Gianyar, dewatanews.com - Berita duka menyelimuti Puri Agung Gianyar. Mantan Bupati Gianyar dua periode, Anak Agung Gde Agung Bharata, tutup usia pada Sabtu (21/2) setelah menjalani perawatan intensif lebih dari satu bulan di RSUD Sanjiwani Gianyar.
Almarhum mengembuskan napas terakhir setelah sebelumnya dirawat akibat kondisi kesehatan yang menurun. Pihak keluarga menyebutkan, selama masa perawatan, almarhum mengalami kesulitan makan.
“Beliau sudah dirawat lebih dari satu bulan di rumah sakit. Mungkin karena faktor usia juga, saat dirawat beliau susah dan tidak bisa makan,” ujar kerabat almarhum, Dewa Gede Agung.
Sore harinya, layon almarhum telah dipulangkan ke rumah duka di Puri Agung Gianyar untuk disemayamkan. Sejumlah kerabat, tokoh masyarakat, serta pelayat mulai berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Terkait prosesi pelebon (upacara kremasi), keluarga besar Puri bersama tokoh adat saat ini masih menggelar pertemuan guna mematangkan rangkaian upacara. Namun, secara kepakaran telah disepakati pelebon akan dilaksanakan pada 6 Maret 2026 mendatang, dengan rangkaian upacara yang akan diumumkan kemudian.
Anak Agung Gde Agung Bharata lahir pada 23 Juni 1949. Ia dikenal sebagai Bupati Gianyar ke-9 dan ke-11, yang menjabat pada periode 2003–2008 dan 2013–2018. Dalam kepemimpinannya, ia turut mewarnai perjalanan pembangunan Kabupaten Gianyar, khususnya dalam penguatan sektor pariwisata berbasis budaya dan tata kelola pemerintahan daerah.
Sebelum menjabat sebagai bupati, almarhum memiliki rekam jejak panjang dalam birokrasi pemerintahan. Ia pernah bertugas di Sekretariat Negara RI di Jakarta sejak 1977, di antaranya sebagai Koordinator Audio Video Sekretariat Negara serta menangani urusan dokumentasi dan media massa. Kariernya berlanjut sebagai Pembantu Pelaksana Harian Kepala Istana Tampaksiring, hingga kemudian dipercaya menjadi Kepala Istana Tampaksiring pada 1997–2003.
Selepas periode pertama kepemimpinannya sebagai Bupati Gianyar, almarhum juga sempat menjadi Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Bali periode 2010–2012.
Kepergian suami dari almarhumah Nanik Mirna ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar, kerabat, dan masyarakat Gianyar. Sosoknya dikenang sebagai figur pemimpin yang memiliki latar belakang birokrasi kuat dan pengalaman panjang dalam pemerintahan.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com