Denpasar, dewatanews.com – Gubernur Bali Wayan Koster mempercepat transformasi transportasi ramah lingkungan dengan meluncurkan 11 unit bus listrik Trans Sarbagita beserta enam unit infrastruktur pengisian daya (charging station) hibah Proyek Bali E-Mobility. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Bali untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menekan pencemaran udara.
Peluncuran berlangsung di Lapangan Timur, Niti Mandala Renon, Kamis (22/10). Program tersebut merupakan hasil kerja sama Pemerintah Republik Korea, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas, serta Global Green Growth Institute (GGGI) dalam mendorong percepatan penggunaan energi bersih di sektor transportasi.
Gubernur Wayan Koster menegaskan, kehadiran bus listrik dan stasiun pengisian daya menjadi langkah konkret untuk mempercepat implementasi kebijakan Bali Energi Bersih dari hulu hingga hilir.
Di sektor hulu, Pemprov Bali mendorong pengurangan penggunaan energi fosil, seperti batu bara dan solar, sekaligus memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kebijakan ini mengacu pada Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih.
Upaya tersebut turut mendapat dukungan pemerintah pusat melalui alokasi kapasitas 1.000 megawatt untuk pengembangan PLTS di wilayah Jembrana dan Gilimanuk. Saat ini, proses perizinan masih berjalan dan pengembangannya diharapkan mulai dilaksanakan pada 2027.
Sementara di sektor hilir, Pemprov Bali mempercepat penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019. Setelah sempat terkendala pandemi COVID-19, Koster menegaskan komitmennya untuk kembali mengakselerasi penerapan kebijakan tersebut pada periode kedua kepemimpinannya.
“Hasil studinya, di Bali 90 persen lebih polusi udaranya bersumber dari pembangkit listrik dan transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil. Oleh sebab itu, kebijakan ini kita percepat,” kata Koster.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Korea atas dukungan dan realisasi kerja sama dalam pengembangan transportasi ramah lingkungan di Bali. Koster juga berterima kasih kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas yang telah menunjuk Bali sebagai penerima manfaat sekaligus lokasi percontohan proyek tersebut.
Melalui Proyek Bali E-Mobility, Pemerintah Republik Korea melalui Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan bekerja sama dengan Kementerian PPN/Bappenas serta GGGI memberikan hibah 11 unit bus listrik dan enam unit infrastruktur pengisian daya kepada Pemprov Bali.
Bus listrik tersebut telah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan pengerjaan bodi bus dilakukan di Indonesia. Koster juga mengungkapkan bahwa desain dan warna bus diarahkan agar selaras dengan identitas budaya Bali.
“Desain dan warnanya pun kami yang mengarahkan, kombinasi warna hitam, merah, dan putih sebagai lambang Tri Datu, sebagai simbol yang lekat dengan nilai budaya Bali. Ayo rame-rame kita beralih menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai,” jelasnya.
Koster menambahkan, penjualan mobil listrik di Bali terus menunjukkan peningkatan. Namun, penggunaan kendaraan listrik roda dua dinilai masih perlu didorong lebih optimal. Karena itu, ia mengajak seluruh komponen masyarakat untuk beralih menggunakan kendaraan listrik yang lebih hemat, efisien, tidak bising, dan tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung dari kendaraan.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai Proyek Bali E-Mobility menjadi bukti nyata kolaborasi antara Indonesia, Republik Korea, dan GGGI dalam mendorong transisi dari energi fosil menuju energi bersih.
Menurutnya, Bali memiliki posisi strategis sebagai lokasi percontohan yang dapat memberikan pembelajaran bagi pengembangan kebijakan serupa di tingkat nasional.
Rachmat juga mengapresiasi komitmen Pemprov Bali dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Ia menegaskan bahwa upaya menjaga kebersihan lingkungan tidak cukup hanya melalui pengelolaan sampah rumah tangga, tetapi juga harus mencakup pengurangan pencemaran dari pembangkit listrik, kendaraan bermotor, dan industri yang masih bergantung pada energi fosil.
“Saya sejak muda sudah kagum dengan kearifan lokal Tri Hita Karana di Bali, yaitu bagaimana masyarakat membina hubungan yang baik dan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam. Bagaimana masyarakat Bali bisa memberikan kita contoh bagaimana memuliakan alam dengan konsep Tri Hita Karana,” ungkap Rachmat.
Ia berharap filosofi Tri Hita Karana dapat terus menjadi landasan dalam mewujudkan transisi energi dan pembangunan yang selaras dengan alam. Dengan mengintegrasikan kearifan lokal, pemanfaatan energi bersih, dan pelestarian lingkungan, Bali diharapkan mampu menjadi model pembangunan berkelanjutan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com