Upaya Bertahan Ditengah Pandemi Covid-19, Restaurant Bebek Tepi Sawah Ajak Warga Disiplin Prokes - Dewata News

Breaking News

2/3/21

Upaya Bertahan Ditengah Pandemi Covid-19, Restaurant Bebek Tepi Sawah Ajak Warga Disiplin Prokes

 

Gianyar, dewatanews.com - Mempertahankan usaha di tengah persaingan memang yang sangat sulit, terlebih di masa pandemi Covid - 19 , yang sudah hampir setahun berjalan.

Membuat kunjungan sepi, namun tidak demikian dengan pemilik Restaurant Bebek Tepi Sawah, BTS di Ubud, Gianyar  Jro Dukuh Sumerta.

Restaurant ini berupaya bertahan, walaupun pengunjung saat ini hanya sekitar 25 persen, dari biasanya.

Menurutnya, walau dengan kunjungan yang sangat minim, paling tidak biaya oprasional  sehari-hari bisa terpenuhi.

Kunjungan memang sempat ramai pada akhir tahun lalu, dengan diberlakukannya PPKM (Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sangat berpengaruh bagi perkembangan usahanya.

Siasat dengan pola ship karyawan terpaksa juga diterapkan untuk Restaurant tetap buka walaupun ditengah Pandemi Covid-19.

Ada  4 cabang lainnya di Bali, juga  diberlakukan dengan manajemen yang sama, hanya untuk menutupi biaya operasional seperti listrik, air dan lainnya.

Bertahannya usaha ini tidak lepas dari tetap memelihara menu bebek goreng dengan taste atau rasa lidah Bali.

Dengan Menu unggulan Bebek Goreng, pejabat utama presiden yang pernah menjabat dari era ke era, setiap kali makan dipastikan akan pesan Bebek Goreng ala Restaurant Bebek Tepi Sawah yang berlokasi di Banjar Teges, Peliatan, Ubud, Gianyar.

Sejatinya Usaha Resturant yang sangat terkenal hingga ke manca negara ini dilatar belakangi dan berawal dari pameran di jakarta.

Memiliki banyak kenalan, Jro Dukuh  Sumerta WDS juga sangat didukung oleh istrinya Ni Nyoman Sulasih (63).

Mantan penari oleg  asal Banjar Tebasaya, Ubud inilah yang juga memiliki hobby masak  akhirnya tercipta taste khusus di Restaurant ini

Sedangkan Jro Dukuh Sumerta WDS (64), menun enak yang dimilikinya,  tidak lepas, dan campur tangan langsung  dan terlibat dalam masak memasak.

Mulai meracik bumbu  juga mencicipi,  sendiri bebek khas tepi sawah dengan rasa yang gurih.

Untuk menguji ini, bahkan dirinya sering mengundang teman temannya untuk  makan di bersama si rumahnya. "Saya sering dan kerap khusus mengundang teman-teman, makan di rumah," paparnya.

Namun Restaurant dengan nama awal Tepi Sawah dan kini lebih keren dengan nama Bebek Tepi Sawah, berkembang tidak lepas dari upaya melestarikan budaya sebagai orang Bali.

Lokasi restaurant tetap mengutamakan alam persawahan menjadi andalan utama, sedangkan bangunan juga tetap mempertahankan arsitektur Bali.

Ini dibuktikan dengan bangunan dilokasi yang sama juga terdapat Puri Dukuh, seluruh bangunan di bangun dengan konsep arsitek Bali.
 
Jro Dukuh Sumerta WDS, yang juga pernah menjadi guide, kini juga cinta dengan benda seni karya seniman Bali.

Keris yang terus dibawanya menjadi satu identitas diri, disamping juga dengan cara ini bisa membangkitkan bisnis lokal, ekonomi kreatif, melibatkan banyak orang sebagai pergerakan ekonomi masyarakat.

Ditengah Pandemi, baginya,  nyawa sama pentingnya, dengan ekonomi. Dirinya tak ingin karyawan dan keluarganya mati covid, lebih-lebih mati akibat kelaparan. "Kita jangan sampai kemudian mati karena covid, apalagi mati karena kelaparan," jelasnya.

Olehnya setiap orang wajib melindungi diri, menjalankan Protokol Kesehatan, bekerja dengan kebiasaan baru, " Niscaya dengan cara ini kesehatan terjaga dan pekerjaan  tetap ada, sehingga  ekonomi juga tetap berjalan," tutupnya.

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com