Denpasar, dewatanews.com - Arus informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan nalar manusia dalam menguji kebenarannya. Ruang publik digital kini dipenuhi oleh potongan-potongan peristiwa yang disajikan seketika. Fenomena tersebut melahirkan sebuah bentuk komunikasi baru yang menempatkan kecepatan di atas segalanya. Publik seolah diajak berlari tanpa arah tujuan yang pasti.
Media sosial telah mengubah wajah penyebaran berita secara radikal. Setiap pemilik gawai mendadak berfungsi sebagai penyiar berita utama. Pagar pengaman redaksional yang dulu dijaga ketat oleh lembaga pers profesional kini runtuh seketika. Siapa pun dapat menyiarkan sebuah kejadian tanpa melalui proses penyaringan berlapis.
Perubahan mendasar ini membawa konsekuensi serius terhadap kualitas informasi yang dikonsumsi masyarakat. Nilai-nilai dasar jurnalistik yang menjunjung tinggi akurasi tergeser oleh ambisi meraih perhatian instan. Algoritma platform digital bekerja dengan mengarahkan emosi massa, bukan dengan merawat kejernihan berpikir. Akibatnya, kebenaran tidak lagi diuji melalui fakta yang utuh melainkan melalui jumlah tayangan.
Bentuk penyajian informasi di ranah daring cenderung mengabaikan keutuhan unsur peristiwa. Khalayak hanya disuguhi potongan kejadian yang memancing amarah atau kekaguman sesaat. Ruang untuk memahami latar belakang masalah tereduksi menjadi tayangan berdurasi singkat. Kedalaman substansi lenyap digantikan oleh kemasan visual yang membuai mata.
Kondisi tersebut memunculkan istilah kebenaran sekejap dalam ekosistem komunikasi mutakhir. Informasi hadir dengan klaim kebenaran mutlak pada detik pertama, namun runtuh pada jam berikutnya ketika klarifikasi muncul. Masyarakat terperangkap dalam siklus kebingungan massal yang berulang. Kepercayaan publik terhadap informasi yang valid perlahan-lahan mengalami erosi.
Praktisi media dihadapkan pada pilihan sulit di tengah gelombang disrupsi ini. Sebagian memilih mengikuti arus demi mempertahankan kelangsungan bisnis digital. Sebagian lainnya berupaya bertahan dengan prinsip verifikasi yang ketat namun kesulitan menjangkau audiens muda. Pertarungan antara kecepatan dan ketepatan menciptakan ketegangan yang tidak berkesudahan di ruang siber.
Penyelesaian atas krisis informasi ini menuntut adanya perombakan cara pandang dalam memproduksi konten. Penolakan terhadap format digital bukanlah jalan keluar yang bijaksana. Nilai-nilai etika kewartawanan harus disusupkan secara cerdas ke dalam ragam bentuk sajian modern. Kreativitas meramu narasi menjadi kunci agar substansi peristiwa tetap sampai kepada masyarakat tanpa kehilangan bobotnya.
Literasi masyarakat memegang peranan vital dalam membentengi diri dari terjangan informasi dangkal. Penonton siaran digital perlu dibiasakan untuk menunda kepercayaan sebelum memeriksa latar belakang sebuah peristiwa. Kesadaran kolektif untuk mempertanyakan keabsahan data akan mempersempit ruang gerak penyebar kebohongan. Akal sehat harus senantiasa ditempatkan sebagai pengendali utama di tengah bisingnya jagat maya.
Peradaban modern sangat bergantung pada kualitas informasi yang mengalir di dalamnya. Jika ruang publik hanya menyediakan kebenaran yang bersifat sementara, maka keputusan sosial yang diambil akan berbuah rapuh. Pemulihan marwah informasi memerlukan komitmen bersama dari seluruh pelaku komunikasi untuk kembali pada esensi kebenaran yang hakiki.
Sisi Terang : Demokratisasi dan Kecepatan Arus Informasi
Transformasi ekosistem komunikasi mutakhir menghadirkan babak baru dalam penyebaran warta melalui genggaman gawai setiap individu. Batas-batas teritorial dan birokrasi keredaksian melebur menjadi satu ruang tanpa sekat yang mempertemukan langsung peristiwa dengan khalayak luas. Fenomena ini menciptakan gelombang keterbukaan masif yang belum pernah disaksikan dalam sejarah peradaban manusia sebelumnya.
Setiap warga kini memegang kendali penuh sebagai produsen sekaligus penyebar informasi di ruang maya. Peristiwa sekecil apapun di sudut kota terpencil dapat langsung disiarkan ke penjuru dunia tanpa harus menunggu meja redaksi melakukan seleksi ketat. Kehadiran teknologi pelaporan mandiri ini meruntuhkan monopoli narasi yang selama dasawarsa dikuasai oleh segelintir korporasi media konvensional.
Kecepatan pergerakan warta menembus dimensi waktu yang sangat ringkas berkat dukungan infrastruktur digital mutakhir. Situasi di lokasi kejadian langsung berpindah ke layar gawai jutaan pembaca dalam hitungan detik setelah peristiwa itu terjadi. Efisiensi luar biasa ini memangkas jarak antara fakta di lapangan dan kesadaran publik secara instan.
Dinamika tersebut memberikan keuntungan besar dalam hal kecepatan penanganan situasi darurat di tengah masyarakat. Peristiwa bencana alam, kecelakaan lalu lintas, maupun krisis kemanusiaan segera mendapat respons cepat berkat laporan langsung para saksi mata. Aparat penegak hukum dan tim penyelamat terbantu secara signifikan dalam memetakan lokasi kejadian sebelum laporan resmi diterbitkan.
Aspek positif berikutnya terlihat pada perluasan ruang partisipasi politik dan sosial bagi masyarakat kelas bawah. Suara-suara kelompok marginal yang kerap terabaikan oleh arus utama kini menemukan saluran yang setara untuk didengar. Ketimpangan struktural dan berbagai bentuk ketidakadilan sosial mendapatkan panggung perdebatan terbuka yang melibatkan ribuan warganet.
Tekanan kolektif dari warganet terbukti ampuh dalam mendorong transparansi kebijakan para pemangku kekuasaan. Pejabat publik tidak lagi leluasa menutup-nutupi kelalaian karena pengawasan publik berjalan sepanjang waktu tanpa henti. Kekuatan pengawasan horizontal ini memperkuat fungsi kontrol sosial yang sebelumnya hanya diemban oleh lembaga pers profesional.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengawasan warganet melalui media sosial secara nyata memperluas transparansi kebijakan dan membatasi ruang manipulasi pejabat publik. Bukti empiris di Tiongkok mencatat bahwa intensitas pembahasan warganet yang lebih tinggi secara signifikan mempercepat respons birokrasi dan memicu sanksi yang lebih berat terhadap pejabat yang terbukti melakukan pelanggaran. Hal ini disampaikan Shuo Chen and Yiran Li dalam artikel berjudul “Accountability from cyberspace? Scandal exposure on the Internet and official governance in China” yang dipublikasikan di Political Science Research and Methods tahun 2023.
Arus data yang melimpah ruah turut mengubah cara pandang masyarakat terhadap pentingnya keterbukaan informasi publik. Keterlibatan aktif warganet menumbuhkan kesadaran bahwa kebenaran peristiwa bukan milik institusi tertentu semata. Proses pertukaran gagasan berlangsung secara horizontal, egaliter, dan menjangkau lintas generasi tanpa hambatan kelas sosial.
Pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis digital ikut mendulang berkah dari terbukanya saluran informasi cepat ini. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah mampu memperkenalkan produk mereka langsung kepada calon pembeli tanpa biaya pemasaran yang mahal. Inovasi bisnis lokal berkembang pesat berkat kemudahan penyebaran narasi produk yang menjangkau pasar global secara seketika.
Dunia pendidikan pun merasakan dampak positif dari keterbukaan saluran warta di ranah daring. Sumber belajar tidak lagi terbatas pada buku teks cetak yang usang, melainkan memperbarui pengetahuan melalui diskursus aktual di ruang digital. Pelajar dan pengajar dapat mengakses hasil penelitian terbaru serta pandangan para ahli dari berbagai penjuru dunia secara langsung.
Kolaborasi antara jurnalis profesional dan penggiat media sosial mulai menampakkan hasil yang konstruktif. Beberapa lembaga media arus utama kini membuka rubrik khusus untuk menampung laporan warga yang telah melalui proses kurasi cepat. Sinergi ini memperkaya sudut pandang liputan dengan menghadirkan laporan langsung dari garis depan peristiwa.
Potensi besar dari kecepatan dan keterbukaan informasi ini menuntut adanya kedewasaan mental dari seluruh pengguna. Kebebasan menyuarakan pendapat harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral agar tidak berubah menjadi bising yang menyesatkan. Ruang digital yang demokratis memerlukan ekosistem yang sehat agar manfaat positifnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Pemanfaatan teknologi penyiaran mandiri membuka jalan bagi lahirnya jurnalisme yang lebih inklusif dan membumi. Kedekatan emosional antara peristiwa dan pembaca menjadi lebih erat karena disajikan tanpa perantara birokrasi yang kaku. Masyarakat belajar memahami kompleksitas persoalan sosial langsung dari sudut pandang korban atau saksi di lapangan.
Evolusi kebiasaan membaca ini menandai pergeseran budaya masyarakat dari penonton pasif menjadi aktor yang menentukan arah diskursus. Partisipasi aktif dalam membagikan informasi memperkuat rasa kepemilikan bersama terhadap isu-isu penting kenegaraan. Kesadaran kritis tumbuh subur di tengah kelimpahan data yang mengalir deras setiap detik.
Perjalanan panjang jurnalisme medsos pada akhirnya membuktikan bahwa teknologi hanyalah sebuah alat pemantik perubahan. Segala kemudahan akses dan kecepatan arus data tersebut akan memberikan nilai kemaslahatan yang tinggi apabila dikelola dengan nalar yang jernih. Ruang publik digital yang terbuka luas ini senantiasa menunggu kedewasaan kolektif untuk merawat kebenaran yang bermakna.
Sisi Gelap: Erosi Makna dan Jebakan Algoritma
Dibalik gegap gempita demokratisasi informasi, tersembunyi ancaman sistemik yang merusak tatanan penalaran publik secara perlahan. Kecepatan transmisi warta yang semula dipuji sebagai pencapaian peradaban justru menjelma menjadi bumerang bagi kedalaman makna. Ketika kecepatan mengalahkan ketepatan, nilai dasar dari sebuah kabar bergeser dari upaya pencarian kebenaran menjadi sekadar perburuan perhatian.
Arsitektur platform digital tidak dirancang atas dasar tanggung jawab etis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sistem tersebut dibangun di atas algoritma yang memprioritaskan tingkat keterikatan emosional pengguna demi melipatgandakan durasi tatap layar. Akibatnya, narasi yang memancing amarah, kecemasan, dan kebencian mendapatkan panggung terbesar untuk menyebar luas secara eksponensial.
Rahmad Asril Pohan dan Rubino dalam artikel “The Ethics of Freedom and Responsibility in Communication: Building a Public Space with Integrity in the Digital Age” yang dipublikasikan tahun 2026 mengungkapkan bahwa media sosial dan platform digital sengaja dirancang untuk mencuri perhatian kita, bukan untuk memenuhi tanggung jawab sosial. Sistem komputer ini memanfaatkan sisi psikologis manusia dengan sengaja menyebarkan konten yang memancing emosi, sehingga pengguna betah berlama-lama di dalam platform.
Ekosistem ini melahirkan praktik verifikasi yang terbalik dari tradisi kewartawanan luhur. Prinsip menguji fakta sebelum menyiarkan telah digantikan oleh naluri menyiarkan secepatnya lalu melakukan klarifikasi apabila timbul kegaduhan. Proses koreksi semacam itu kerap datang terlambat karena persepsi publik sudah terlanjur terbentuk oleh unggahan perdana yang terfragmentasi.
Unsur penceritaan peristiwa yang utuh hancur terpotong-potong menjadi sediaan konten berdurasi amat singkat. Latar belakang peristiwa serta konteks sebab-akibat yang membutuhkan perincian mendalam disingkirkan karena dianggap menjenuhkan bagi pembaca digital. Publik dituntun untuk mengonsumsi kesimpulan dangkal tanpa pernah memahami akar persoalan secara komprehensif.
Keadaan demikian menyuburkan fenomena kebenaran sekejap yang sangat rapuh dan menyesatkan. Sebuah pernyataan atau potongan video dapat dianggap sebagai fakta mutlak pada detik ini, sebelum akhirnya terbukti palsu pada hitungan jam berikutnya. Peralihan informasi yang begitu cepat membuat khalayak kehilangan pijakan untuk menentukan mana realitas yang sesungguhnya dan mana rekayasa.
Ancaman lain yang tidak kalah berbahaya adalah terbentuknya gelembung gema di antara para pengguna. Algoritma secara konsisten menyuapkan informasi yang hanya sesuai dengan preferensi, keyakinan, serta prasangka pribadi setiap individu. Fenomena ini menutup rapat pintu dialog antar-kelompok dan memicu polarisasi sosial yang semakin meruncing di tengah masyarakat.
Penilaian terhadap bobot sebuah warta pun mengalami pemerosotan mutu yang cukup memprihatinkan. Kualitas jurnalisme tidak lagi diukur dari kedalaman investigasi atau keberanian membongkar kejahatan sistemik, melainkan dari sejauh mana konten tersebut disukai dan dibagikan. Ukuran kuantitatif angka statistik telah menggantikan nilai kualitatif etika dan integritas.
Sensor sensasi memimpin jalannya industri penyiaran di ranah maya demi meraup pendapatan iklan. Judul-judul yang provokatif dan bombastis sengaja dirancang untuk mengecoh rasa ingin tahu pembaca tanpa menyajikan substansi yang sepadan. Masyarakat terkecoh oleh kemasan luar, sementara isi berita sesungguhnya nihil nilai edukasi.
Kondisi tersebut menciptakan kelelahan mental kolektif akibat gempuran data berlebih yang tidak tersaring dengan baik. Pikiran manusia dipaksa mencerna ratusan potongan isu setiap hari tanpa diberi jeda untuk mengendapkan dan menganalisisnya secara jernih. Erosi daya kritis ini membuat publik menjadi sangat rentan terhadap manipulasi opini dan propaganda.
Lembaga pers profesional yang berupaya menjaga benteng etika ikut terseret ke dalam pusaran arus berbahaya ini. Demi menjaga kelangsungan hidup bisnis, tidak sedikit media arus utama yang terpaksa menurunkan standar keredaksiannya agar sanggup bersaing dengan konten viral hasil buatan warga. Kompromi mutu ini semakin memperparah krisis kepercayaan publik terhadap institusi media secara keseluruhan.
Manipulasi informasi kini tidak hanya dilakukan oleh individu amatir, melainkan telah diorganisasi secara sistematis oleh pihak-pihak berkepentingan. Pasukan pembentuk opini buatan dan akun-akun anomim dikerahkan untuk membiaskan fakta serta mengaburkan isu-isu vital kenegaraan. Kebenaran yang sesungguhnya tenggelam di dasar samudra bising spekulasi dan disinformasi.
Apabila jebakan algoritma dan erosi makna ini terus dibiarkan tanpa ada intervensi kritis dari para pelaku komunikasi, fondasi demokrasi akan semakin rapuh. Masyarakat yang terbiasa mengonsumsi kebenaran buatan akan kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan politik dan sosial secara rasional. Penyelamatan ruang publik digital dari cengkeraman algoritma yang merusak merupakan panggilan darurat bagi peradaban modern hari ini.
Sintesis: Menemukan Titik Temu Profesionalisme dan Ruang Digital
Penyelesaian atas kemelut informasi di ranah siber menuntut perombakan total cara pandang terhadap masa depan dunia kewartawanan. Penolakan membabi buta terhadap format digital sama artinya dengan mengasingkan diri dari realitas zaman yang terus bergerak maju. Pelaku media profesional tidak boleh terus-menerus meratap di zona nyaman masa lalu sambil membiarkan ruang publik dikuasai oleh disinformasi.
Titik temu antara standar etika profesional dan fleksibilitas ekosistem digital mutlak untuk segera diwujudkan. Nilai-nilai luhur kewartawanan seperti ketelitian, keberimbangan, dan verifikasi ketat harus dilebur ke dalam ragam bentuk sajian modern. Perkawinan silang antara substansi yang mendalam dan kecepatan medium daring akan melahirkan bentuk jurnalisme yang tangguh serta terpercaya.
Transformasi tersebut dimulai dari keberanian lembaga pers untuk merombak arsitektur penyampaian warta tanpa mengorbankan integritas substansi. Narasi investigasi yang panjang dan melelahkan perlu dikemas kembali ke dalam format visual yang ramah pembaca gawai tanpa menghilangkan esensi utamanya. Kreativitas meramu cerita menjadi kunci agar pesan-pesan kritis tetap dapat menembus kesadaran khalayak muda.
Praktisi media profesional juga harus berhenti memandang warganet sebagai pesaing yang merusak tatanan informasi yang mapan. Keterlibatan masyarakat sebagai penyedia informasi awal justru harus diwadahi melalui mekanisme kurasi yang transparan dan akuntabel. Sinergi ini memperluas jangkauan peliputan hingga ke pelosok wilayah yang selama ini terabaikan oleh birokrasi redaksi konvensional.
Kehadiran teknologi kecerdasan buatan dan analisis data mutakhir semestinya dimanfaatkan untuk memperkuat proses verifikasi fakta secara cepat. Ruang redaksi modern memerlukan instrumen digital yang mampu mendeteksi manipulasi gambar, suara, dan teks sebelum sebuah warta disiarkan ke ruang publik. Teknologi harus dikendalikan untuk merawat kebenaran, bukan sekadar mengejar angka keterikatan semu.
Model bisnis media massa digital wajib dirancang ulang agar tidak sepenuhnya bergantung pada algoritma platform yang manipulatif. Keberlangsungan finansial lembaga pers harus ditopang oleh loyalitas pembaca yang menghargai kualitas jurnalisme investigatif yang mendalam. Ketergantungan buta pada volume tayangan iklan hanya akan menjerumuskan media ke dalam jurang sensasionalisme yang dangkal.
Ruang publik digital yang sehat membutuhkan kehadiran jurnalis yang tidak hanya cerdas mengolah kata, tetapi juga memiliki kepekaan etis yang tinggi. Keberanian moral untuk meralat kesalahan secara terbuka merupakan bentuk pertanggungjawaban yang akan memulihkan kepercayaan publik. Akuntabilitas ini menjadi pembeda utama antara karya jurnalistik yang bermartabat dan sekadar bisingnya konten viral.
Pendidikan literasi media bagi masyarakat luas harus digalakkan secara masif oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan. Publik perlu dibekali kemampuan dasar untuk memilah informasi, mengenali sumber yang kredibel, serta menunda penyebaran berita yang meragukan. Pengetahuan ini adalah benteng pertahanan terbaik dalam menghadapi gempuran manipulasi informasi yang terorganisasi.
Kolaborasi lintas sektor antara akademisi, praktisi media, lembaga pengatur, dan masyarakat sipil menjadi prasyarat mutlak. Diskursus publik yang konstruktif harus dibangun secara konsisten untuk merumuskan standar etika baru di ruang siber. Kebijakan perlindungan ekosistem informasi perlu ditegakkan tanpa memberangus kebebasan berpendapat yang menjadi hak fundamental warga negara.
Peran institusi pendidikan tinggi bidang komunikasi dan jurnalistik sangat menentukan dalam menyiapkan kader-kader pewarta masa depan. Kurikulum pengajaran tidak lagi cukup mengajarkan teknik peliputan konvensional, melainkan mengasah keahlian navigasi etika di tengah ekosistem digital yang kompleks. Mahasiswa jurnalistik harus dididik menjadi pemikir kritis yang mampu menembus kebisingan algoritmik.
Pergeseran pola konsumsi warta ini menuntut kesadaran kolektif bahwa kualitas peradaban sangat bergantung pada kejernihan informasi yang mengalir di dalamnya. Keputusan-keputusan besar kenegaraan dan sosial hanya akan melahirkan kebijakan yang tepat apabila berpijak pada data yang terverifikasi secara sahih. Menjaga kewarasan ruang publik adalah tanggung jawab moral bersama yang tidak bisa ditawar.
Penyatuan antara keteguhan etika profesi dan keluwesan media digital membuktikan bahwa jurnalisme sejati tidak akan pernah mati. Bentuknya boleh berubah mengikuti perkembangan teknologi, namun jiwa dan tujuan utamanya untuk mencerahkan akal budi manusia tetap abadi. Inovasi tanpa integritas hanya melahirkan kebohongan yang dibungkus rapi, sementara integritas tanpa inovasi akan tertelan oleh waktu.
Perjalanan panjang menemukan titik temu ini memang bukan perkara mudah dan memerlukan pengorbanan besar dari para pelaku industri media. Namun, apabila ikhtiar ini dilakukan dengan kesungguhan dan visi kebangsaan yang matang, ruang digital kelak akan menjelma menjadi ladang subur bagi tumbuhnya akal sehat. Masa depan informasi bangsa ini ditentukan oleh keberanian hari ini dalam merajut kembali benang-benang kebenaran yang berserakan.
Ikhtiar Menjaga Kewarasan Ruang Publik
Perjalanan panjang menelusuri belantara informasi digital membawa kesadaran bahwa peradaban manusia sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan. Gelombang disrupsi teknologi telah mengubah cara pandang masyarakat dalam memaknai sebuah peristiwa secara mendasar. Ruang siber kini menjadi medan pertempuran terbuka antara penyebaran kebenaran yang mencerahkan dan gelombang disinformasi yang merusak daya nalar.
Kondisi tersebut menuntut adanya perenungan mendalam dari seluruh elemen bangsa mengenai arah masa depan komunikasi publik. Ketergantungan yang berlebihan pada kecepatan semata tanpa diimbangi oleh saringan nalar yang matang hanya akan meruntuhkan sendi-sendi akal sehat. Setiap individu memikul tanggung jawab moral untuk tidak ikut serta memperluas rantai kebohongan yang berseliweran di ruang maya.
Pemulihan marwah informasi tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pundak lembaga pers profesional semata. Diperlukan gerakan kesadaran kolektif yang melibatkan partisipasi aktif seluruh warga negara dalam menyaring setiap warta yang dikonsumsi. Sikap skeptis yang sehat terhadap informasi bombastis merupakan bentuk pertahanan diri yang paling mujarab untuk membentengi kewarasan bersama.
Masa depan ekosistem informasi bangsa ini sangat bergantung pada kualitas keputusan kecil yang diambil oleh warganet setiap hari. Ketika seseorang memilih untuk menahan diri agar tidak membagikan berita yang meragukan, ia sedang menyelamatkan akal sehat publik dari keracunan massal. Ketulusan niat untuk merawat kejernihan fakta harus senantiasa ditempatkan di atas ambisi mengejar popularitas sesaat.
Negara bersama seluruh pemangku kepentingan juga harus hadir secara nyata melalui regulasi yang melindungi hak warga atas informasi yang benar. Pengawasan terhadap praktik manipulasi algoritma dan akun pemecah belah persatuan harus ditegakkan secara tegas tanpa mencederai kebebasan berekspresi. Keadilan di ruang digital hanya akan terwujud apabila ada keseimbangan antara perlindungan hukum dan kebebasan sipil yang bertanggung jawab.
Institusi pendidikan memegang peranan penting dalam menanamkan fondasi literasi kritis sejak usia dini kepada generasi penerus. Pelajar dan mahasiswa perlu dibekali keterampilan analitis yang tajam agar tidak mudah terbuai oleh narasi dangkal yang dikemas secara menarik. Generasi masa depan harus dididik menjadi pembaca yang cerdas, pemilih informasi yang berintegritas, serta penjaga gawang kewarasan di lingkungannya.
Semua ikhtiar tersebut bermuara pada satu tujuan luhur yaitu menjaga agar peradaban modern tidak terjerumus ke dalam jurang kebodohan kolektif. Informasi yang jujur dan beretika adalah oksigen bagi kehidupan demokrasi yang sehat serta bermartabat. Tanpa kehadiran warta yang mencerahkan, kebebasan berpendapat hanya akan berubah menjadi kebisingan kosong yang memecah belah persaudaraan.
Lembaran baru dunia kewartawanan digital sedang ditulis oleh keberanian hari ini dalam memegang teguh prinsip kebenaran. Pilihan berada di tangan setiap pelaku komunikasi untuk terus merawat akal budi atau membiarkan kebenaran sekejap meruntuhkan peradaban. Menjaga kewarasan ruang publik adalah panggilan pengabdian abadi demi masa depan kemanusiaan yang lebih terang.
Oleh:
I Nengah Muliarta
Korwil AMSI Bali, NTB dan NTT

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com