Orientasi Kehumasan & Press Tour Bali-Makassar (bag-2)

TPST Terbaik Nasional Bantaeng Bisa Diterapkan di Buleleng Catatan:  I   Made Tirthayasa   Komitmen Pemkab Buleleng  di bidang ...


TPST Terbaik Nasional Bantaeng Bisa Diterapkan di Buleleng

Catatan: I Made Tirthayasa
 
Komitmen Pemkab Buleleng di bidang lingkungan masih terus digalakkan. Kali ini untuk memantapkan komitmen itu, Pemkab Buleleng melalui pimpinan SKPD terkait, dipimpin Asisten II Pemkab Buleleng Ida Bagus Made Geriastika, secara khusus melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), pada hari Selasa (23/08).
 
     Bahkan, menjadi perhatian kunjungan kerja yang diagendakan Kabag Humas Made Supartawan ini dari beberapa pimpinan SKPD lingkup Pemkab Buleleng. di antaranya Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Nyoman Genep, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Nyoman Swatantra, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan I Ketut Nerda, Kepala Badan Lingkungan Hidup Nyoman Surya Temaja.MP, Kepala Badan / Satpol PP Kabupaten Buleleng Ida Bagus Suadnyana.
 
      Bantaeng merupakan satu-satunya kabupaten yang meraih Adipura selama 9 tahun beruntun Sehingga Kabupaten Bantaeng merupakan tujuan utama dari Pemkab Buleleng, di mana antara Kabupaten Bantaeng dan Kabupaten Buleleng memiliki komitmen yang sama, yakni kebersihan lingkungan.
 
    Dari perjalanan yang melelahkan lebih dari tiga jam dari Kota Makassar, tidak mengurangi semangat bertemu dengan pejabat di Pemkab Bantaeng.TPSP di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini sudah meraih predikat Terbaik Nasional. Karena itu, tidak salah TPSP ini menjadi obyek peninjauan rombongan Orfientasi Kehumasan dan Press Tour kali ini.
           
    Sebelum peninjauan ke lokasi TPST, rombongan mendapat penerimaan secara khusus di Kantor Bupati Bantaeng, kendati Bupati maupun Wakil Bupati, termasuk Sekda tidak ada di tempat, namun hampir seluruh pimpinan SKPD hadir dipimpin Kepala Bappeda Bantaeng Prof. H. Syamsu Alam.
 
    Dari pertemuan yang dipimpin Kepala Bappeda Bantaeng itu, beberapa hal menjadi topik pembahasan, mulai dari penataan infrastruktur hingga program-program lingkungan.
 
    ”Di Kabupaten Bantaeng jumlah penduduk sekitar 200 ribuan. Untuk program kebersihan, kami utamakan lewat gerakan penanaman pohon, sekaligus penataan taman. Kami juga menyediakan call center untuk dijemput sampahnya. Ini kerjasama dengan semua pihak,” kata Syamsu Alam.
 
     Bantaeng juga merupakan kabupaten yang dinilai memiliki Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) terbaik. Sehingga Buleleng yang juga memiliki TPST melakukan pemantauan terkait tata cara pengelolaannya. Secara manajemen, pengelolaan TPST di Bantaeng dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Sedangkan Pemkab Bantaeng hanya mengawasi dan memberikan pelatihan.
 
    “TPST di Bantaeng ada tujuh unit, kerjasama dengan pihak luar. Ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat, kami hanya mendampingi. Jumlah penduduk kami memang sedikit, tapi sistem manajemen pengelolaannya kami utamakan dan kesadaran masyarakat,” ujar Kasubid Pengendalian Dampak Lingkungan dan Amdal Bapedalda Bantaeng, Rukiyati.
 
     Sementara salah seorang pengelola TPST yang saat itu dikunjungi, Syamsudi menjelaskan, sampah-sampah yang dikumpulkan kebanyakan merupakan sampah plastik. Di mana warga dengan sadar mendatangi TPST membawa sampah.
 
     “Per kilogramnya biasanya Rp1.500. Kalau sudah bersih bisa dijual Rp5.000 per kilogram dan dijual ke luar,” beber Syamsudi.
 
      Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Buleleng, Nyoman Genep mengaku, akan mengadopsi beberapa cara tentang pengelolaan TPST di Kabupaten Bantaeng. Menurutnya, jumlah TPST di Buleleng saat ini ada sebanyak 25 yang dikelola oleh pihak Desa.
 
     “Sebenarnya kendala kami itu, masyarakat kami di Buleleng itu banyak, hampir berjumlah 900 ribuan ditambah wilayah yang luas, kesadaran masyarakat kurang. Dibandingkan Bantaeng yang di bawah kami. Tapi apapun itu, kami akan adopsi cara-cara pengelolaan TPST di Bantaeng ini agar diterapkan di Buleleng,” kata Genep didampingi Kepala BLH Buleleng, Surya Temaja.
 
     Meski siap mengadopsi, lanjut dia, komitmen antara Pemkab Buleleng bersama masyarakat Buleleng harus bisa terjalin. Sehingga untuk bisa memantapkan pengelolaan TPST di Buleleng, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak desa-desa di Buleleng untuk membuat TPST dengan memanfaatkan ADD.
 
    “Kan ada ADD, itu bisa dimanfaatkan oleh pihak desa, ini bisa kami lakukan. Kami akan koordinasikan lagi kepada semua desa di Buleleng. Selain membuat lingkungan desa bersih, bisa juga menjadi pendapatan bagi desa itu sendiri. Dan ini akan menjadi terobosan kami di Buleleng,” papar Genep.
 
   Menurut Genep, saat ini produksi sampah di Buleleng tercatat 125 ton per hari. Total volume ini jauh lebih sedikit dengan volume sampah di Bantaeng yang hanya 70 ton per hari. Volume yang semakin tinggi itu tidak bisa dihindari karena perkembangan penduduk di Bali Utara.
 
    ”Kalau pemilahan dan pengolahan hinga menjadi bahan setengah jadi di Bantaeng sudah dilakukan, nah kita belum lakukan itu. Cara ini nantinya akan kita coba tiru dan ini perlu kita lakukan persiapan yang matang dan berkoordinasi lebih lanjut,” katanya.
 
     Lebih jauh  Genep mengatakan, untuk menambah banyak desa yang bisa mengolah sampah dengan baik, Pemkab Buleleng terus menggenjot desa-desa untuk bisa mengelola TPST di wilayahnya.
 
    Saat ini dari 129 desa, baru 25 desa yang mengelola TPST dan beberapa desa telah mengelola rumah kompos di bawah binaan Badan Lingkungan Hidup Buleleng. Aga bisa menambah banyak TPST itu, desa didorong untuk membeli lahan dengan luas rata-rata tiga are dengan memanfaatkan Alokasi Dana Desa (ADD). Langkah ini dilakukan karena desa-desa masih kesulitan lahan milik desa dinas atau aset desa pakraman yang akan dibangun TPST.
 
    ”Tahun 2017-2021 kita targetkan semua desa di Buleleng memiliki TPST. Dengan demikian, warga semakin sadar dan berpartisipasi dalam mengatasi permasalahan sampah,” jelas Genep.
 
     Dari sasaran kunjungan kerja yang dikemas Orientasi Kehumasan dan Press Tour ”Wartawan Buleleng” ini. setelah memperoleh upaya tentang pengelolaan sampah dan pertanian, mau tidak mau Buleleng harus mengakui perlu mengadopsinya, sesuai potensi dan kemampuan yang ada.

Berita Terkait

Breaking News 1260917883423893342

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Populer

item