Denpasar, dewatanews.com - Loper koran pernah menjadi bagian penting dari ritme pagi masyarakat. Derap langkah atau deru sepeda motor loper yang melempar lembaran koran ke teras rumah menyapa pemiliknya sebelum cangkir kopi pertama diseruput. Lembaran kertas itu membawa kabar tepercaya yang telah melewati proses penyuntingan ketat sepanjang malam. Hari ini, pemandangan ikonik tersebut resmi menjadi kenangan masa lalu.
Pensiunnya para loper koran secara masif menandai era baru distribusi informasi. Fungsi pengantar berita fisik kini sepenuhnya diambil alih oleh layar ponsel cerdas di genggaman tangan. Notifikasi berita langsung memberondong mata begitu penerima pesan membuka kelopak matanya di pagi hari. Perubahan ini terjadi sangat cepat tanpa memberi ruang bernapas bagi industri media cetak konvensional.
Fenomena tumbangnya media cetak kerap dianggap sekadar dampak peralihan media kertas menuju media digital. Pemahaman semacam itu terlalu dangkal dan melewatkan masalah utama yang sedang terjadi. Perubahan medium fisik dari kertas ke layar digital sebenarnya hanyalah gejala di permukaan. Persoalan mendasar terletak pada pergeseran pemegang kendali atas arus informasi publik.
Kekuasaan penuh atas kurasi berita sebelumnya berada di tangan meja redaksi. Para editor senior berdiskusi sengit menentukan berita utama berdasarkan bobot kepentingan publik dan etika jurnalistik. Mereka berfungsi sebagai penyaring informasi yang menjaga kualitas serta kebenaran setiap tulisan. Sistem kurasi manusia ini mengutamakan relevansi sosial dibanding sensasi sesaat.
Kini, peran krusial meja redaksi tergeser oleh sistem otomatis bernama algoritma. Mesin penilai berbasis kecerdasan buatan tersebut bekerja tanpa mengenal nilai etika atau kepentingan masyarakat. Algoritma hanya menghitung statistik interaksi berupa klik, durasi membaca, serta jumlah bagikan. Berita yang paling banyak memancing respons instan akan otomatis terdorong ke posisi paling atas.
Namun Møller, L. A. dalam artikel berjudul “Designing Algorithmic Editors: How Newspapers Embed and Encode Journalistic Values into News Recommender Systems” yang dipublikasikan tahun 2023 menyatakan algoritma berita memang sering menggantikan peran redaksi untuk mengejar popularitas atau interaksi pembaca. Namun, algoritma sebenarnya tetap bisa dimasukkan nilai etika dan kepentingan publik, salah satunya melalui penggabungan peran manusia dengan teknologi (hybrid) serta perancangan sistem yang ramah nilai jurnalistik.
Sistem distribusi baru ini memicu persaingan memperebutkan perhatian pembaca secara ugal-ugalan. Informasi tidak lagi diukur dari kedalaman analisis atau kebenaran data lapangan. Berita terkini dinilai dari seberapa cepat tulisan tersebut mampu memicu emosi emosional audiens. Ruang redaksi terpaksa menyerah pada kehendak mesin demi bertahan hidup secara finansial.
Media massa terjerat dalam permainan jebakan angka lalu lintas pengunjung situs web. Pengelola koran digital berlomba menyajikan judul provokatif demi meraih klik sebanyak mungkin. Bobot substansi karya jurnalistik terabaikan akibat tuntutan kecepatan dan kuantitas produksi harian. Praktik ini perlahan mengikis standar kualitas karya pers yang telah dibangun puluhan tahun.
Masyarakat kini disuguhi sajian berita yang dirancang khusus untuk memicu kemarahan serta kekecewaan. Algoritma paham betul bahwa emosi negatif mampu mengikat perhatian manusia lebih lama di depan layar. Informasi yang tenang, rasional, dan mendalam justru ditenggelamkan karena dianggap tidak menjual. Pembaca tanpa sadar digiring masuk ke dalam lingkaran arus informasi yang menguras emosi.
Dampak buruk dari pengacakan berita oleh algoritma ini sangat nyata dirasakan oleh masyarakat luas. Rasa lelah membaca informasi melanda banyak orang akibat gempuran berita bertubi-tubi yang tidak jelas kebenarannya. Ketegangan sosial meningkat karena berita yang beredar selalu menonjolkan konflik serta sensasi. Tekanan mental publik meningkat akibat setiap hari disuguhi konten yang memancing emosi jiwa.
Pergeseran ini membuktikan bahwa teknologi digital tidak selalu membawa kemajuan bagi kualitas peradaban. Kemudahan akses informasi justru dibayar mahal dengan penurunan kualitas pemikiran publik secara sistematis. Manusia modern memperoleh berita lebih cepat tetapi kehilangan kedalaman makna dari informasi yang dikonsumsi. Kecepatan telah berhasil mengalahkan ketelitian dan kejujuran dalam beritanya.
Kepergian loper koran pada akhirnya menjadi awal mula dari krisis pers yang jauh lebih besar. Pensiunnya loper koran menandai hilangnya era jurnalistik yang teratur dan bertanggung jawab kepada publik. Kehadiran algoritma sebagai penguasa baru telah mengubah panggung informasi menjadi arena adu sensasi yang melelahkan. Publik kini harus menanggung akibatnya berupa paparan berita yang terus-menerus memicu darah tinggi.
Loper Koran dan Kedaulatan Redaksi yang Tergeser
Loper koran masa lalu memegang peran penting dalam menjaga keteraturan informasi harian. Langkah kaki loper koran yang tangkas menyusuri lorong pemukiman sebelum fajar tiba memastikan lembaran berita mendarat tepat waktu di teras rumah. Kehadiran fisik lembaran kertas tersebut membawa bobot tanggung jawab moral serta profesionalisme dari sebuah institusi pers. Keberadaan loper koran menjadi simpul terakhir dari rangkaian panjang proses kerja jurnalistik yang presisi.
Produk yang diantar loper koran bukanlah sekadar tumpukan kertas berisikan rangkaian kata. Kertas koran tersebut merupakan hasil dari kedaulatan penuh meja redaksi yang berbekal etika jurnalistik ketat. Rapat redaksi saban sore berlangsung sengit untuk menyeleksi berita yang layak menjadi konsumsi publik. Setiap judul berita utama ditimbang berdasarkan nilai manfaat sosial, kebenaran faktual, serta dampaknya bagi kehidupan bermasyarakat.
Proses penyuntingan berita pada era media cetak menerapkan sistem berlapis yang sangat ketat. Wartawan di lapangan berkewajiban melakukan verifikasi data secara berulang sebelum menyerahkan naskah laporan. Editor senior memeriksa alur logika, keakuratan nama, tempat, hingga dampak hukum dari tulisan yang disajikan. Ketelitian manusia menjadi pilar utama untuk menjaga integritas serta kredibilitas karya pers di mata publik.
Hierarki informasi pada media cetak disusun secara terukur dan memiliki struktur yang jelas. Pembaca koran dapat dengan mudah memahami tingkat kepentingan suatu peristiwa melalui tata letak halaman. Berita paling krusial diletakkan pada halaman depan dengan ukuran huruf yang mencolok. Berita olahraga, gaya hidup, serta opini publik ditempatkan pada rubrik khusus yang tertata rapi.
Rantai nilai koran cetak menciptakan mekanisme kontrol kualitas informasi yang sangat solid. Keterbatasan ruang halaman memaksa redaksi membuang tulisan sampah yang tidak bernilai. Hanya laporan yang benar-benar relevan dan teruji kebenarannya yang berhasil lolos ke mesin cetak. Keterbatasan fisik kertas koran justru menjadi benteng pertahanan terbaik melawan gempuran informasi mentah.
Kedaulatan redaksi dalam mengontrol arus berita kini goyah akibat perubahan drastis pada aspek ekonomi. Biaya operasional cetak yang mencakup pembelian kertas, tinta, dan logistik armada pengiriman terus meroket. Pendapatan dari sektor iklan konvensional merosot tajam seiring perpindahan dana promosi ke platform internet. Beban finansial yang kian berat memaksa banyak perusahaan pers memangkas skala produksi fisik.
Surat kabar cetak tertekan dari dua arah yaitu biaya cetak dan operasional tetap mahal, sedangkan pemasukan dari iklan serta penjualan terus merosot akibat era digital. Guna bisa bertahan, banyak media cetak terpaksa menghemat anggaran, mengurangi jumlah cetak, hingga memangkas aset mereka. Hal ini diakui oleh Raul Rios‐RodrÃguez dalam artikel berjudul “Reconversion in a declining market: the return to profitability of the print newspaper industry” yang dipublikasikan di Journal of Media Business Studies tahun 2022.
Tekanan ekonomi ini menggerus kemampuan finansial perusahaan media secara beruntun. Efisiensi besar-besaran dilakukan demi menekan angka kerugian operasional harian yang kian membengkak. Keputusan sulit terpaksa diambil dengan memangkas pos anggaran distribusi dan menghentikan mesin cetak. Perusahaan pers harus memilih antara beralih penuh ke format digital atau gulung tikar.
Gelombang penutupan penerbitan cetak berimbas langsung pada nasib para loper koran di lapangan. Profesi loper koran perlahan menghilang dari jalanan karena unit usaha distribusi resmi dibubarkan. Hilangnya profesi loper koran sekaligus menandai runtuhnya sistem distribusi informasi berbasis kurasi manusia. Rantai pasok berita yang teratur dan tepercaya selama puluhan tahun hancur dalam kurun waktu singkat.
Keruntuhan moda distribusi tradisional menyerahkan seluruh kendali arus berita kepada sistem digital. Ruang redaksi yang dahulu berkuasa penuh atas pemilihan isu kini kehilangan panggung utamanya. Keputusan penting mengenai layak atau tidaknya suatu berita dibaca publik tidak lagi diambil di meja rapat editor. Takhta kedaulatan redaksi resmi tumbang seiring dengan pensiun dininya para loper koran dari jalanan.
Runtuhnya kedaulatan meja redaksi meninggalkan celah besar dalam ekosistem informasi publik. Kehilangan benteng penyaring berita tepercaya membuat ruang publik kini rentan diterpa kabar mentah tanpa verifikasi. Pengambilalihan peran distribusi oleh sistem serba otomatis menjadi babak baru yang penuh ketidakpastian. Jurnalistik berkualitas terpaksa bertekuk lutut di hadapan mekanisme pasar digital yang baru.
Ketika Berita Jurnalistik Dikocok Algoritma
Pensiunnya loper koran secara permanen membuka pintu lebar bagi sistem distribusi baru bernama algoritma. Mesin penilai otomatis ini mengambil alih takhta kurasi yang dahulu dikuasai oleh rapat redaksi. Berita jurnalistik kini harus bersaing terbuka dalam sebuah arena digital yang sangat cair dan tidak mengenal etika pers. Pergeseran ini mengubah cara karya jurnalistik dinilai, diproduksi, serta disajikan kepada masyarakat.
Algoritma bekerja berdasarkan formula matematika yang tidak memiliki kepedulian terhadap kebenaran faktual atau manfaat publik. Sistem ini hanya melacak jejak digital berupa klik, durasi membaca, komentar, serta frekuensi pembagian konten. Berita yang memicu respons tercepat akan langsung ditempatkan pada posisi puncak halaman utama aplikasi. Nilai berita (news value) resmi digantikan oleh angka keterlibatan (engagement rate).
Ruang redaksi modern terpaksa beradaptasi dengan hukum permainan baru yang ditetapkan oleh raksasa teknologi. Jurnalis tidak lagi sekadar dituntut turun ke lapangan untuk mengumpulkan fakta dan melakukan verifikasi mendalam. Penulis berita kini diwajibkan memahami tata cara pengoptimalan mesin pencari (Search Optimization). Struktur kalimat dan pemilihan kata dalam artikel disesuaikan agar disukai oleh algoritma mesin pencari.
Ruang halaman digital yang tanpa batas ternyata tidak otomatis meningkatkan kualitas karya jurnalistik. Ketiadaan batasan fisik kertas justru memicu produksi artikel secara berlebihan tanpa bobot informasi yang jelas. Satu peristiwa sederhana kini diracik menjadi puluhan artikel pendek demi memanen klik dari pengguna internet. Kuantitas tulisan menggantikan kedalaman analisis yang dahulu menjadi kebanggaan media cetak.
Praktik pengemasan berita mengalami degradasi moral demi mengejar daya pikat instan. Judul artikel dibuat sangat provokatif, mengambang, serta kerap menipu pembaca demi memicu rasa penasaran. Isi berita sering kali tidak sejalan dengan janji bombastis yang tertera pada judul utama. Pembaca dijebak untuk mengklik tautan demi menyumbang angka lalu lintas pengunjung ke situs berita.
Mekanisme kocokan algoritma sering kali menenggelamkan laporan investigasi yang dikerjakan selama berbulan-bulan. Karya jurnalistik bernilai tinggi yang membutuhkan konsentrasi membaca kerap dianggap tidak populer oleh mesin. Artikel yang memuat kritik kebijakan publik atau analisis ekonomi mendalam kalah bersaing dengan berita gosip instan. Karya terbaik para jurnalis tersingkir ke sudut tersembunyi yang jarang tersentuh jempol pembaca.
Sistem distribusi algoritma menciptakan pusaran persaingan yang tidak sehat antar media massa. Pengelola koran digital saling meniru konten yang sedang populer demi mendapatkan sisa-sisa lalu lintas pencarian. Fenomena penulisan ulang (rewriting) berita tanpa proses konfirmasi ulang menjadi praktik harian yang lumrah. Unsur keaslian dan keandalan data terabaikan demi memenuhi tenggat waktu penerbitan yang serba instan.
Dampak dari dikocoknya berita oleh algoritma sangat terasa pada kestabilan emosi masyarakat pengguna internet. Sistem otomatis ini mendeteksi bahwa konten yang memancing amarah, kebencian, serta kekhawatiran adalah yang paling cepat memicu reaksi. Berita yang menonjolkan konflik dan sensasi secara konsisten terus didorong ke hadapan pembaca. Lingkaran informasi ini sengaja dirancang untuk mengikat perhatian manusia selama mungkin di depan layar.
Jurnalistik profesional kehilangan independensi saat harus menghamba pada formula algoritma yang terus berubah. Keputusan redaksional kini bergantung pada grafik statistik yang bergerak naik turun setiap detik di layar monitor. Pimpinan redaksi tertekan oleh target lalu lintas pembaca harian demi mempertahankan pemasukan dari Iklan digital. Idealisme pers bertekuk lutut di hadapan tuntutan komersialisasi platform teknologi global.
Format berita ikut terfragmentasi menjadi potongan-potongan informasi pendek yang kehilangan konteks utamanya. Pembaca hanya melintas di permukaan berita tanpa sempat memahami akar permasalahan yang sebenarnya. Kecepatan konsumsi informasi mengikis daya kritis masyarakat dalam mencerna suatu peristiwa penting. Informasi cepat saji ini diserap mentah-mentah tanpa melewati proses penalaran yang mendalam.
Kondisi ini menempatkan karya pers sejajar dengan konten hiburan murah yang membanjiri ruang digital. Masyarakat makin sulit membedakan antara laporan berita terverifikasi dengan opini pribadi atau hoaks buatan. Kredibilitas pers profesional merosot drastis akibat kebiasaan mengompromikan standar kualitas demi memburu klik. Kepercayaan publik terhadap institusi jurnalistik berada pada titik terendah sepanjang sejarah.
Pengocokan berita oleh algoritma pada akhirnya mengubah watak dasar dari jurnalistik itu sendiri. Fungsi pers sebagai penerang jalan publik dan pengawas kekuasaan perlahan memudar digantikan oleh industri perburuan perhatian. Kebijakan algoritma berhasil mereduksi karya intelektual jurnalis menjadi sekadar komoditas digital yang murah. Proses pembodohan massal secara halus terus berjalan selama mesin pengocok berita ini memegang kendali penuh.
Mengapa Publik Dibikin "Darah Tinggi”?
Pengocokan berita oleh algoritma pada akhirnya berdampak langsung pada kondisi psikologis dan emosional masyarakat penerima informasi. Publik kini mendapati diri mereka berada dalam lingkaran gempuran berita yang tidak pernah berhenti. Paparan informasi bernada provokatif yang menyapa mata setiap hari secara perlahan membangun tingkat stres yang tinggi. Sensasi emosional yang terus menerus dipompa oleh media digital menjadi pemicu utama kejenuhan mental publik.
Mekanisme kerja algoritma dirancang untuk memaksimalkan durasi perhatian pengguna di atas layar ponsel. Pengembang sistem otomatis paham betul bahwa emosi negatif merupakan perekat paling kuat untuk mengikat fokus manusia. Berita yang memuat unsur kemarahan, ketakutan, serta ancaman terbukti menghasilkan tingkat keterlibatan jauh lebih tinggi dibanding berita damai. Media digital meracik berita berformat konflik secara masif demi memanfaatkan celah psikologis tersebut.
Sajian berita masa kini sengaja disajikan dengan nada hiperbolis yang memicu kepanikan seketika. Peristiwa kecil yang sejatinya berdampak lokal dibesar-besarkan seolah-olah menjadi ancaman nasional yang mengerikan. Pembaca dikondisikan untuk selalu berada dalam keadaan waspada dan cemas sepanjang hari. Situasi ketegangan emosional yang dipelihara secara konstan ini menjadi alasan mendasar mengapa publik menjadi mudah tersulut amarah.
Fenomena umpan kemarahan (rage-baiting) dipraktikkan secara terstruktur oleh ruang redaksi yang memburu angka lalu lintas pengunjung. Judul berita disusun menggunakan pilihan kata yang tajam, menyudutkan, serta memancing debat kusir di kolom komentar. Diskusi publik tidak lagi diarahkan untuk mencari solusi atas suatu permasalahan bersama. Kolom komentar berita berubah menjadi arena saling hantam dan caci maki antarwarganet yang makin memperkeruh suasana.
Kelelahan menerima gempuran informasi (information fatigue) melumpuhkan jernihnya daya pikir masyarakat luas. Ratusan potongan berita pendek yang tidak utuh membanjiri ruang pribadi manusia dari pagi hingga malam hari. Publik tidak lagi memiliki jeda waktu yang cukup untuk mencerna, memverifikasi, serta merenungkan kebenaran suatu isu. Kebingungan massal timbul akibat kesimpangsiuran berita yang saling bertabrakan setiap detik.
Tingkat polarisasi di tengah masyarakat makin tajam akibat bilik gema (echo chamber) yang dibentuk oleh algoritma. Sistem hanya menyuguhkan berita yang sesuai dengan preferensi, prasangka, serta pandangan politik pembaca. Masyarakat makin terisolasi dari sudut pandang lain yang berbeda atau lebih objektif. Ketidakmampuan untuk memahami perspektif berbeda ini memicu permusuhan antarberbagai kelompok dalam kehidupan bermasyarakat.
Degradasi kualitas informasi secara sistematis mengikis rasa percaya publik terhadap lembaga pers resmi. Pembaca merasa dibohongi oleh judul-judul bombastis yang tidak sesuai dengan kenyataan isi berita. Kejenuhan akibat manipulasi emosi ini mendorong sebagian masyarakat untuk memilih abai terhadap berita sama sekali (news avoidance). Putusnya hubungan batin antara pers dan pembaca menjadi tragedi besar bagi keberlangsungan demokrasi.
Ruang publik yang dahulu diwarnai oleh debat gagasan yang sehat kini berganti menjadi panggung provokasi dangkal. Informasi penting mengenai Kebijakan publik, pendidikan, serta kesehatan sering kali luput dari perhatian publik. Perhatian masyarakat teralihkan penuh oleh konten sensasional yang dirancang hanya untuk memancing emosi jiwa. Pengaburan fokus publik ini merugikan kepentingan masyarakat dalam jangka panjang.
Kondisi psikologis masyarakat yang rentan ini terus dimanfaatkan oleh industri media demi meraih keuntungan finansial instan. Pengelola platform digital dan koran berbasis aplikasi memanen pundi-pundi uang dari setiap luapan kemarahan pembaca. Emosi publik yang mendidih dikomodifikasi menjadi angka-angka statistik iklan yang bernilai jual tinggi. Kesehatan mental masyarakat menjadi korban yang dikorbankan di atas altar bisnis digital.
Meningkatnya tekanan darah tinggi di tengah publik bukanlah sekadar kiasan atau kebetulan belaka. Fenomena ini merupakan akibat langsung dari sistem industri informasi yang sengaja menjual kemarahan serta kepanikan. Masyarakat dipaksa menjadi konsumen pasif dari berita yang menguras energi mental tanpa memberikan nilai tambah bagi kehidupan. Selama algoritma masih memegang kendali distribusi informasi, publik akan terus menjadi korban dari permainan emosi yang melelahkan ini.
Menyelamatkan Jurnalistik dari Kekuasaan Mesin
Upaya menyelamatkan jurnalistik dari cengkeraman algoritma membutuhkan keberanian untuk merombak total model bisnis media. Ketergantungan penuh pada pendapatan iklan berbasis jumlah klik harus segera dihentikan. Selama koran digital masih mengandalkan lalu lintas pengunjung yang murah, karya pers akan selalu dipaksa mengabdi pada kehendak mesin. Industri media harus kembali menempatkan pembaca sebagai pemangku kepentingan utama, bukan sekadar komoditas yang diperjualbelikan kepada pengiklan.
Model pendapatan berbasis pembaca (reader revenue) melalui skema berlangganan menjadi salah satu jalan keluar yang paling logis. Pembaca yang menghargai kebenaran data dan kedalaman analisis harus bersedia membayar karya jurnalistik berkualitas. Dukungan finansial langsung dari masyarakat memberikan kebebasan bagi ruang redaksi untuk lepas dari dikte algoritma. Redaksi dapat kembali fokus memproduksi laporan investigasi yang bernilai tinggi tanpa perlu mengejar judul bombastis demi memanen klik.
Pemberlakuan dinding berbayar (paywall) yang terukur mampu menyaring audiens yang benar-benar membutuhkan berita tepercaya. Langkah ini sekaligus mengembalikan martabat karya pers sebagai produk intelektual yang bernilai tinggi. Media tidak perlu lagi berpacu dalam perlombaan kuantitas yang menguras energi dan merusak reputasi. Skala penerbitan yang lebih kecil namun memiliki basis pembaca loyal jauh lebih sehat secara finansial dan mental dibanding mengejar jutaan pembaca pasif.
Regulasi pemerintah dan penegakan hukum yang tegas terhadap raksasa platform digital mutlak diperlukan. Negara harus hadir untuk menciptakan arena persaingan yang adil antara penerbit berita lokal dan perusahaan teknologi global. Aturan mengenai bagi hasil yang adil atas konten berita (publisher rights) harus diterapkan secara konsisten. Langkah diplomasi kebijakan ini penting agar nilai ekonomi dari karya jurnalistik tidak diserap sepenuhnya oleh penyedia mesin pencari.
Ruang redaksi harus melakukan konsolidasi internal untuk merebut kembali kedaulatan editorial yang sempat terampas. Para jurnalis perlu mengembalikan fokus kerja pada prinsip dasar jurnalistik, yaitu verifikasi ketat, independensi, serta keberpihakan pada kepentingan publik. Kecepatan penerbitan berita harus dikalahkan oleh ketepatan dan kedalaman informasi. Standar etika pers harus ditegakkan kembali tanpa kompromi meski harus mengorbankan potensi tren sensasional di internet.
Pengembangan teknologi mandiri yang tidak bergantung pada algoritma pihak ketiga menjadi kebutuhan mendesak bagi perusahaan pers. Media massa harus membangun saluran distribusi langsung yang menghubungkan redaksi dengan pembaca tanpa perantara platform global. Pemanfaatan buletin terstruktur (newsletter), aplikasi khusus berbayar, serta komunitas diskusi tertutup dapat menjadi sarana komunikasi yang efisien. Hubungan intim antara jurnalis dan pembaca akan terbangun kembali secara sehat melalui saluran mandiri tersebut.
Edukasi literasi media bagi masyarakat luas harus digalakkan secara masif dan berkelanjutan. Publik perlu disadarkan mengenai cara kerja algoritma yang sering kali memanipulasi emosi serta persepsi pikiran manusia. Pemahaman mengenai perbedaan antara karya pers terverifikasi dan konten provokatif di media sosial harus ditanamkan sejak dini. Pembaca yang kritis dan cerdas tidak akan mudah terjebak oleh umpan kemarahan yang dirancang oleh mesin.
Diversifikasi produk jurnalistik menuju format yang menekankan kualitas analisis mendalam menjadi strategi bertahan yang efektif. Penerbitan laporan khusus, jurnal berkala, hingga buku digital dapat menjadi alternatif pilihan bagi publik yang mengalami kejenuhan layar. Karya jurnalistik berformat panjang yang menyajikan konteks utuh akan selalu menemukan pasarnya sendiri di tengah kepungan informasi dangkal serba cepat. Nilai keabadian dan keandalan data tetap menjadi keunggulan mutlak karya pers yang tidak bisa ditandingi oleh mesin.
Pensiunnya loper koran memang menjadi penanda akhir dari sebuah era distribusi fisik yang romantis. Perjuangan menyelamatkan jurnalistik dari kekuasaan mesin bukan berarti memutar jarum jam kembali ke masa lalu, melainkan merebut kembali kendali atas akal sehat publik. Jurnalistik akan tetap bertahan hidup bukan karena kecanggihan teknologi yang digunakannya, melainkan karena kepercayaan masyarakat pada kejujuran dan keberanian pers dalam menyuarakan kebenaran. Akal sehat publik tidak boleh ikut pensiun hanya karena kalah dikocok oleh algoritma.
Penulis :
I Nengah Muliarta
Korwil AMSI Bali-Nusra
Møller, L. A. (2023). Designing Algorithmic Editors: How Newspapers Embed and Encode Journalistic Values into News Recommender Systems. Digital Journalism, 12, 926 - 944. https://doi.org/10.1080/21670811.2023.2215832
Rios‐RodrÃguez, R., Fernández-López, S., Dios-Vicente, A., & Rodeiro-Pazos, D. (2022). Reconversion in a declining market: the return to profitability of the print newspaper industry. Journal of Media Business Studies, 20, 204 - 222. https://doi.org/10.1080/16522354.2022.2104556

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com