Denpasar, dewatanews.com – Sejarah tak lagi sekadar ukiran batu. Di panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026, Sanggar Teater Agustus mengguncang kesadaran penonton lewat pementasan “Prasasti”—sebuah tafsir berani tentang identitas Bali di tengah kegelisahan zaman, Sabtu (18/7) malam di Gedung Ksirarnawa.
Disaksikan Ketua Dekranasda Bali sekaligus seniman Ni Putu Putri Suastini Koster, pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan sejarah, tetapi juga menggugat maknanya bagi manusia modern.
Di bawah arahan Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma sebagai dialog lintas zaman—menghubungkan masa kejayaan Raja Sri Kesari Warmadewa dengan realitas kontemporer yang sarat kegelisahan identitas.
Naskah karya I.B. Martinaya (Gus Martin) berangkat dari Prasasti Blanjong, namun diolah menjadi perjalanan dramatik yang luwes. Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang “terlempar” ke masa lalu, menyaksikan langsung lahirnya prasasti—menghidupkan sejarah sebagai pengalaman, bukan hafalan.
Konflik berkembang lewat kisah cinta segitiga I Tekek dengan Ni Sing Lian dan Ni Gadung, yang merefleksikan Bali sebagai ruang pertemuan budaya sejak berabad silam. Namun, romantisme itu segera dipatahkan oleh realitas masa kini—ketika sekelompok ibu gelisah mencari “Prasasti Nusantara” di tengah hiruk-pikuk demonstrasi mahasiswa dan simbol-simbol sosial yang ganjil.
Di sinilah “Prasasti” menemukan kekuatannya: bukan memberi jawaban, melainkan menabur pertanyaan tentang identitas, ingatan kolektif, dan arah peradaban. Prasasti berubah dari artefak sejarah menjadi metafora—tentang manusia yang terus mencari makna di tengah perubahan zaman.
Pementasan ini menegaskan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar usai. Ia hidup, diperdebatkan, dan ditafsir ulang—sejalan dengan semangat FSBJ sebagai ruang eksplorasi seni modern-kontemporer berbasis akar budaya Bali.
“Prasasti” pun meninggalkan satu pesan kuat: setiap generasi akan menulis prasastinya sendiri—tentang siapa mereka, dari mana berasal, dan ke mana masa depan diarahkan.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com