Buleleng, dewatanews.com — Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng mulai mengandalkan sistem digital untuk menata pelayanan kesehatan tradisional. Melalui Sistem Pelaporan Pelayanan Kesehatan Tradisional (SIPANDI), pemerintah daerah berupaya mengintegrasikan data ratusan penyehat tradisional (HATTRA) sekaligus memperkuat pembinaan dan pengawasan di lapangan.
Pengembangan SIPANDI dilakukan sebagai langkah menuju sistem pelaporan yang lebih efektif, efisien, dan terintegrasi. Sistem ini telah mulai diujicobakan pada sejumlah puskesmas di Kabupaten Buleleng.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan yang juga menjabat Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Dewa Putu Merta Suteja, M.A.P., saat dikonfirmasi, Rabu (23/9), mengatakan SIPANDI dirancang untuk mengintegrasikan seluruh data pelayanan kesehatan tradisional.
“SIPANDI kami kembangkan untuk mengintegrasikan seluruh data pelayanan kesehatan tradisional, sehingga pendataan dan pengawasan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien,” ujarnya.
Melalui sistem tersebut, data penyelenggara pelayanan kesehatan tradisional akan terdokumentasi berdasarkan jenis pelayanan, legalitas, hingga wilayah kerja. Data yang dihimpun mencakup pelayanan keterampilan, ramuan, maupun kombinasi, termasuk jumlah kunjungan masyarakat yang mendapatkan pelayanan kesehatan tradisional.
Dengan sistem yang lebih terstruktur, puskesmas diharapkan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pelayanan kesehatan tradisional di masing-masing wilayah.
Pengembangan SIPANDI menjadi semakin penting mengingat jumlah penyehat tradisional di Buleleng cukup besar. Saat ini tercatat sekitar 920 HATTRA tersebar di seluruh wilayah Buleleng. Namun, baru sekitar 98 orang yang telah memiliki Surat Tanda Penyehat Tradisional (STPT).
Data tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam mendorong pelayanan kesehatan tradisional agar berjalan secara legal, aman, terstandar, serta dapat terintegrasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Dinkes Buleleng juga telah melakukan uji coba SIPANDI di sejumlah puskesmas. Dari total 20 puskesmas yang ada, sebagian besar telah mampu melakukan input data melalui sistem tersebut.
Di sisi lain, puskesmas terus mengoptimalkan pelayanan kesehatan tradisional, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar gedung. Sementara itu, beberapa puskesmas lainnya masih dalam proses memenuhi standar pelayanan sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut dr. Dewa Putu Merta Suteja, SIPANDI tidak hanya ditujukan untuk mempermudah proses pelaporan. Sistem tersebut juga diproyeksikan menjadi basis data dalam pelaksanaan pembinaan, pengawasan, monitoring, dan evaluasi pelayanan kesehatan tradisional.
“Data yang terkumpul melalui SIPANDI diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi pelayanan kesehatan tradisional secara lebih akurat di masing-masing wilayah kerja puskesmas,” imbuhnya.
Dengan penerapan SIPANDI, Dinkes Buleleng menargetkan tata kelola pelayanan kesehatan tradisional menjadi lebih efektif dan akuntabel. Data yang terintegrasi juga diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan, sehingga pelayanan kesehatan tradisional di Buleleng dapat berkembang secara lebih tertib, aman, dan terstandar.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com