Yogjakarta, Dewata News.Com – Menurut Dolores Foley, PhD, seorang peneliti dari Amerika Serikat (AS), Bali rawan gempa dan tsunami. Hal itu ia ungkapkan dalam konferensi internasional bertajuk “Pengelolaan Pariwisata di Tengah Ancaman Risiko Bencana” yang digelar di Yogyakarta pada Senin (15/9).
“Bali termasuk daerah berisiko kena tsunami tinggi dengan pantai dataran
rendah, tetapi untungnya dilindungi oleh pulau Jawa dan Sumatera dari kejadian
tsunami di Samudera Hindia tahun 2004,” ujar Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota
dari University of Hawaii, Amerika Serikat tersebut.
Hal itu, menurutnya Foley, karena Bali berada di posisi “Cincin Api
Pasifik” (Pacific’s Rings of Fire) bersama-sama dengan 28 daerah lainnya di
Indonesia.
Wilayah lain yang berisiko terkena gempa
dan tsunami tersebut di antaranya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Sulawesi Utara,
Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen, Fak-fak, dan
Balikpapan.
Kesemua wilayah itu, menurut Foley, membutuhkan informasi tepat yang
bersumber dari hasil penelitian akurat dalam mempersiapkan langkah-langkah
antisipasi terhadap potensi bencana gempa dan tsunami. Terlebih-lebih bagi
Bali, Yogyakarta, NTB dan NTT, yang tergolong destinasi wisata unggulan bagi
Indonesia.
Untuk mewujudkan hal itu, masih menurut Foley, dibutuhkan perencanaan,
komunikasi efektif dan kemitraan antara masyarakat dan pengelola pariwisata.
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Magister Studi Manajemen
Bencana, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr,
Sudibyakto, M.S. Tiap kali bencana itu muncul, menurutnya, bisa memberikan
dampak ekonomi cukup besar terutama bagi daerah yang ekonominya mengandalkan
sektor pariwisata seperti Bali dan Yogyakarta.
“Sektor ini sangat rentan terhadap persepsi publik karena alasan
keselamatan dan kesehatan, sehingga membutuhkan strategi untuk mengurangi
dampak risiko yang ditimbulkan,” ungkap Prof Sudibyakto dalam keterangan
tertulisanya.
Meski pemerintah telah membentuk badan yang khusus menangani
penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah, menurut Prof Sudibyakto,
antisipasi dan mitigasi bencana untuk daerah yang menjadi tujuan wisata masih
sangat kurang. Padahal, katanya, industri pariwisata di beberapa daerah saat
ini menjadi salah satu sumber pendapatan dan penghasil devisa terutama bagi
daerah yang minim sumber daya alam seperti di Yogyakarta dan Bali.
Untuk mengurangi dampak kekhawatiran pengunjung terhadap ancaman risiko
bencana, Sudibyakto menyarankan, upaya melakukan penilaian risiko dan
pemasangan sistem peringatan dini risiko bencana menjadi sebuah keharusan. Hal
itu bisa dilakukan oleh pemerintah, masyarakat lokal, dan pelaku industri
pariwisata.
“Ini jauh lebih efektif ketimbang hanya
mengandalkan proses pemulihan pascabencana,” imbuhnya,
Bencana gempa dan tsunami di Aceh tahun
2004 dan gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tahun 2006, menurutnya,
menjadi pelajaran penting bagi semua pihak tentang pentingnya manajemen penanggulangan
bencana.
“Keduanya menjadi bukti kita membutuhkan
strategi pengurangan risiko bencana,” pungkas Prof Sudibyakto. (DN~PB).—

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com