Maestro Seni Tari Joged Buleleng Ketut Jingga Tutup Usia - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

Post Top Ad

Responsive Ads Here

3/12/20

Maestro Seni Tari Joged Buleleng Ketut Jingga Tutup Usia


Buleleng, dewatanews.com - Kesenian tradisional di  Buleleng kembali berduka. Para seniman seni tradisional kembali kehilangan seorang maestro seni tari joged asal Desa Sari Mekar, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Ketut Jingga. Ketut Jingga tutup usia di umur 68 tahun, pada hari Senin (10/3) petang. 

Ketut Jingga merupakan sosok yang sangat dikenal dikalangan seni tradisional khususnya tari joged. Sepanjang hayatnya ia abdikan untuk seni tradisional tari joged. Walau seni tari joged kerap didera stigma negatif, yang merusak estetika seni, namun jingga tetap berjuang untuk mempertahankan pakem joged sesungguhnya yang penuh dengan kesantunan. 

Terbukti hingga saat ini, hanya Ketut Jingga yang mampu mempertahankan sanggar joged sebunan, atau sanggar satu wilayah, di Buleleng. Jingga dikenal sebagai seniman yang cukup sederhana dan rendah hati. Semasa hidupnya jingga kerap menjadi pelatih tari joged di berbagai daerahdi bali. Banyak seniman  tradisional yang telah ia lahirkan dan banyak seniman yang telah ia ajak berkolaborasi dalam berkarya. 

I Gusti Ngurah Eka Prasetya, Pemilik sanggar Santhi Budaya merupakan salah seorang seniman muda yang sempat berproses bersama almarhum Ketut Jingga. Seniman yang akrab dipanggil Gus Eka, saat melayat dirumah duka pada Selasa, (11/3) menuturkan, dari segi garapan seni maestro Ketut Jingga tak dapat diragukan lagi. Pakem gerakannya sangat kuat unsur magesah (gerak gerik romantisme,red). Karakteristik pakem jogednya dinilai unik sehingga tak mudah ditiru dan digantikan oleh sekaa joged lain di Bali. 

“Jejak seni beliau tidak bisa dilupakan selain juga merupakan sosok yang tidak tahu malu dalam artian tidak hirau tempat, waktu dalam melestarikan kesenian. Seniman tua yang patut diteladani. Saya pernah berkolaborasi dengan maestro Jingga dalam sebuah garapan bersama Sanggar Dwi Mekar yang dirintis oleh maestro I Nyoman Durpa yang juga sudah berpulang. Garapan kolaborasi saat itu tampil di Garuda Wisnu Kencana (GWK) sanggar Dwi Mekar yang berkolaborasi dengan joged bumbung," jelasnya.


Dimata keluarga, Jingga merupakan sosok guru kesenian yang sangat tegas. Tegas dalam mempertahankan pakem-pakem joged yang sesungguhnya, dengan tetap mempertahankan etika kesopanan dalam menari. Meskipun beberapa tahun lalu, persaingan joged bumbung khususnya di Buleleng sempat tidak sehat dengan hadirnya penari atau sekaa joged porno. Namun  peraih penghargaan Wija Kusuma Kabupaten Buleleng tahun 2005 ini mewanti-wanti sekaa jogednya untuk tidak menerima order joged porno.

“Belaiu tidak pernah mau kalau ad ayang order berbua porno. Pak Jingga selalu bilang kalau ada order jalan, kalau tidak tidak apa-apa,” Tutur Komang Adya Yana, putra almarhum Ketut Jingga.  

Komang Adya Yana, juga menuturkan, sebelum meninggal jingga sempat berpesan kepada keluarganya, untuk tetep mempertahankan joged dan sanggar karya remaja yang telah dibesarkan selama ini. 

“Kemarin meninggalnya di rumah, itu baru tiga hari yang lalunya pulang dari rumah sakit, terakhir setelah jatuh dan tulangnya patah itu divonis TBC oleh dokter. Sudah sempat pulang, tapi sampai di rumah dua hari sudah tidak bisa masuk makanan apapun, kemarin  jam 6 sore meninggal, dan berpesan untuk tetep mempertahankan joged ” imbuhnya. 

Ketut Jingga yang lahir tahun 1952, telah mendapat berbagai anugrah kesenian, diantaranya anugrah Wija Kusuma Pemkab Buleleng tahun 2005 Dan Anugrah Pengabdi Seni, Seniman Tua Pemrov Bali tahun 2012. Ketut Jingga sudah perpulang kehadapan tuhan, namun semangatnya mempertahankan keajegan kesenian tari joged yang telah ditatapkan sebagai Warisan Tak Benda Dunia oleh UNESCO akan tetap hidup di tangan seniman-seniman muda bali. (DN - KOP)

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here