunungan menyimpan cadangan air dalam pori-pori tanah dan akar pohon yang berfungsi layaknya spons raksasa yang menahan banjir pada musim hujan. Mekanisme alami ini mencegah terjadinya erosi besar-besaran yang dapat menghanyutkan kesuburan tanah permukaan menuju laut secara sia-sia. Ketersediaan air tanah yang stabil sepanjang tahun merupakan berkah dari paku bumi yang tetap terjaga integritas vegetasinya tanpa gangguan tangan manusia. Mengabaikan fungsi teknis ini demi kepentingan tambang atau pemukiman adalah bentuk pengkhianatan terhadap logika keselamatan yang telah tertulis dalam naskah kuno.
Keseimbangan antara daratan dan lautan dalam naskah tersebut juga menyiratkan pentingnya menjaga batas-batas ekologi agar tidak terjadi tumpang tindih fungsi lahan. Wilayah hulu memiliki mandat suci untuk tetap menjadi area resapan, sementara wilayah hilir adalah ruang bagi aktivitas budidaya dan pemukiman manusia. Pencampuran kedua fungsi ini melalui pembangunan masif di puncak gunung hanya akan melahirkan kekacauan tata ruang yang berujung pada bencana permanen. Geofilosofi pasak bumi mengajarkan bahwa kedamaian sebuah pulau hanya bisa dicapai jika setiap elemen bentang alam menjalankan perannya secara konsisten dan tanpa paksaan.
Infrastruktur hijau yang disediakan oleh alam ini memiliki ketahanan yang jauh lebih kuat dibandingkan bendungan atau waduk buatan manusia yang paling canggih sekalipun. Gunung yang sehat mampu melakukan regenerasi mandiri dan mengatur suhu mikro di sekitarnya sehingga menciptakan iklim yang kondusif bagi pertanian dan peternakan. Perusakan terhadap struktur pegunungan akan mengakibatkan perubahan suhu yang drastis dan mengganggu pola tanam yang telah mapan selama berabad-abad. Keteguhan paku bumi adalah jaminan bagi kemandirian pangan sebuah bangsa yang tidak ingin terus menerus bergantung pada belas kasihan pasar global.
Nilai spiritual yang diletakkan pada puncak-puncak gunung berfungsi sebagai baris-baris kode etik yang melarang manusia untuk bertindak semena-mena terhadap alam. Larangan menebang pohon di area puncak gunung dalam tradisi lokal merupakan bentuk konkret dari upaya menjaga stabilitas pasak bumi tersebut agar tidak goyah. Mitos dewa yang bersemayam di puncak Mahameru adalah cara cerdas leluhur untuk memagari kawasan vital agar tetap steril dari eksploitasi ekonomi yang destruktif. Pengetahuan ini membuktikan bahwa konservasi lingkungan di masa lalu selalu berjalan beriringan dengan nilai-nilai ketuhanan dan penghormatan terhadap kehidupan.
Penjagaan terhadap kawasan hulu juga berdampak langsung pada kualitas kesehatan masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan dan pedesaan di bawahnya. Air yang mengalir dari gunung yang terjaga kemurniannya membawa mineral dan nutrisi penting bagi kehidupan tanpa perlu proses purifikasi kimiawi yang mahal. Kerusakan pada paku bumi akan mengakibatkan kontaminasi sumber air dan penyebaran berbagai penyakit yang dapat melumpuhkan produktivitas manusia secara massal. Keberlanjutan peradaban sangat bergantung pada seberapa berani pemerintah dan masyarakat menjaga kemurnian sumber kehidupan yang mengalir dari ketinggian.
Transformasi ekonomi hijau harus diletakkan pada fondasi penghormatan terhadap bentang alam pegunungan sebagai aset paling berharga milik negara. Pembangunan tidak boleh lagi memandang gunung sebagai rintangan kemajuan, melainkan sebagai mitra strategis dalam menjaga ketahanan bencana nasional. Investasi dalam pemulihan hutan gunung merupakan langkah paling murah dan efektif untuk menjamin ketersediaan sumber daya bagi masa depan yang kian tidak menentu. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk menjaga pasak bumi akan kembali dalam bentuk keselamatan nyawa dan kestabilan ekonomi jangka panjang bagi seluruh rakyat.
Kesadaran untuk memaku pulau kembali harus dimulai dengan mengaudit seluruh izin industri yang beroperasi di kawasan resapan air dan lereng-lereng curam. Ketegasan hukum adalah cerminan dari keseriusan manusia untuk menghormati naskah Tantu Panggelaran sebagai panduan etika lingkungan yang abadi. Mengabaikan fungsi gunung sebagai penyeimbang daratan hanya akan membawa manusia pada siklus bencana yang kian hari kian menghebat dan sulit untuk dikendalikan. Masa depan keberlanjutan bumi Indonesia sangat bergantung pada kembalinya fungsi gunung sebagai paku yang benar-benar kuat, kokoh, dan tak tergoyahkan oleh godaan harta.
Komodifikasi Puncak: Saat Paku Bumi Mulai Dicabut
Komodifikasi puncak gunung dalam lanskap ekonomi hari ini telah mengubah fungsi pasak bumi menjadi sekadar barang dagangan dengan label pemandangan eksklusif. Kavling-kavling tanah di lereng curam diperjualbelikan demi ambisi properti yang sering kali mengabaikan risiko bencana geologis yang mengintai di balik kabut. Fenomena ini mencerminkan pengikisan nilai sakral pegunungan yang dalam naskah kuno seharusnya menjadi area pingit atau kawasan terlarang bagi aktivitas komersial masif. Pencabutan paku-paku bumi demi keuntungan finansial jangka pendek merupakan bentuk perjudian nasib yang mempertaruhkan keselamatan ribuan nyawa di dataran rendah.
Industri pariwisata yang tidak terkendali sering kali memaksa alam untuk tunduk pada selera konsumerisme manusia yang dangkal dan merusak. Pembangunan vila dan resor di area resapan air mengakibatkan pemadatan tanah yang mematikan kemampuan gunung untuk menyerap curahan hujan ke dalam akuifer. Aliran air permukaan yang tidak terkendali kemudian berubah menjadi banjir bandang yang menyapu pemukiman warga dengan kecepatan dan daya hancur yang kian meningkat. Kepentingan investasi sering kali dijadikan tameng untuk menabrak aturan tata ruang yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi kelestarian pasak bumi kita.
Tri Riska Putri dalam artikel berjudul “Balancing urban growth and environmental sustainability through spatial planning: A Policy and land use analysis” yang dipublikasikan tahun 2025 mengungkapkan bahwa berbagai studi menunjukkan adanya konflik sistematis antara ekspansi permukiman/industri dan perlindungan lingkungan. Lahan lindung dan ruang hijau di berbagai wilayah dikonversi untuk perumahan, fasilitas publik, dan investasi lain yang menurunkan kualitas lingkungan dan keamanan pangan.
Eksploitasi material tambang di tubuh pegunungan juga memberikan luka permanen yang mustahil untuk dipulihkan dalam waktu singkat melalui prosedur reklamasi biasa. Pengerukan pasir dan batu dari perut gunung menghancurkan struktur penyangga daratan yang dalam Tantu Panggelaran berfungsi sebagai pengikat stabilitas pulau. Kehilangan massa tanah dalam skala besar mengakibatkan perubahan keseimbangan beban yang dapat memicu pergeseran lempeng lokal dan meningkatkan kerentanan terhadap guncangan gempa. Manusia seolah sedang memutilasi tubuh pelindungnya sendiri demi mengejar pertumbuhan ekonomi yang tidak memiliki akar pada keadilan ekologis.
Pengabaian terhadap batas-batas ketinggian dalam pembangunan mencerminkan hilangnya rasa hormat terhadap hukum alam yang bersifat absolut dan tidak bisa dinegosiasikan. Puncak gunung yang seharusnya menjadi tempat bagi vegetasi hutan hujan tropis kini justru dipenuhi oleh struktur beton yang memantulkan panas ke atmosfer. Perubahan tutupan lahan ini mengganggu iklim mikro dan mengusir keanekaragaman hayati yang selama ini menjadi penjaga keseimbangan ekosistem pegunungan. Hilangnya spesies endemik merupakan sinyal kuat bahwa pasak bumi sedang mengalami degradasi fungsi yang sangat serius dan memerlukan tindakan pemulihan segera.
Narasi pembangunan yang hanya mementingkan angka produk domestik regional bruto sering kali menutup mata terhadap biaya eksternalitas yang harus ditanggung oleh lingkungan. Kerusakan hutan gunung mengakibatkan penurunan debit air pada waduk-waduk yang menyuplai energi listrik dan irigasi bagi jutaan hektar lahan pertanian. Kerugian ekonomi akibat bencana hidrometeorologi jauh melampaui keuntungan pajak yang diterima negara dari izin-izin usaha di kawasan lindung tersebut. Ketimpangan nalar ekonomi ini menunjukkan betapa rendahnya apresiasi manusia modern terhadap jasa ekosistem yang telah disediakan secara cuma-cuma oleh alam.
Privatisasi kawasan pegunungan juga menciptakan sekat-sekat sosial yang menjauhkan masyarakat lokal dari tanah ulayat dan sumber penghidupan mereka. Akses terhadap mata air suci atau kawasan hutan sering kali tertutup oleh pagar-pagar besi milik korporasi yang merasa memiliki hak penuh atas bentang alam tersebut. Konflik agraria di wilayah hulu menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja akibat ketidakadilan dalam distribusi ruang dan sumber daya alam. Menjaga paku bumi seharusnya menjadi tanggung jawab kolektif yang melibatkan partisipasi aktif warga, bukan sekadar urusan transaksi antara pemilik modal dan pemegang otoritas.
Praktik greenwashing dalam industri properti pegunungan sering kali menggunakan istilah "hunian ramah lingkungan" untuk memuluskan izin pembangunan di zona merah. Klaim-klaim semu tersebut biasanya hanya terbatas pada penggunaan material tertentu tanpa menyentuh esensi dari kerusakan ekosistem yang diakibatkan oleh kehadiran bangunan tersebut. Masyarakat perlu memiliki ketajaman kritis untuk melihat bahwa setiap bangunan permanen di lereng gunung adalah beban tambahan bagi kestabilan pasak bumi. Kejujuran dalam perencanaan wilayah merupakan prasyarat mutlak jika manusia tidak ingin terjebak dalam siklus bencana yang kian hari kian mematikan.
Penyelamatan pulau dari ancaman keruntuhan sistemik memerlukan keberanian politik untuk mencabut izin-izin yang terbukti merusak integritas pegunungan. Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aktivitas ekonomi di kawasan hulu harus dilakukan dengan mengacu pada semangat pelestarian yang tertulis dalam naskah purba. Membiarkan pasak bumi terus dikeruk dan dibebani oleh bangunan mewah adalah bentuk pembiaran terhadap kehancuran masa depan bangsa sendiri. Hanya dengan mengembalikan kehormatan gunung sebagai paku dunia, manusia dapat berharap untuk hidup dalam kedamaian dan kestabilan sebagaimana yang dicita-citakan dalam Tantu Panggelaran.
Serpihan Mahameru: Keanekaragaman Hayati yang Tercecer
Serpihan Mahameru yang jatuh dan tersebar di sepanjang daratan merupakan simbol dari jejaring ekologi yang saling terhubung satu sama lain dalam kesatuan fungsional. Fragmentasi habitat yang terjadi akibat pembangunan jalan dan pembukaan lahan skala besar telah memutus jalur migrasi satwa serta aliran genetik flora endemik. Kondisi ini mengakibatkan isolasi ekosistem yang melemahkan daya tahan paku-paku bumi kecil terhadap perubahan iklim dan serangan spesies invasif. Menjaga kelestarian pulau tidak cukup hanya dengan melindungi satu puncak utama, melainkan harus mencakup seluruh rangkaian bukit yang menjadi jembatan kehidupan bagi keanekaragaman hayati.
Konektivitas antara wilayah hulu dan hilir harus dipandang sebagai satu kesatuan urat nadi yang tidak boleh terputus oleh ambisi sektoral yang sempit. Setiap ceceran gunung dalam narasi Tantu Panggelaran memiliki peran spesifik dalam menjaga kelembapan udara dan siklus nutrisi tanah di sekitarnya. Penghancuran bukit-bukit kecil demi material konstruksi merupakan tindakan ceroboh yang merusak struktur penyangga mikro di berbagai wilayah daratan. Keseimbangan pulau akan goyah jika manusia hanya fokus pada titik-titik tertentu sambil membiarkan wilayah penyangga lainnya hancur berkeping-keping akibat keserakahan.
Keanekaragaman hayati yang menghuni lereng-lereng pegunungan berperan sebagai teknisi alam yang menjaga kesehatan tanah dan kemurnian sumber air. Burung-burung penyebar biji dan serangga penyerbuk adalah agen restorasi alami yang memastikan hutan tetap mampu melakukan regenerasi secara mandiri tanpa campur tangan manusia. Hilangnya satu spesies kunci dalam ekosistem gunung akan memicu efek domino yang merusak stabilitas seluruh sistem penopang kehidupan manusia. Menjaga serpihan Mahameru berarti menjaga setiap nyawa yang berdenyut di dalamnya sebagai bagian dari upaya kolektif memaku daratan dari kehancuran.
Hutan-hutan lindung yang tersisa kini sering kali terjepit di antara kepungan perkebunan monokultur dan pemukiman yang terus merangsek naik ke ketinggian. Tekanan antropogenik yang kian masif ini mengakibatkan penurunan kualitas layanan alam, seperti kemampuan penyerapan karbon dan pengaturan debit sungai secara alami. Pola pemanfaatan lahan yang mengabaikan aspek lanskap pegunungan mencerminkan kegagalan dalam menerjemahkan pesan keberlanjutan yang telah diwariskan oleh para leluhur. Integrasi kembali kawasan-kawasan yang terfragmentasi melalui koridor hijau merupakan langkah mendesak untuk memperkuat kembali pasak bumi yang kian rapuh.
Kearifan lokal dalam mengelola hutan ulayat di sekitar pegunungan sering kali memberikan model konservasi yang jauh lebih efektif dibandingkan pendekatan birokrasi yang kaku. Masyarakat adat memahami bahwa setiap jengkal tanah di lereng gunung memiliki nilai spiritual dan ekologis yang harus dijaga demi keselamatan bersama. Penghormatan terhadap batas-batas alam ini merupakan bentuk nyata dari upaya mempertahankan paku bumi agar tetap tertanam kuat dan tidak goyah oleh dinamika zaman. Pelibatan masyarakat lokal sebagai penjaga garda depan pegunungan harus menjadi prioritas utama dalam setiap skema pengelolaan sumber daya alam nasional.
Masyarakat lokal menyimpan pengetahuan ekologis tradisional yang sering kali lebih efektif dan ramah lingkungan daripada praktik modern, serta meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi pengelolaan SDA ketika mereka terlibat dari perencanaan sampai implementasi. Demikian terungkap dalam artikel berjudul “Peran Masyarakat Lokal Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam: Studi Kasus Pertanian Berbasis Komunitas” yang ditulis oleh Panji Al Falah dan Kawan-kawan dan dipublikasikan pada tahun 2024.
Penelitian ilmiah terbaru mengonfirmasi bahwa ekosistem pegunungan merupakan benteng terakhir dalam menghadapi kepunahan massal akibat kenaikan suhu global. Wilayah ketinggian menjadi tempat perlindungan bagi berbagai spesies yang mencoba beradaptasi dengan mencari habitat yang lebih sejuk dan stabil. Membiarkan puncak-puncak gunung rusak sama saja dengan menutup bunker keselamatan bagi kehidupan liar yang merupakan bagian dari sistem imun planet ini. Tantu Panggelaran memberikan perspektif bahwa setiap serpihan gunung adalah aset berharga yang harus dipelihara dengan penuh rasa tanggung jawab demi kelangsungan peradaban.
Paradigma pembangunan masa depan harus mengadopsi konsep infrastruktur berbasis alam yang menempatkan pemulihan ekosistem pegunungan sebagai investasi strategis. Pembuatan koridor ekologi antar-pegunungan merupakan cara modern untuk "menjahit" kembali serpihan-serpihan Mahameru yang telah terpisah oleh aktivitas manusia. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran masyarakat sipil sangat diperlukan untuk mewujudkan jejaring pasak bumi yang kokoh dan berkelanjutan. Kekuatan sebuah pulau tidak terletak pada kemegahan bangunan betonnya, melainkan pada keutuhan bentang alam hijau yang melindunginya dari guncangan bencana.
Kejujuran dalam memetakan kembali kawasan lindung merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap tatanan dunia yang telah diatur oleh naskah purba. Penghentian fragmentasi habitat gunung harus segera dilakukan melalui moratorium izin-izin baru di wilayah yang secara ekologis bersifat sangat sensitif. Menjaga setiap jengkal lereng dan bukit adalah upaya sadar untuk mematikan alarm bencana yang kian hari kian nyaring terdengar. Masa depan pulau ini bergantung pada seberapa mampu manusia merajut kembali ceceran kemuliaan alam yang sempat terabaikan oleh syahwat eksploitasi masa lalu.
Greenwashing di Lereng Gunung: Retorika Penyelamatan yang Semu
Pencitraan hijau yang kini merambah wilayah pegunungan sering kali hanyalah bedak kecantikan untuk menutupi borok eksploitasi yang tetap berjalan di balik layar. Korporasi properti dan industri ekstraktif kerap menggunakan terminologi "eco-tourism" atau "kawasan mandiri energi" sebagai tameng untuk mendapatkan legitimasi publik atas penghancuran ekosistem asli. Retorika penyelamatan ini sangat berbahaya karena menciptakan rasa aman semu di tengah proses pencabutan paku bumi yang terus berlangsung secara sistematis. Greenwashing di lereng gunung merupakan bentuk pengkhianatan intelektual yang memanipulasi kesadaran ekologis masyarakat demi kepentingan akumulasi modal semata.
Penanaman pohon seremonial yang sering dilakukan oleh para perusak lingkungan hanyalah gimik pemasaran yang tidak menyentuh akar permasalahan degradasi lahan. Membangun hutan tanaman monokultur di atas lahan yang sebelumnya adalah hutan primer tidak akan pernah bisa menggantikan fungsi hidrologis dan keragaman hayati yang telah hilang. Upaya kosmetik semacam ini justru sering kali merusak struktur tanah lebih jauh karena mengabaikan kesesuaian jenis tanaman dengan ekosistem lokal yang spesifik. Tantu Panggelaran mengajarkan bahwa stabilitas daratan hanya bisa dicapai melalui keutuhan struktur gunung, bukan melalui tambal sulam vegetasi yang bersifat artifisial.
Sertifikasi hijau yang diperoleh melalui jalur birokrasi yang korup menjadi lisensi baru bagi para "Cupak modern" untuk terus mengeruk keuntungan dari wilayah hulu. Banyak proyek pembangunan di kawasan resapan air yang mendapatkan label ramah lingkungan hanya karena menyisakan sedikit ruang terbuka hijau yang tidak fungsional secara ekologis. Manipulasi data mengenai dampak lingkungan sering kali dilakukan untuk memuluskan izin mendirikan bangunan di zona-zona merah yang seharusnya steril dari beton. Kepalsuan ini mengakibatkan publik kehilangan daya kritis untuk melihat bahwa paku bumi mereka sedang dilemahkan oleh narasi-narasi manis yang menyesatkan.
Klaim mengenai penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam pembangunan vila di puncak gunung sering kali mengabaikan fakta bahwa kehadiran manusia di sana sudah merupakan beban ekologis. Limbah domestik dan gangguan terhadap koridor satwa tetap menjadi ancaman nyata meskipun bangunan tersebut menggunakan panel surya atau sistem pengolahan air mandiri. Esensi dari pesan Tantu Panggelaran adalah menjaga kemurnian kawasan suci agar tetap berfungsi sebagai penyeimbang, bukan mengubahnya menjadi laboratorium gaya hidup hijau yang elitis. Menempatkan kenyamanan manusia di atas integritas gunung adalah bentuk kesombongan yang dibungkus dengan jargon keberlanjutan yang kosong.
Kebijakan pemerintah yang memberikan kemudahan investasi di kawasan hutan dengan embel-embel "pemanfaatan jasa lingkungan" perlu diawasi secara ketat agar tidak menjadi pintu masuk bagi kerusakan permanen. Jargon-jargon diplomasi iklim di panggung internasional sering kali bertolak belakang dengan kenyataan pahit di lapangan, di mana lereng-lereng gunung tetap digunduli demi kepentingan industri ekstraktif. Ketidakjujuran dalam mengelola sumber daya alam ini akan berujung pada hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga keselamatan daratan. Menyelamatkan pulau memerlukan tindakan nyata yang jujur, bukan sekadar pidato-pidato berapi-api mengenai ekonomi hijau yang kering akan implementasi.
Penyebaran informasi yang menyesatkan mengenai manfaat ekonomi dari pembukaan lahan di pegunungan harus dilawan dengan data sains yang akurat dan independen. Masyarakat lokal sering kali dijanjikan lapangan kerja dan kesejahteraan, padahal mereka adalah pihak yang pertama kali akan menanggung beban bencana akibat rusaknya pasak bumi. Kerugian jangka panjang akibat hilangnya air bersih dan rusaknya lahan pertanian jauh lebih besar dibandingkan upah buruh yang diterima dari industri yang merusak tersebut. Membongkar topeng-topeng penyelamatan lingkungan ini merupakan tugas suci bagi kaum intelektual dan pegiat konservasi untuk menjaga kewarasan kolektif bangsa.
Transformasi paradigma diperlukan agar setiap individu mampu membedakan antara aksi lingkungan yang autentik dengan sekadar strategi hubungan masyarakat untuk memperbaiki citra korporasi. Transparansi dalam setiap proses penilaian dampak lingkungan harus dibuka seluas-luasnya bagi partisipasi publik agar tidak terjadi monopoli kebenaran oleh pihak-pihak berkepentingan. Penjagaan terhadap paku bumi memerlukan kejujuran nurani untuk mengakui bahwa tidak semua wilayah di bumi ini boleh dijamah oleh tangan manusia demi alasan ekonomi. Keberanian untuk mengatakan "tidak" pada pembangunan yang destruktif adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap tatanan dunia yang telah diwariskan para leluhur.
Keberlanjutan sebuah pulau hanya bisa dijamin jika manusia bersedia melepaskan syahwat untuk memanipulasi alam demi pencitraan yang semu. Menghadapi krisis iklim memerlukan ketulusan untuk bekerja di kedalaman sunyi sebagaimana sosok Gerantang yang berjuang demi keselamatan tanpa perlu tepuk tangan publik. Tantu Panggelaran tetap menjadi cermin yang tajam untuk melihat apakah tindakan manusia hari ini benar-benar untuk memaku pulau agar stabil, atau justru sedang merobohkannya dengan cara yang halus. Masa depan keberlangsungan hidup manusia bergantung pada seberapa cepat kita mampu menanggalkan topeng-topeng hijau ini dan kembali merawat gunung dengan sepenuh hati.
Menjahit Kembali Keseimbangan: Mitigasi Berbasis Kearifan Purba
Upaya menjahit kembali keseimbangan ekosistem yang telah koyak memerlukan keberanian untuk mengadopsi kembali prinsip "kawasan terlarang" dalam kebijakan tata ruang modern. Kearifan purba yang tertuang dalam Tantu Panggelaran memberikan mandat tegas bahwa area hulu bukan merupakan ruang negosiasi kepentingan ekonomi, melainkan zona sakral yang menjamin stabilitas kehidupan. Restorasi ekologis harus dilakukan dengan mengembalikan fungsi gunung sebagai benteng pertahanan alami melalui penghentian total segala bentuk aktivitas ekstraktif di lereng-lereng curam. Mitigasi bencana yang paling efektif bukan terletak pada pembangunan tanggul beton yang mahal, melainkan pada pemulihan tutupan hutan yang mampu mencengkeram tanah dan menahan laju air secara organik.
Paradigma manajemen risiko harus mulai bergeser dari pendekatan reaktif menuju tindakan preventif yang berakar pada penghormatan terhadap batasan-batasan alami daratan. Masyarakat adat di berbagai pelosok nusantara telah lama mempraktikkan pembagian zona hutan menjadi wilayah inti yang tak boleh dijamah dan wilayah pemanfaatan yang terbatas. Integrasi model pengelolaan ini ke dalam hukum positif negara akan memperkuat posisi pasak bumi dari gempuran izin-izin industri yang sering kali menabrak logika keselamatan. Menghidupkan kembali kearifan lokal adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa setiap jengkal tanah di pegunungan tetap memiliki penjaga yang tulus dan memiliki ikatan emosional dengan lingkungannya.
Pemanfaatan teknologi sensor bencana dan pemetaan satelit seharusnya digunakan untuk memperketat pengawasan terhadap perubahan tutupan lahan di wilayah-wilayah kunci. Sinergi antara kecanggihan sains modern dan filosofi penjagaan alam purba akan melahirkan sistem peringatan dini yang jauh lebih akurat dan komprehensif. Transparansi data mengenai kondisi kesehatan paku bumi harus dapat diakses oleh publik sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah dalam menjaga mandat keberlanjutan. Pemulihan lingkungan tidak boleh lagi hanya menjadi proyek seremonial, melainkan harus menjadi gerakan kolektif yang terukur dan memiliki target capaian yang jelas bagi pemulihan ekosistem hulu.
Pendidikan ekologi berbasis sastra klasik dapat menjadi instrumen penting untuk membangun kembali koneksi antara generasi muda dengan identitas geofilosofis mereka. Memahami narasi Tantu Panggelaran akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaga gunung-gunung yang berdiri di sekitar mereka sebagai warisan peradaban yang tak ternilai. Kesadaran kolektif ini merupakan modal sosial yang sangat kuat untuk mengawal setiap kebijakan pembangunan agar tetap berada di jalur yang selaras dengan daya dukung alam. Mengembalikan taksu atau energi spiritual kedalam upaya konservasi akan membuat gerakan penyelamatan bumi memiliki napas yang lebih panjang dan tahan terhadap godaan pragmatisme.
Penghijauan kembali koridor sungai dan wilayah resapan air harus dilakukan dengan menggunakan jenis-jenis tanaman lokal yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi serta fungsi ekologis yang spesifik. Keberagaman flora akan mendukung kembalinya fauna penjaga hutan yang pada akhirnya akan mempercepat proses pemulihan alam secara mandiri. Langkah ini serupa dengan upaya "menjahit" serpihan-serpihan keagungan alam yang tercecer agar kembali menjadi satu kesatuan pasak yang kokoh menahan beban pulau. Keterlibatan komunitas dalam pembibitan dan penanaman pohon asli daerah akan memberikan dampak ekonomi langsung sekaligus memperkuat ketahanan sosial dalam menghadapi tantangan krisis iklim.
Transformasi kebijakan agraria juga diperlukan untuk memastikan bahwa kawasan penyangga pegunungan tidak jatuh ke tangan pihak-pihak yang hanya mengejar keuntungan finansial sesaat. Pemberian hak kelola hutan kepada masyarakat dengan syarat konservasi yang ketat merupakan cara yang lebih beradab dalam mendistribusikan keadilan ruang. Skema ini memastikan bahwa paku bumi tetap memiliki penjaga yang hidup berdampingan dengan alam, bukan sekadar penjaga keamanan berseragam yang dibayar oleh korporasi. Kedaulatan rakyat atas sumber daya alam harus diletakkan dalam kerangka besar menjaga stabilitas daratan sebagaimana tujuan utama pemindahan Mahameru ke tanah Jawa.
Penguatan regulasi mengenai sanksi bagi perusak wilayah hulu harus dilakukan tanpa pandang bulu guna memberikan efek jera bagi para pelanggar etika lingkungan. Hukum tidak boleh lagi bersifat elastis di hadapan pemilik modal yang berupaya mencabuti pasak-pasak bumi demi memperkaya diri sendiri. Kepemimpinan yang memiliki visi ekologis yang kuat diperlukan untuk mengambil keputusan sulit yang mungkin tidak populer namun esensial bagi keselamatan generasi mendatang. Keberanian untuk berdiri di sisi alam adalah cerminan dari martabat seorang pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan hanyalah alat untuk menjaga harmoni semesta yang sudah tatanan ini.
Rekonsiliasi antara kebutuhan pembangunan dan tuntutan pelestarian alam membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui batas-batas pertumbuhan yang bisa ditoleransi oleh bumi. Menjahit kembali keseimbangan berarti berani mengurangi kecepatan eksploitasi dan beralih ke pola hidup yang lebih bersahaja namun berkualitas. Upaya memaku kembali pulau yang hampir goyah ini adalah tugas sejarah yang tidak bisa ditunda lagi demi menghindari keruntuhan peradaban yang tragis. Melalui perpaduan antara kearifan purba dan nalar modern, manusia memiliki peluang untuk mewariskan bumi yang lebih stabil, hijau, dan damai bagi seluruh makhluk yang menghuninya.
Memilih Tetap Tegak atau Runtuh Bersama
Pilihan untuk tetap membiarkan pasak bumi tercerabut atau mulai menanamnya kembali dengan sungguh-sungguh akan menentukan nasib peradaban manusia dalam beberapa dekade mendatang. Tantu Panggelaran telah memberikan peringatan yang sangat benderang bahwa kestabilan sebuah daratan bukanlah sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma, melainkan harus diperjuangkan melalui tindakan penjagaan yang konsisten. Narasi purba ini menempatkan tanggung jawab pelestarian alam bukan sebagai beban moral semata, melainkan sebagai prasyarat mutlak agar rumah besar tempat kita bernaung tidak runtuh diterjang badai krisis. Mengabaikan pesan dari puncak Mahameru sama saja dengan mengundang kembali kegoncangan yang jauh lebih dahsyat daripada apa yang pernah dibayangkan oleh para leluhur.
Kehancuran sistemik yang mengintai di balik rusaknya pegunungan merupakan tagihan nyata atas ketamakan kolektif yang selama ini dianggap sebagai kemajuan pembangunan. Alam tidak akan pernah memberikan toleransi terhadap kebohongan atau retorika hijau yang hanya digunakan untuk memoles citra destruktif para Cupak modern. Setiap inci tanah yang longsor dan setiap mata air yang mengering adalah tanda bahwa pulau yang kita injak sedang kehilangan cengkeramannya akibat hilangnya paku-paku pengikat. Kesadaran untuk berhenti merusak harus segera tumbuh sebelum ambang batas daya dukung lingkungan terlampaui dan membawa semua pihak ke dalam pusaran kepunahan massal.
Kesempatan untuk memperbaiki tatanan dunia yang limbung masih terbuka lebar jika manusia bersedia menanggalkan ego dan mulai bekerja dengan etika Gerantang yang tulus. Menjaga kemurnian kawasan hulu dan merawat serpihan ekosistem yang tercecer merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap naskah sejarah dan masa depan. Keberanian untuk mengubah arah pembangunan menuju jalur yang selaras dengan irama alam adalah ujian kepemimpinan yang paling hakiki bagi bangsa ini. Masa depan tidak akan dibangun di atas fondasi beton yang angkuh, melainkan di atas keharmonisan hubungan antara manusia dengan gunung yang menjadi pelindungnya.
Pilihan untuk tetap tegak berdiri sebagai bangsa yang berdaulat secara ekologis menuntut pengorbanan terhadap kesenangan instan yang bersifat fana. Transformasi ini memerlukan konsistensi dalam menegakkan hukum lingkungan dan keberanian untuk menyingkirkan setiap kepentingan yang mengancam integritas pasak bumi. Keindahan pulau-pulau di nusantara hanya akan tetap terjaga jika paku-pakunya tetap tertanam kuat di tempat yang semestinya tanpa gangguan syahwat eksploitasi. Mari memandang kembali ke puncak-puncak gunung dengan rasa takzim, menyadari bahwa di sanalah kunci keselamatan dan keberlanjutan hidup kita sebenarnya tersimpan dengan sangat rapi.
Runtuh bersama dalam kemewahan yang semu adalah akhir yang tragis bagi sebuah peradaban yang pernah memiliki kearifan seluhur Tantu Panggelaran. Penolakan terhadap nalar ekstraktif yang membabi buta merupakan satu-satunya cara untuk memutus rantai bencana yang kian hari kian menghimpit ruang gerak manusia. Keterikatan batin dengan tanah air harus diwujudkan dalam aksi nyata untuk menanami kembali lereng-lereng yang gundul dan membebaskan sungai dari kontaminasi industri. Kejujuran dalam bertindak adalah komoditas yang paling mahal sekaligus paling diperlukan untuk menjamin bahwa pulau ini tidak akan lagi bergoyang oleh nafsu manusia yang tak pernah kenyang.
Sastra klasik Bali telah memberikan tuntunan yang sangat jelas bahwa kemuliaan manusia terletak pada perannya sebagai penjaga keseimbangan semesta. Setiap tindakan kecil yang dilakukan untuk melindungi integritas gunung merupakan kontribusi besar dalam menjaga eksistensi seluruh makhluk hidup di bawahnya. Memelihara paku bumi adalah investasi bagi keselamatan batin dan fisik generasi yang akan mewarisi bumi yang kian menua ini. Taksu kejujuran harus kembali ditiupkan ke dalam setiap kebijakan lingkungan agar upaya konservasi memiliki ruh yang mampu menggerakkan kesadaran kolektif secara masif dan berkelanjutan.
Tantu Panggelaran akhirnya menutup kisahnya dengan sebuah tatanan yang stabil, di mana manusia bisa hidup, berkarya, dan beribadah di atas daratan yang tenang. Pencapaian kondisi ideal tersebut bukan hasil dari sebuah keajaiban sesaat, melainkan buah dari keputusan sadar para dewa untuk memberikan pasak yang kuat bagi bumi. Manusia modern harus memiliki keberanian dewa tersebut untuk "memaku" kembali komitmennya dalam menjaga kelestarian pegunungan tanpa ada kompromi yang merugikan lingkungan. Keteguhan dalam menjaga prinsip ekologi akan menjadi warisan yang jauh lebih berharga daripada gedung-gedung pencakar langit yang rapuh di hadapan guncangan alam.
Pesan terakhir dari naskah purba ini sangat sederhana namun memiliki daya dobrak yang luar biasa bagi nalar manusia yang sedang tertidur: jagalah gunungmu, maka gunungmu akan menjagamu. Kestabilan pulau ini berada sepenuhnya di tangan kita yang hidup hari ini, di titik waktu yang sangat menentukan antara pemulihan atau kehancuran total. Mari berhenti menjadi Cupak yang terus mencabuti paku dunianya sendiri dan mulai menjadi Gerantang yang menjaga setiap pasak bumi dengan penuh cinta dan tanggung jawab. Hanya dengan cara itulah, daratan nusantara akan tetap tegak berdiri kokoh di tengah samudra waktu yang tak bertepi.
Penulis :
I Nengah Muliarta
Prodi Agroteknologi
Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi
Universitas Warmadewa


No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com