Bali Age Bersiap Jadi Destinasi Baru, SCTP ”Jual’’ Alam dan Budaya

PREMAN...!!!   Akronim SCTP mungkin tidak asing bagi kalangan masyarakat Buleleng. Jika menyebut salah satu dari desa SCTP, yakni. Si...


PREMAN...!!! 
Akronim SCTP mungkin tidak asing bagi kalangan masyarakat Buleleng. Jika menyebut salah satu dari desa SCTP, yakni. Sidatapa, Cempaga, Tigawasa dan Pedawa maka kesan pertama yang muncul adalah ’’Preman’’. 
 
Desa Sidetapa ialah Desa Bali aga atau desa tua di Bali yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 75 masehi dengan penduduk pendatang yang berasal dari Sektor Daerah Batur dari Daerah Dauh Toro Ireng dan Daerah Jawa pengikut Rsi Markandea. Penduduk Desa Sidetapa sendiri ketika itu terdiri dari 3 kelompok yakni Kelompok yang menamakan dirinya warga Pasek yang mendiami wilayah Leked, Kelompok yang menamakan dirinya warga Patih yang mendiami wilayah Desa Kunyit, Kelompok yang menamakan dirinya warga Batur yang mendiami wilayah Sekarung.
 
Rumah Unik
Ada yang menarik untuk diperhatikan dengan seksama ketika berkunjung ke Desa Sidetapa ini yakni bentuk rumahnya yang berpola persegi panjang dimana terbagi menjadi tiga bagian yakni Jeroan, Jaba Tengah, dan Bencingah. Ketiga bagian tersebut disekat dengan tembok kayu yang berpintukan kayu juga. didalam sendiri terdiri dari beberapa sekatan kecil untuk tempat suci. Sementara di Jaba Tengah merupakan tempat suci untuk para leluhur, dapur, dan ruang tinggal serta ruang pintu masuk menuju rumah.
 
Kesan wilayah yang konon diidentikkan sebagai basis kerusuhan itu, kini tidak ada lagi. SCTP yang menakutkan kini telah merubah tampilannya menjadi wilayah yang selalu dirindukan untuk dikunjungi. Apa saja yang dilakukan sthakeholder di wilayah SCTP dalam mewujudkan SCTP sebagai destinasi wisata baru di Bali Utara ?
 
Segenap komponen masyarakat di empat Desa tersebut kini mulai bangkit. Sidatapa, Cempaga, Tigawasa dan Pedawa telah bersiap menjadi primadona baru dengan menawarkan berbagai potensi yang tersimpan di Desa Baliage itu. 
 
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas geliat yang telah dilakukan masyarakat di Bali Age (Bali Mule), sehingga jalan-jalan di desa tersebut sudah di hotmix.
 
”Tempo doeloe karena wilayah Bali Age seperti terisolir,sehingga ada kesan yang konokasinya negatif, tapi sekarang dengan jaringan jalan yang sudah mulus menunjang desa-desa Bali Age makin terbuka dan cemerlang,” ucap Bupati PAS disela-sela malam resepsi HUT ke-413 Kota Singaraja, Kamis (30/03) malam.
 
Bahkan, beberapa waktublalu, desa-desa di kawasan Bali Age (Desa Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan Banyuseri) semakin bergerak maju. Kini, kelima desa ini membentuk sebuah kepengurusan bersama Manca Warna Mahagotra Bali Aga SCTPB.
 
Dalam susunan kepengurusannya, Masing-masing bendesa pekraman di lima desa didaulat sebagai Penasehat, sementara susunan struktur utama dari kepengurusan adalah para kepala desa dari lima desa tersebut. Ketuanya adalah Perbekel Tigawasa, Made Suadarma Yasa, Wakil Ketua yakni Perbekel Desa Pedawa I Putu Sudarmaja dan Perbekel Desa Sidatapa. Sementara Sekretaris Perbekel Cempaga, Putu Suarjaya serta Bendahara dijabat oleh Perbekel Desa Banyuseri Nyoman Sukadana.
 
Salah satu tokoh muda asal Sidatapa, Wayan Ariawan menuturkan, Sidatapa yang berada diketinggian sekitar 650 meter diatas permukaan laut sangat potensial dikembangkan sebagai destinasi wisata. Pasalnya, selain bersuhu sedang, di Desa ini para wisatawan akan dimanjakan oleh alamnya yang masih alami.
 
Selain pesona alam, beberapa seni tradisi, seperti tari jangkang, tari rejang, tari ngabuang dan beberapa tarian sakral lainnya akan menjadi pelengkap referensi budaya yang tidak bisa ditemui ditempat lain di Bali.
 
“Tari rejang dan jangkang biasanya dipentaskan khusus untuk menyambut hari raya Galungan dan Kkuningan. Sedangkan pada penutup perayaan Kuningan, tari ngabuang selalu menjadi primadona untuk dipentaskan pada malam harinya,” ujar Ariawan.
 
Sebagaimana di Sidatapa, masyarakat Cempaga juga sangat lekat dengan tari-tarian tersebut. Bahkan Tari Jangkang, Tari Baris Dadap dan Jojor, Tari Pendet, Tari Rejang, Tari Sanghyang, Tari Gandrung dan Tari Bali-Balian lainnya sempat memukau Tim Penilai Lomba Desa Adat 18 Juli lalu.
 
“Tari Wali itu merupakan tarian yang kami terima secara turun-temurun dari tetua kami dahulu. Tari-tarian ini harus kami tampilkan saat Puja Wali atau Piodalan di pura, karena tari-tarian tersebut merupakan runtutan dari acara piodalan”. jelas Bendesa Adat Desa Cempaga I Nyoman Dira.
 
Beberapa kearifan lokal yang membedakan Budaya di Bali dengan Desa Baliage yang ada di kawasan SCTP adalah peninggalan kuno berupa rumah traditional yang dikenal dengan sebutan Bale Gajah Tumpang Salu.
 
Bale gajah Tumpang Salu, menurut Ariawan, memiliki makna rumah besar yang memiliki tiga ruangan. Yaitu ruang nista mandala yang digunakan untuk menerima tamu, madya mandala adalah ruangan yang digunakan melakukan aktivitas sehari-hari, seperti memasak, membuat sesajen dan kegiatan lainnya. Sedangkan mandala utama adalah sebagai ruangan suci dalam melaksanakan kegiatan keagamaan.
 
”Intinya semua aktivitas semuanya berpusat dirumah. jika masyarakat desa Sidatapa melakukan kegiatan upacara adatnya, harus dimulai dari rumah tradisional tersebut. Salah satu keunikan disini, setiap warga desa yang sudah masuk anggota krama desa harus memiliki rumah tradisional seperti itu”, ungkap Ariawan.
 
Perbekel Desa Cempaga, Putu Suarjaya mengatakan, pihaknya akan tetap konsisten menjaga tradisi serta kearifan lokal diwilayahnya. “Bukan hanya di Desa Cempaga saja, tetapi kami akan tetap bersatu padu dengan empat desa lainnya yang ada di kawasan Baliage (Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan Banyuseri) dalam menjaga budaya masing-masing.
 
“Hal ini sangat penting kami pertahankan, karena kami memiliki budaya dengan karakteristik yang berbeda disetiap desa budaya. Jadi apa yang kami wariskan di Baliaga adalah merupakan peradaban budaya yang memilki nilai sangat tinggi,” jelas Suarjaya. 
 
Guna mendukung desanya sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Buleleng, menurut Suarjaya, pihaknya telah menyiapkan SDM dengan menyiapkan kursus Bahasa Asing.
 
“Kami disini sudah ada kursus Bahasa Inggris bagi anak-anak dari pihak yayasan. Dan untuk yang dewasa kami juga siapkan kursus Bahasa Inggris pariwisata. Tujuannya supaya nanti mereka siap sebagai guide lokal untuk meng-handle tamu-tamu,” imbuhnya.
 
Camat Banjar Gusti Ngurah Nuradi sangat menyambut baik upaya yang dilakukan desa-desa yang ada diwilayahnya. Termasuk Cempaga dalam melestarikan adat dan budayanya.
 
“Untuk Desa Baliage ini agar tetap melestarikan adat dan budayanya, sehingga ada ciri khas dari desa lainnya. Dan kami selalu melakukan pembinaan-pembinaan, baik yang sifatnya teknis maupun non teknis. Kalau masalah teknis kiami akan kordinasikan dengan SKPD terkait. Sementara untuk yang non teknis, terutama yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan, kami selalu memotifasi agar Desa Baliaga bisa menciptakan suasana aman, tertib, nyaman dan terkendali, sehingga apa yang di harapkan dalam dunia pariwisata, terutama keamanan dan kelestariannya itu bisa tetap terjaga,” jelas Camat Nuradi.  Made Tirthayasa.—

Berita Terkait

Kabar Buleleng 8245152565196439359

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

YURA Shop

Populer

item