Gianyar, dewatanews.com – Setelah hampir setengah abad, suasana sakral kembali menyelimuti Pura Agung Manukaya Let, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Sekitar 2.000 krama dari enam desa adat berjalan kaki mengikuti prosesi Nyenuk atau Peed dalam rangkaian Karya Agung, Sabtu (3/10).
Iring-iringan pemedek berlangsung khidmat sekaligus semarak. Krama berjalan membawa berbagai sarana upacara, sementara tabuhan gamelan dari sekitar 10 sekaa gong mengiringi langkah mereka sepanjang prosesi.
Alunan Adi Mardangga, baleganjur, hingga gong suling berpadu dengan suasana bhakti para pemedek. Krama dari enam desa adat larut dalam satu iring-iringan sebagai bagian dari rangkaian upacara yang memiliki makna penting bagi masyarakat setempat.
Bendesa Adat Manukaya Let, I Made Mawi Arnata, mengatakan prosesi Nyenuk menjadi momentum mempererat kebersamaan krama sekaligus menjalankan kewajiban adat dan keagamaan.
“Prosesi Nyenuk hari ini melibatkan sekitar 2.000 krama yang berjalan kaki mengikuti iring-iringan upacara. Ini merupakan bagian dari rangkaian Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let yang dilaksanakan dengan penuh rasa bhakti dan kebersamaan,” ujarnya.
Karya Agung tersebut meliputi sejumlah rangkaian upacara, di antaranya Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung, dan Mendem Pedagingan.
Pelaksanaan karya kali ini memiliki arti khusus bagi krama. Selain menjadi momentum meningkatkan bhakti, upacara tersebut juga menjadi pengingat perjalanan tradisi yang telah diwariskan leluhur dari generasi ke generasi.
Mawi Arnata mengungkapkan, Karya Agung serupa terakhir kali dilaksanakan pada 1978. Artinya, pelaksanaan kali ini menjadi momentum penting setelah 48 tahun.
“Terakhir kali karya agung serupa dilaksanakan pada 1978. Melalui pelaksanaan kali ini, kami berharap tradisi yang diwariskan leluhur tetap terjaga dan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya,” katanya.
Enam desa adat terlibat dalam rangkaian karya tersebut, yakni Desa Adat Manukaya Let, Calo, Penempahan, Tegal Payang, Malet, dan Penyolasan Timbul.
Kebersamaan antarkrama terlihat sepanjang prosesi. Mereka berjalan bersama dalam satu iring-iringan, membawa sarana upacara dan mengikuti jalannya ritual dengan tertib.
Menghidupkan Kembali Tradisi yang Sempat Terpendam
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Yantu Adi Parbawa, mengatakan Karya Agung tersebut menjadi momentum untuk membangkitkan kembali nilai-nilai tradisi yang belum banyak diangkat dan direvitalisasi.
Menurutnya, keterlibatan ribuan masyarakat menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat keberadaan tradisi di tengah kehidupan masyarakat.
“Didukung ribuan umat, Karya Agung di Pura Agung Desa Adat Manukaya Let merupakan komitmen bersama warga untuk mewujudkan dan membangkitkan nilai-nilai tradisi yang belum diangkat kembali dan direvitalisasi. Saat ini diisi dan dibangun dalam upacara Nyenuk yang dibalut tradisi,” ujarnya.
Pelaksanaan karya juga tidak hanya melibatkan generasi tua. Generasi muda turut mengambil bagian dalam berbagai kegiatan, mulai dari prosesi upacara, seni tabuh, hingga kegiatan adat lainnya.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dari proses pewarisan tradisi secara langsung. Generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui cerita, tetapi juga belajar dengan terlibat langsung dalam pelaksanaannya.
Tampiog, Warisan Sakral Manukaya Let
Di balik rangkaian Karya Agung, Desa Adat Manukaya Let juga memiliki tradisi sakral yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat, yakni Tampiog atau Melabuh Geni.
Tradisi tersebut dilakukan dengan menerjang atau menendang gundukan bara api. Tampiog menjadi salah satu warisan tradisi yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat Desa Adat Manukaya Let.
Salah satu kekhasannya, peserta menjalankan ritual dalam kondisi sadar dan tidak melalui proses kerauhan. Pelaksanaannya juga melibatkan berbagai unsur masyarakat adat, mulai dari pemangku, prajuru, undagi, hingga sekaa baris.
Bagi masyarakat setempat, Melabuh Geni merupakan ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Api dimaknai sebagai simbol penyucian sekaligus keseimbangan dalam kehidupan.
Selain Tampiog, Desa Adat Manukaya Let juga memiliki seni sakral Tari Bedag-bedagan yang dipentaskan pada momentum tertentu sesuai dengan kalender Bali.
Beragam tradisi tersebut menunjukkan eratnya hubungan antara agama, adat, seni, dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Desa Adat Manukaya Let.
Setelah 48 tahun, Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let kembali menjadi momentum bagi krama untuk memperkuat bhakti sekaligus merawat warisan leluhur.
Bagi generasi penerus, rangkaian karya ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang belajar untuk mengenal, menjalankan, dan meneruskan tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Bali.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com