Gianyar, dewatanews.com — Tradisi Bali tak cukup hanya dikenang dan diwariskan. Agar tetap hidup, tradisi membutuhkan ruang untuk bertemu dengan kreativitas generasi baru.
Semangat itulah yang terasa dalam Arma Fest 2026 yang digelar di kawasan Arma, Ubud, Gianyar, Bali, pada 19–20 September 2026. Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, festival tahun ini mengusung tema “Living Tradition” dengan melibatkan hampir 1.000 seniman dari berbagai komunitas dan wilayah di Bali.
Bukan sekadar panggung pertunjukan, Arma Fest menjadi ruang pertemuan seniman, budayawan, komunitas, masyarakat, dan generasi muda untuk berinteraksi, berkolaborasi, sekaligus melahirkan bentuk kreativitas baru.
Ketua Yayasan Arma, Agung Yudi, mengatakan Arma Fest merupakan bagian dari tanggung jawab Arma dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya Bali.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan atau sekadar mengulang apa yang diwariskan generasi sebelumnya. Tradisi harus terus diberi ruang untuk berkembang, termasuk melalui keterlibatan generasi muda.
“Arma Fest ini merupakan bentuk tanggung jawab Arma di bidang seni dan budaya. Kami ingin memberikan ruang dan kesempatan bagi budayawan dan generasi muda untuk berkreativitas, sekaligus menjadi penghubung antara generasi muda dengan generasi seniornya,” ujar Agung Yudi, Sabtu (19/9/2026).
Ia menilai pertemuan antargenerasi menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan seni dan budaya. Pengalaman serta pengetahuan generasi sebelumnya dapat bertemu dengan gagasan dan kreativitas generasi muda.
Ruang tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tempat pertunjukan, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi.
“Ruang ini kami harapkan bisa dimanfaatkan dengan baik. Di sana ada kesempatan untuk bersinergi, antara generasi muda, para seniman, budayawan, dan semua pihak yang memiliki perhatian terhadap seni dan budaya,” katanya.
Menjaga Roh Arma, Membuka Diri terhadap Zaman
Arma Fest juga menjadi bagian dari perjalanan panjang Arma yang kini memasuki usia 30 tahun.
Agung Yudi mengatakan keberadaan Arma tidak dibangun oleh satu orang atau kelompok semata. Perjalanan Arma tumbuh dari hubungan dan keterlibatan banyak pihak.
“Arma bukan milik seseorang. Arma menjadi besar karena hubungan dan keterlibatan semuanya. Sampai sekarang Arma sudah berusia 30 tahun, dan itu menjadi kebanggaan bagi kami,” ujarnya.
Namun, menjaga warisan budaya bukan berarti menutup diri terhadap perubahan. Tantangannya adalah mempertahankan nilai dan ruh budaya, sekaligus memberi ruang bagi bentuk ekspresi yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Kami ingin tetap menjaga laras dan roh Arma, bagaimana seni dan budaya tetap ajeg dan lestari, tetapi juga bisa hadir dengan gaya kekinian,” kata Agung Yudi.
Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun jembatan rekonstruksi budaya. Tradisi tetap menjadi pijakan, sementara generasi baru diberi kesempatan untuk menafsirkan dan mengembangkannya.
“Ini menjadi jembatan untuk rekonstruksi budaya. Budaya harus tetap dipertahankan, tetapi juga harus bisa berdialog dengan perkembangan zaman. Itu menjadi bagian dari visi dan misi Arma,” ujarnya.
Pariwisata Jangan Kehilangan Akar Budaya
General Manager Arma Museum & Resort, Made Suhartana, mengatakan pemilihan tema “Living Tradition” tidak terlepas dari perkembangan pariwisata Bali yang semakin kompleks.
Menurutnya, pariwisata tidak cukup hanya berbicara tentang destinasi, kunjungan wisatawan, dan aktivitas ekonomi. Di tengah perkembangan tersebut, budaya tetap harus menjadi bagian penting dari identitas Bali.
“Arma tetap berusaha melestarikan budaya dengan membuka diri kepada masyarakat. Kami ingin masyarakat bisa berinteraksi dan tertarik dengan budaya,” ujar Suhartana.
Ia menilai budaya semestinya tidak hanya ditempatkan sebagai objek tontonan. Budaya harus tetap dipraktikkan dan memiliki ruang untuk berinteraksi dengan kehidupan masyarakat.
“Perkembangan pariwisata sekarang sangat kompleks. Karena itu, kita tidak hanya bicara tentang destinasi dan jumlah wisatawan, tetapi bagaimana pariwisata tetap memberikan nilai dan menjaga budaya yang menjadi identitas Bali,” katanya.
Karena itu, Arma Fest diharapkan dapat menjadi salah satu pemantik agar pengembangan pariwisata Bali semakin memberi ruang bagi kebudayaan.
Kolaborasi pemerintah, swasta, masyarakat, komunitas, dan seniman dinilai penting untuk membangun ekosistem pariwisata yang tetap memiliki akar budaya.
“Ke depan kami berharap Arma Fest bisa mengikutsertakan semua pihak. Pemerintah dan swasta dapat bersinergi dalam pengembangan pariwisata, khususnya pariwisata yang berbasis budaya,” ujarnya.
Sembilan Sekehe Baleganjur Ramaikan Arma Fest
Sementara itu, Ketua Arma Fest 2026, I Made Sutama, mengatakan generasi muda menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan festival tahun ini.
Salah satu ruang ekspresi tersebut hadir melalui lomba baleganjur ngarap yang diikuti sembilan sekehe baleganjur dari berbagai wilayah di Bali.
Baleganjur tidak hanya ditempatkan sebagai pertunjukan tradisional, tetapi menjadi medium bagi para seniman untuk mengolah kreativitas dan menghadirkan karya yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Yang ingin kami lakukan adalah mempertemukan semua komunitas pencinta seni dan anak muda. Kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi,” ujar Sutama.
Secara keseluruhan, hampir 1.000 seniman terlibat dalam Arma Fest 2026. Selain baleganjur, festival juga menghadirkan beragam karya seni, termasuk karya seni Kelingking yang dipamerkan di Museum Arma.
Menurut Sutama, keterlibatan anak muda menjadi kunci agar tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu.
“Tradisi jangan sampai berhenti sebagai sesuatu yang hanya kita kenang dari masa lalu. Tradisi harus terus hidup, dan anak-anak muda perlu diberikan ruang untuk mengembangkan serta mengekspresikannya,” katanya.
Pesan tersebut menjadi roh utama Arma Fest 2026.
Sebab, menjaga tradisi bukan semata-mata mempertahankan bentuk lama. Tradisi juga membutuhkan ruang untuk bertemu dengan kreativitas baru, berdialog dengan zaman, dan tetap dekat dengan kehidupan masyarakat.
Melalui tema “Living Tradition”, Arma Fest 2026 mencoba menempatkan seni dan budaya Bali bukan sekadar sebagai warisan yang dikenang, melainkan sebagai sesuatu yang terus bergerak, tumbuh, dan menemukan generasi penerusnya.
Hampir 1.000 seniman yang terlibat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Mereka tidak hanya hadir untuk mempertontonkan tradisi, tetapi juga menunjukkan bahwa selama ruang untuk berkarya tetap tersedia, tradisi Bali memiliki kesempatan untuk terus hidup di tengah perubahan zaman.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com