
Setiap tanggal 30 Maret sudah merupakan keharusan masyarakat Buleleng merayakan Ulang Tahun Kota Singaraja yang telah didirikan Ki Barak Panji Sakti, tepatnya 30 Maret 1604 dan tanggal 30 Maret 2014
, genap berusia 410 tahun.
Wartawan senior Made Tirthayasa mencoba
menyimak sejarah Kota Singaraja, di samping beberapa komentar lainnya.-
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sejarah Kota Singaraja
tidak bisa lepas dari muculnya seorang penguasa di Bali Utara pada pertengahan
abad XVII, yang berhasil membangun daerah tersebut, sehingga maju dan disegani
oleh daerah-daerah lain, baik yang ada di Bali maupun di luar Bali. Beliau
adalah Anglurah Panji Sakti. I Gusti Nurah Panji Sakti, putra dari Dalem
Sagening yang pusat kekuasaannya di Gelgel dan ibunya bernama Si Luh Pasek
Panji.
Masa pemerintahan I Gusti Ngurah Panji
Sakti di Bali Utara cukup lama, kurang lebih 81 tahun, yaitu dari tahun
1959-1680. Beliau bersama ibunya diperintahkan kembali ke Den Bukit oleh
ayahndanya, yaitu Dalem Sagening disertai pasukan pengawal sebanyak 40 orang
dengan pimpinannya Ki Kadosot dan Ki Dumpyung. Sementara Dalem Sagening
memberikan bekal Ki Barak (nama panggilan I Gusti Ngurah Panji) sebuah tombak
yang kemudian terkenal dengan nama Pangkaja Tatwa dan sebuah keris anugerah
dewata bernama Ki Mudaran Cacaran Babang.
Setelah sampai di Desa Panji, beliau
tinggal bersama ibundanya Si Luh Pasek Panji di rumah kakeknya, bernama Pasek
Gobleg. Sedangkan pengiringnya berjumlah 40 orang kembali ke Gelgel, kecuali Ki
Kadosot dan Ki Dumpyung yang selalu mengemban dan mendampingi Ki Barak Panji
Sakti sesuai dengan tugas yang diberikan oleh Dalem Sagening.
Pada waktu itu di daerah Gendis dikuasai
oleh seorang penguasa bernama, Pungakan Gendis yang menurut cerita suka bermain
judi dan mabuk-mabukan. Karena itu, ia kurang disenangi oleh rakyatnya.
Setelah Ki Barak menginjak usia dewasa dan
berkat bimbingan dari Ki Kadosot dan Ki Dumpyung, beliau menjadi seorang pemuda
yang mempunyai kharisma dan daya tarik tersendiri. Selanjutnya diceritakan, Ki
Barak Panji yang sangat disenangi dan disayangi mampu mengalahkan Pungakan Gendis. Mulai saat itu, Ki Barak
Panji oleh masyarakat Gendis dipercaya menjadi pemimpinnya.
Masyarakat Desa Gendis sangat kagum
setelah Ki Barak Panji dapat membantu kandasnya sebuah perahu milik saudagar
Cina di segara Penimbangan. Kemudian saudagar Cina tersebut menghadiahkan
banyak barang-barang, seperti kain-kain sutra, maupun keramik yang dibawa
saudagar tersebut. Setelah kejadian di Segara Penimbangan tersebut, beliau
kemudian secara aklamasi diangkat sebagai penguasa daerah Gendis dan
selanjutnya beliau membangun sebuah istana di Desa Panji. Kemudian menyunting
anak satu-satunya Pungakan Gendis menjadi permaisurinya.
Setelah menjadi penguasa di Panji, beliau
segera berencana membentuk satu kelompok prajurit sebagai Bhayangkara daerahnya
yang kemudian prajurit tersebut terkenal dengan nama ‘’Taruna Goak’’.
Karena pertimbangan-pertimbangan politis
dan strategis, I Gusti Ngurah Panji Sakti memindahkan ibu kotanya yang didiami
hampir sepuluh tahun ke arah timur, yaitu Sukasada.
Di istana yang baru inilah, beliau secara
cepat bersinar terang. Karena prajurit Goak-nya semakin kuat berkat merekrut
tenaga-tenaga pelarian dari VOC. Seperti Henrik Berede Roode dengan anak
buahnya,diangkat sebagai instruktur Taruna Goak.
Setelah merasa diri kuat sesuai petunjuk
pawisik yang diterima dan setelah 8 tahun pemerintahannya di istana Sukasada,
Ki Gusti Ngurah Panji menyerang daerah Blambangan. Dalam penyerangan tersebut,
akal dan pikiran yang cemerlang beliau bekerjasama dengan prajurit Mataram
pimpinan Tumenggung Danupaya (Tahun 1602 M). Dari kerjasama ini dalam waktu
relatif singkat Blambangan dapat ditaklukkan.
Kemenangan terhadap Blambangan, di samping
kegembiraan bagi prajurit Goak, tetapi sangat sedih karena anak Ki Gusti Ngurah
Panji Sakti yang ketiga yang lahir dari permaisuri Ni Ayu Juruh gugur dalam
pertempuran. Hal ini sangat dirasakan sebagai pukulan yang hebat bagi beliau
karena Ki Danu Dresta sangat diharapkan nantinya sebagai penggantinya. Akibat
hal itu, beliau mengasingkan diri kesebelah Utara Sukasada, dimana di daerah
tegalan tumbuh pohon Buleleng (jagung gembal).
Selanjutnya, setelah 18 tahun beliau
beristana di Sukasada secara bertahap ditinggalkannya dan dibangunlah istana
yang baru di sebelah Utara Sukasada. Istana yang baru tersebut kemudian diberi
nama, Singaraja untuk mengenang keperkasaan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti seperti
seekor singa. Dari Puri inilah berkembang pembentukan kota yang baru yang kita
kenal bernama ‘’Kota Singaraja’’ yang kini berusia 407 tahun.—
Tantangan
Pemkab Buleleng
Peningkatan
Kesejahteraan Masyarakat
Buleleng
yang dikenal sebutan Den Bukit dengan ibu kotanya Singaraja, 30 Maret 2014
ini memasuki usia 410 tahun. Diusianya lebih dari empat abad itu, Kota
Singaraja khususnya dan Buleleng pada umumnya
telah mengalami proses perobahan yang mendasar, baik menyangkut
pembangunan fisik maupun non-fisik.
Sebagai warga masyarakat Buleleng bisa
berbangga hati karena kabupaten di belahan Utara pulau Bali ini memiliki daerah
paling luas dan potensi yang cukup besar dibanding kabupaten lain di Bali.
Sudahkah potensi yang cukup besar itu digali secara optimal merupakan
pertanyaan yang muncul beranekaragam dari berbagai kalangan.
Pemerintah beserta seluruh komponen
masyarakat Buleleng telah banyak berkiprah dalam membangun Buleleng dan Kota
Singaraja khususnya. Tetapi, kesemuanya itu masih menyisakan kekurangan yang
harus dibenahi di masa mendatang. Karena apa yang akan dilakukan dan dikerjakan
dalam membangun Buleleng ke depan merupakan penentu bagi warna dan jati diri
mayarakat Buleleng. Pembangunan Buleleng ke depan sudah seharusnya bertumpu
pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Buleleng yang menjadi kebutuhan dan
dambaan masyarakat.
Adalah Ketua LP3B Buleleng, Ir. Gede
Wisnaya Wisna secara jujur mengakui, pembangunan di Buleleng telah berjalan
dengan baik. Namun, dari aspek pembangunan lingkungan, pendidikan maupun aspek
sosial lainnya perlu mendapat perhatian serius Pemkab Buleleng. LSM yang getol
menyoroti masalah lingkungan, terutama terkait mulusnya pembangunan proyek
PLTGU Pemaron,.
Gede Wisnaya Wisna ini menilai belum
gregetnya komitmen Pemkab Buleleng
terhadap pembangunan lingkungan. Termasuk pula, di sektor pendidikan dan
masalah sosial lainnya di Buleleng nampak semakin berat yang perlu mendapat
perhatian. Dia menyimak, banyaknya pengangguran dengan sulitnya lapangan kerja
serta maraknya perjudian sebagai penyakit masyarakat.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Pengkab
Lemkari Buleleng Ida Bagus Sudirga Raka, semakin hari wajah Kota Singaraja
makin ditata termasuk pembangunan di Buleleng makin meningkat, kendati perlu
lebih ditingkatkan lagi agar dapat dinikmati oleh seluruh warga masyarakat.
Disisi lain, Ketua Orari Lokal Buleleng
ini mengisyaratkan, pemkab Buleleng
perlunya meningkatkan pembangunan sektor perekonomian dan spiritual.
Geliat pembangunan yang tengah dilakukan
Pemkab Buleleng dibawah kendali dwitunggal kepemimpinan, Putu Agus Suradnyana dan
Nyoman Sutjidra dirasakan pula oleh Ketua Kelompok Nelayan Putra Samudra di
Kelurahan Kaliuntu, Wayan Pasek.
Sebagai masyarakat pantai, dia mengharapkan
perhatian pemkab Buleleng lebih memberikan perhatian kepada kelompok nelayan
yang sebagian besar masih menggunakan alat tangkap secara tradisional.
Pembangunan sektor pendidikan umumnya sudah
berjalan baik, hanya saja kalangan pendidikan, terutama pelajar mengharapkan
adanya peningkatan dalam pemberian bea siswa kepada pelajar dalam menumbuhkan
motivasi proses belajar.
Menyadari semua itu dan karena masyarakat
menjadi subjek dan sekaligus objek pembangunan, Buleleng masih belum terlambat
berbenah diri dengan dukungan dan partisipasi semua pihak, terutama masyarakat
Buleleng sebagai hal terpenting dalam membangun Buleleng. Bupati Putu Agus
Suradnyana dan jajarannya harus mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat
Buleleng.
Kepercayaan itu dapat diraih jika kita
semua berpegang teguh pada kejujuran, toleransi demokrasi dan kemandirian
melalui komunikasi dan itikad baik. Bahkan, perlu makin ditingkatkan jalinan
kerja sama yang harmonis antara legislatif dan eksekutif dalam menggerakkan
geliat pembangunan di Buleleng. Dirgahayu Kota Singaraja.—
Kepemimpinan Ki Barak Panji Sakti Belum Diteladani
Kepemimpinan Anglurah Ki Barak Panji
Sakti sebagai Raja pertama Denbukit (Buleleng) ternyata hanya diagung-agungkan
saja dan belum mampu diteladani oleh sebagian besar warga masyarakat Buleleng,
khususnya warga Singaraja.
Selaku keturunan
Raja Buleleng, Anak Agung Ngurah Ugrasena menilai, kepemimpinan Anglurah Panji
Sakti mampu mengarahkan kekuatan masyarakatnya yang merupakan rakyat buangan
untuk bisa mempersatukan Buleleng.
Disisi lain,
Pengelingsir Puri Gede Buleleng ini menambahkan, dengan keanekaragaman budaya
menjadikan aset tersendiri bagi para pemimpin Buleleng selama mereka mampu
menempatkan orang-orang sesuai kemampuan dan keahlian mereka.
Dengan kenyataan
yang ada itu, Anak Agung Ngurah Ugrasena, tergelitik mengikuti perkembangan
sebagai rasa bakti kepada leluhurnya, Raja Buleleng sesuai dengan swadharmanya.
Anak Agung Ngurah
Ugrasena menandaskan, Ki Barak Panji Sakti berhasil membangun kerajaan Denbukit
(Buleleng), baik aspek perluasan wilayah kekuasaan, kesejahteraan rakyat,
membangun simpati, dukungan, komitmen dan kesetiaan rakyat didalam proses
pembangunan.
Disisi lain, Ki
Barak Panji Sakti juga berhasil secara gemilang memimpin rakyat Denbukit
(Buleleng) ke arah kehidupan harmonis dan damai dalam nuansa keanekaragaman sraddha (iman) dan budaya. Jiwa
kepemimpinan semacam ini yang patut ditiru oleh para pemimpin di era reformasi
saat ini, termasuk warga Buleleng khususnya. (DN~TiR).—
No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com