Bangli, dewatanews.com — Balutan predikat mentereng Desa Wisata Penglipuran sebagai salah satu desa terbersih di dunia menyimpan sebuah tantangan besar tentang masa depan. Tengah ancaman peningkatan volume sampah seiring melonjaknya kunjungan wisatawan serta tuntutan globalitas pariwisata, masa depan desa adat ini nyatanya tidak lagi bertumpu pada kebijakan formal orang dewasa. Perhatian kini mulai dititipkan pada pundak generasi muda sejak usia dini.
Langkah taktis inilah yang diinisiasi oleh tim akademisi dari Fakultas Sastra Universitas Warmadewa melalui program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM). Serangkaian kegiatan edukasi inovatif digelar di Sekolah Dasar Negeri 2 Kubu, Bangli, pada Sabtu (6/6), dengan fokus ganda yang krusial bagi nadi pariwisata yaitu penguasaan bahasa Inggris praktis dan kemandirian pengolahan sampah.
Ketua Tim PBM Universitas Warmadewa, Prof. Dr. I Wayan Budiarta, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa anak-anak merupakan aktor kunci sekaligus tameng utama dalam menjaga eksistensi Penglipuran pada masa depan.
“Pariwisata yang berdampak itu memiliki dua arah: industri memberikan dampak kesejahteraan bagi warga, dan sebaliknya, warga dari usia sedini mungkin harus mampu memberi dampak positif bagi keberlanjutan ekosistem pariwisata itu sendiri. Anak-anak SD di SDN 2 Kubu yang mayoritas warga asli Penglipuran ini adalah agen perubahan. Jika kita ingin membentuk peradaban desa yang kuat menghadapi era global dan mandiri secara lingkungan, intervensi karakter harus mutlak dimulai dari bangku sekolah,” ujar Prof. Budiarta saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Sebagai akademisi bidang Sastra Inggris dan Linguistik, Prof. Budiarta menyoroti hambatan laten berupa rendahnya kualitas pengelola dalam berinteraksi secara internasional, yang berisiko memicu miskomunikasi dengan wisatawan asing. Solusi inovatif yang diterapkan dalam pemberdayaan ini adalah metode Communicative Language Teaching (CLT).
Anak-anak tidak lagi dicekoki rumus tata bahasa (grammar) yang kaku dan menjemukan. Sebaliknya, porsi fungsional bahasa diperbesar melalui simulasi interaksi autentik, seperti percakapan dengan wisatawan, ekspresi menyapa, hingga menjelaskan potensi desa secara natural.
“Bahasa Inggris adalah alat komunikasi internasional, bukan sekadar hafalan aturan struktur. Melalui pendekatan CLT, anak-anak didorong untuk aktif, percaya diri, dan spontan berbicara tanpa takut salah. Kami mengintegrasikan variabel tugas dan makna nyata agar proses belajar menjadi sangat menyenangkan dan kontekstual dengan keseharian mereka di desa wisata,” jelasnya.
Sisi krusial lain dalam pemberdayaan ini adalah rekonstruksi paradigma terhadap sampah. Selama ini, sebagian besar anak-anak hanya memahami bahwa menjaga kebersihan sebatas membuang sampah pada tempatnya. Padahal, menyandang status desa terbersih di dunia menuntut Penglipuran memiliki sistem pengelolaan yang mandiri dan efektif dari hulu.
Tim pengabdian melatih para siswa SDN 2 Kubu untuk menguasai metode pengolahan sampah secara aplikatif. Guna mengolah sampah organik yang melimpah dari sisa makanan dan vegetasi desa, anak-anak diajarkan teknik pembuatan kompos tradisional, metode fermentasi anaerobik (Bokashi), hingga pemanfaatan cacing tanah (vermikomposting) untuk menghasilkan kascing berkualitas tinggi.
Sementara untuk sampah anorganik seperti plastik dan kemasan, anak-anak dilatih melakukan pemilahan ketat sejak dari ruang kelas serta pemanfaatan kembali (reuse & recycle) barang bekas menjadi media edukasi yang bernilai guna.
Prof. Budiarta menambahkan bahwa pengolahan sampah ini merupakan bagian integral dari pendidikan karakter. “Tujuan akhir kita adalah mindset-shifting. Kita mengubah anak-anak dari yang semula acuh atau sekadar ikut-ikutan bersih, menjadi pribadi kritis yang mampu mengolah sampah secara mandiri. Ketika kesadaran ekologis dan kecakapan global ini menyatu dalam diri generasi penerus, maka benteng keberlanjutan pariwisata Penglipuran tidak akan pernah runtuh oleh zaman.”
Pelaksanaan program pemberdayaan ini mendapat sambutan hangat dan apresiasi tinggi dari pihak sekolah. Luh Putu Astini, selaku guru perwakilan dari Sekolah Dasar Negeri 2 Kubu, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian para akademisi terhadap masa depan anak-anak didik mereka.
"Kami selaku perwakilan dari pihak sekolah mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada tim pengabdian masyarakat Universitas Warmadewa yang sudah menyelenggarakan kegiatan positif ini di sekolah kami," ungkap Luh Putu Astini.
Pihak sekolah berharap ilmu yang telah dibagikan tidak berhenti pada hari pelaksanaan saja, melainkan dapat dipraktikkan secara konsisten demi kemajuan desa. "Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, anak-anak kami di SDN 2 Kubu bisa menerapkan ilmu yang didapat untuk memajukan Desa Wisata Penglipuran ini ke depannya," pungkasnya dengan penuh optimisme.

No comments:
Post a Comment
Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.
Terimakasih
www.dewatanews.com