Gerah Akibat Matahari Tepat di Atas Bali - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

10/23/15

Gerah Akibat Matahari Tepat di Atas Bali

Denpasar, Dewata News.com – Kendati suhu di Bali masih tergolong dalam keadaan normal, posisi matahari yang berada tepat di atas Pulau Bali, ternyata berpengaruh pada rasa ‘kegerahan’ yang dialami warga masyarakat sejak seminggu belakangan ini. Belum lagi ditambah karena lamanya tidak turun hujan, sehingga selain kering, posisi matahari pas di atas Bali tidak dipungkiri memang membuat masyarakat menjadi lebih gerah. 

     “Oktober ini, posisi matahari memang tepat berada di atas Bali. Bali letaknya berada di sebelah khatulistiwa sedikit, matahari ini pas di atas khatulistiwa. Tapi ini ada legnya, biasanya ada beberapa waktu yang diperlukan untuk membuat suhu menjadi panas,” ujar Kabid Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika wilayah III Denpasar, Nyoman Gede Wiryajaya, Kamis (22/10).

     Datangnya musim hujan yang diprediksi turun pada Nopember mendatang diharapkan bisa menyeimbangkan kondisi tersebut. Namun turunnya hujan kemungkinan akan mengalami kemunduran dari satu dasarian hingga lima dasarian, dengan rata-rata mundurnya sekitar 10 harian.

     “Kami tetap memprediksi Nopember datangnya musim hujan. Elnino sendiri kami prediksi akan berlangsung hingga Desember ini, sehingga pengaruhnya ada wilayah yang mengalami musim hujan dengan curah hujan normal dan adapula yang curah hujannya dibawah normal. Untuk curah hujan dibawah normal yaitu di Beleleng pesisir barat, Nusa Penida, Bangli dan Karangasem,” paparnya.

    Selain itu, daerah yang diprediksi tidak hujan berturut-turut 31-60 hari ke depan, yaitu Kabupaten Karangasem (Bebandem, Seraya tengah, Sidemen, Seraya timur, Perasi, Sebudi), Kabupaten Gianyar (Pejeng Kaja), Kabupaten Tabanan (Megati, Luwus), Kabupaten Bangli (Kawan), Kabupaten Klungkung (Batu Kandik, Klumpu), Kota Denpasar (Sumerta).

    Sedangkan daerah yang tidak hujan berturut-turut lebih dari 60 hari yaitu Kabupaten Buleleng (Sumberklampok, Gerokgak, Tukadmungga, Patas, Sukasada, Tejakula, Kubutambahan, Celukan Bawang, Sumberkima, Gretek, Bondalem, Bengkala, Gitgit, Kloncing, Banyupoh, Tangguwisia), Kabupaten Badung (Kapal, Kuta, Petang, Tuban, Jimbaran, Pecatu), Kabupaten Bangli (Kintamani, Catur, Toya Bungkah, Penelokan).

    Lalu, Kabupaten Tabanan (Pajahan, Beraban), Kabupaten Jembrana (Melaya, Pengajaran, Cekik), Kabupaten Karangasem (Abang, Kahang-Kahang, Amlapura, Kubu, Pempatan, Tianyar, Sukadana, Tulamben), Kabupaten Klungkung (Sampalan, Prapat), Kota Denpasar (Sanglah, Pedungan), Kabupaten Gianyar (Ponggang, Kemenuh). “Ranking teratas yaitu Kabupaten Bangli 168 hari untuk di wilayah Catur, Kabupaten Buleleng 146 hari untuk di Sumberkima, Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Badung 142 hari untuk di Grokgak dan Jimbaran serta Pecatu,” terangnya.

     Disinggung terkait pengaruh kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera terhadap musim hujan, untuk Bali tidaklah terlalu intens pengaruhnya. Kemungkinan pengaruhnya bersifat nasional dan di wilayah lokasi sumber terjadinya kebakaran. Sementara itu untuk perairan, memang diakuinya belakangan gelombang laut agak tinggi dan sudah diberikan warning. Ketinggian gelombang di perairan utara Bali dari 0,8-2,3 meter dan selatan Bali yaitu 0,8-3,0 meter. 
    “Prakiraan cuaca masih berawan, sedangkan angin bertiup dari imur-tenggara 10-34 km/jam. Waspadai gelombang tinggi dari perairan utaraselatan Jawa Timur, Bali, NTB, NTT,” imbuhnya. (DN ~ PB).-

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com