Gubernur Koster: AI Tak Boleh Gantikan Kecerdasan Budaya, Bali Disiapkan Jadi Laboratorium Lingkungan Binaan Masa Depan - Dewata News

Breaking News

Gold Ads (1170 x 350)

9/5/26

Gubernur Koster: AI Tak Boleh Gantikan Kecerdasan Budaya, Bali Disiapkan Jadi Laboratorium Lingkungan Binaan Masa Depan


Denpasar, dewatanews.com – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak boleh menggeser kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya. Teknologi justru harus menjadi instrumen untuk memperkuat nilai, identitas, tradisi, serta karakter Bali dalam menghadapi tantangan pembangunan masa depan.

“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Justru kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya,” tegas Koster saat membuka Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14 di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9).

Dalam kegiatan yang mengusung tema “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” tersebut, Koster hadir sekaligus sebagai pembicara utama (keynote speaker).

Menurut Koster, pemanfaatan AI dalam pembangunan lingkungan binaan Bali harus tetap menjaga nilai, identitas, tradisi, karakter masyarakat, serta keharmonisan hubungan manusia dengan alam.

Prinsip tersebut dinilai semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perubahan iklim, ancaman bencana, serta berbagai tantangan pembangunan yang akan dihadapi Bali ke depan.

Koster menegaskan pembangunan Bali harus tetap berpijak pada karakter dan jati diri Bali sebagaimana diarahkan dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun 2025–2125.

Arah pembangunan tersebut menempatkan keberlanjutan Alam Bali, Manusia Bali, dan Kebudayaan Bali sebagai fondasi utama.

Nilai-nilai Sad Kerthi juga perlu menjadi landasan etis dan ekologis dalam pengembangan lingkungan binaan. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya mengejar kemajuan fisik, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kebudayaan.

“Kita harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa kehilangan akar kebudayaan. Modernisasi berbasis kebudayaan bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan,” ujar Koster.

Ia pun mendorong perguruan tinggi dan para peneliti untuk semakin aktif menggali serta mengembangkan pengetahuan lokal Bali, termasuk Arsitektur Tradisional Bali dan Subak, melalui riset, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.

Koster juga meminta hasil riset mengenai lingkungan binaan tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Penelitian harus diterjemahkan menjadi solusi yang dapat diterapkan, mulai dari prototipe, desain, standar, kebijakan, teknologi hingga model pembangunan.

Upaya tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan binaan Bali yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim serta bencana, sekaligus hijau, rendah karbon, dan berkelanjutan.

Untuk mewujudkannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, arsitek, perencana, dunia usaha, desa adat, masyarakat, hingga generasi muda.

Melalui kolaborasi tersebut, Bali diharapkan mampu berkembang menjadi laboratorium pengembangan lingkungan binaan masa depan yang mempertemukan kemajuan teknologi dan AI dengan kebudayaan, pengetahuan lokal, serta prinsip keberlanjutan.

“Bali 100 Tahun bukan hanya proyek pembangunan. Bali 100 Tahun adalah proyek peradaban,” tegas Koster.

Ketua Panitia TI IPLBI ke-14, Prof. Ni Ketut Agusintadewi, mengatakan Temu Ilmiah IPLBI menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif, gagasan, hasil penelitian, dan praktik mengenai masa depan lingkungan binaan.

TI IPLBI ke-14 diarahkan untuk mendorong kolaborasi antara teknologi, lokalitas, dan budaya secara kontekstual dalam menjawab tantangan pembangunan lingkungan binaan masa depan.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari, 3–5 September 2026, dengan agenda seminar nasional, masterclass fenomenologi dan AI, workshop, lomba fotografi, penerbitan buku, hingga field trip arsitektur.

Prof. Ni Ketut Agusintadewi berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat kapasitas dan jejaring akademik sekaligus melahirkan penelitian dan praktik lingkungan binaan yang berkualitas, inovatif, serta berkelanjutan tanpa kehilangan karakter lokal.

Turut hadir Ketua IPLBI Periode 2024–2027 Dr. Ir. Susilo Kusdiwanggo, bersama para peneliti, akademisi, arsitek, perencana, praktisi, serta peserta TI IPLBI ke-14. 

No comments:

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com