Jembrana, dewatanews.com — Wastra Bali didorong untuk tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang mampu menembus panggung mode nasional hingga global. Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, memperkenalkan konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa” sebagai strategi pengembangan wastra Bali melalui kekuatan seni, bisnis, dan politik kebudayaan.
Konsep tersebut disampaikan Ny. Putri Koster dalam Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana, Kamis (27/8).
Menurut Ny. Putri Koster, wastra Bali memiliki kekuatan yang tidak sekadar terletak pada keindahan motif dan teknik pembuatannya. Di balik setiap kain terdapat nilai seni, filosofi, identitas, hingga spiritualitas yang menjadi pembeda dengan produk tekstil pabrikan.
“Satu jiwa itu muncul dari rasa seni dan estetika masyarakat Bali, baik dari leluhur kita maupun generasi muda yang ada saat ini, yang diwujudkan dalam bentuk wastra tradisional. Kemudian ada tiga rupa yang bisa memunculkan, mengagungkan, dan memuliakan wastra kita, yaitu seni, bisnis, dan politik kebudayaan,” jelasnya.
Seni Memberi Taksu
Rupa pertama adalah seni. Bagi Ny. Putri Koster, seni merupakan roh yang memberikan jiwa pada wastra Bali.
Motif, warna, serta proses pengikatan dalam kain tradisional tidak hanya menghasilkan estetika, tetapi juga membawa filosofi dan identitas masyarakat Bali.
“Seni yang memberi roh dan jiwa dari kain-kain dalam ikatan itu. Di dalamnya mengandung filosofi kuat sebagai anak Bali yang mewakili tanah Bali, yang konon adalah Pulau Dewata, pulau kesenian. Seni akan mengangkat sehingga kain itu punya taksu,” ungkapnya.
Menurutnya, nilai tersebut menjadi pembeda utama antara tenun tradisional dengan tekstil pabrikan.
“Itulah yang membedakan tenun tradisional dengan bahan tekstil pabrikan yang begitu dingin,” sambungnya.
Bisnis Menghidupi Perajin
Rupa kedua adalah bisnis. Pelestarian wastra, kata Ny. Putri Koster, tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi. Wastra harus memiliki nilai ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan para perajin.
Peningkatan nilai ekonomi diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian desa, memberikan penghasilan yang lebih baik bagi para penenun, sekaligus mendorong generasi muda untuk meneruskan tradisi tersebut.
Dengan demikian, keberlanjutan wastra tidak hanya berbicara mengenai pelestarian budaya, tetapi juga bagaimana para pelaku di dalam ekosistemnya dapat hidup dan berkembang.
Politik Kebudayaan Jadi Pelindung
Sementara itu, politik kebudayaan menjadi unsur ketiga sekaligus pemungkas dalam konsep “Satu Jiwa, Tiga Rupa”.
Ny. Putri Koster menilai pemerintah harus hadir melalui kebijakan dan regulasi untuk memastikan kain tradisional Bali tetap terlindungi, termasuk nilai filosofis, spiritual, dan identitas budaya yang melekat di dalamnya.
“Politik kebudayaan ini menjadi pemungkas dari semuanya karena di dalamnya ada aturan-aturan hukum. Bila kain tenun ini tidak kita lindungi dengan aturan hukum, maka akan hilang,” tegasnya.
Ia mengingatkan, kekuatan ekonomi dan bisnis tidak akan cukup tanpa perlindungan regulasi.
“Perekonomian tidak akan terjaga jika tidak ada aturan. Karena dalam dunia bisnis seperti hutan rimba. Kain-kain kita akan menjadi terpuruk dan turun kastanya, tidak punya roh dan taksu-nya,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk menjaga keberlanjutan wastra Bali melalui gerakan yang dilakukan secara terus-menerus.
“Mari kita tenun sepenuh jiwa dan kita lestarikan. Syaratnya harus kontinu dan konsisten. Mari bergerak bersama,” ajaknya.
Targetkan Bali Jadi Pusat Mode Dunia
Pengembangan wastra tersebut menjadi bagian dari program Dekranasda Provinsi Bali melalui tiga agenda peragaan busana, yakni Dekranasda Bali Fashion Day, Dekranasda Bali Fashion Week, dan Dekranasda Bali Fashion Road Show.
Ketiga program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem industri mode berbasis wastra sekaligus meninggalkan warisan bagi perkembangan fashion Bali.
“Dekranasda Provinsi Bali ingin mendapatkan legacy terkait dengan fashion di Pulau Bali. Astungkara, ke depannya Bali bisa menjadi pusat mode dunia. Ini harus kita lakukan secara kontinu dan konsisten,” ujarnya.
Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana menjadi pelaksanaan ketiga setelah sebelumnya digelar di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.
Bagi Ny. Putri Koster, kegiatan tersebut bukan sekadar peragaan busana, tetapi juga menjadi ruang untuk memperluas wawasan sekaligus membangun arah industri mode Bali yang berakar pada kekayaan budaya lokal.
Dorong Desainer Jembrana Go Global
Khusus untuk Jembrana, Ny. Putri Koster berharap semakin banyak desainer lokal yang tumbuh dan memiliki kemampuan membawa kreativitas berbasis wastra daerah ke tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, keberadaan desainer lokal memiliki peran penting dalam menghubungkan perajin, kekayaan motif tradisional, kreativitas, dan kebutuhan pasar.
“Di Jembrana saya ingin tumbuh lagi desainer-desainer lokal yang kemampuannya mengglobal. Kalau itu tumbuh, maka akan terbangun ekosistem,” ujarnya.
Ketua Dekranasda Kabupaten Jembrana, Ny. Ani Setiawarini Kembang Hartawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Jembrana menjadi bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara”.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Dekranasda Jembrana, ini merupakan suatu kehormatan bagi Kabupaten Jembrana karena dapat menjadi bagian dari Dekranasda Bali Fashion Road Show ‘Wastra Hita Kara’,” ungkapnya.
Menurut Ny. Ani, kegiatan tersebut menjadi momentum mempertemukan desainer, pelaku IKM, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan kolaborasi berkelanjutan.
“Kami berharap melalui kegiatan ini dapat menjadi momentum dalam mempertemukan para desainer, pelaku IKM, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya sehingga tercipta kolaborasi yang berkelanjutan dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan para perajin dan pelaku UMKM,” ujarnya.
Angkat Potensi Wastra dan Produk Lokal Jembrana
Jembrana memiliki beragam potensi budaya yang terus dikembangkan, salah satunya penggunaan cepaka purih sebagai salah satu ciri khas masyarakat setempat.
Dekranasda Jembrana juga telah memilih Duta Tenun Jembrana yang diharapkan tidak sekadar menjadi ikon, tetapi turut mengedukasi generasi muda serta memperkenalkan tenun Jembrana kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kami harap melalui Dekranasda Bali Fashion Road Show ini akan semakin banyak para perajin yang semakin naik dan berkelas serta mampu berkancah di tingkat nasional maupun internasional,” harap Ny. Ani.
Tujuh Desainer Tampilkan Karya
Dalam Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hita Kara” di Jembrana, tampil karya dari tujuh desainer, yakni Busana Adat AAA Turah Mayun, Body N Mine, Urban Etnik, Kacarita, Deluxe, Luh Jaum, dan Taksu.
Peragaan busana turut diiringi musik dari Gus Teja
Selain fashion show, kegiatan juga diramaikan dengan pameran produk IKM dan UKM. Sebanyak 11 IKM ambil bagian, yakni Putri Mas Collection, Kembar Sari, Arca Collection, Ani Galery, Caka Kembang, Bali Rajut, Linggasari, Ariati Embroidery & Handlace, Butik Jepun, Surya Putra, dan Dana Jaya.
Sementara sektor kuliner diisi 10 UKM, yaitu Sibabui, Warung Bu Alit, Lumpia Potong Tugu, Kopi Kelana, Jamu Kunyit Asam, Uma Pia Kasih, Umah Tuak, Sambal Gorlin, Bakii, dan JeCo.
Melalui “Wastra Hita Kara”, Dekranasda Provinsi Bali bersama Dekranasda Kabupaten Jembrana mendorong terbentuknya ekosistem mode dan ekonomi kreatif yang berpijak pada identitas budaya.
Sinergi seni, bisnis, dan politik kebudayaan diharapkan mampu membuat wastra Bali tetap memiliki roh dan taksu, memberikan kesejahteraan bagi para perajin, sekaligus membawa identitas Bali menuju panggung mode nasional hingga global.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com