Diresmikan Setahun Lalu, Monumen Perang Jagaraga Ramai Dikunjungi

Buleleng, Dewata News. Com  — Tepat setahun lalu dengan hari berbeda, yakni Senin (13/02/2017) siang pasca cuti diluar tanggungan negar...


Buleleng, Dewata News. Com — Tepat setahun lalu dengan hari berbeda, yakni Senin (13/02/2017) siang pasca cuti diluar tanggungan negara karena maju sebagai calon bupati petahana atau incumbent Pilkada Buleleng, Bupati Putu Agus Suradnyana meresmikan proyek monumental peristiwa heroik melawan penjajah Belanda, yakni Monumen Perang Jagaraga. Sementara pagi harinya, Bupati PAS sapaan akrab Putu Agus Suradnyana ini meresmikan gedung baru Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kabupaten Buleleng.

Secara nasional, peperangan perlawanan rakyat Bali melawan penjajah Belanda, selain dikenal dengan Perang Puputan Badung, juga Perang Jagaraga dengan ketokohan Patih Jelantik yang sudah diakui pemerintah sebagai Pahlawan Nasional. Pada peperangan yang lebih dikenal dengan Perang Puputan Jagaraga itu, Patih Jelantik didampingi pejuang wanita, Jero Jempiring.

Guna memberikan penghargaan terhadap jasa para pahlawan perjuangan Patih Jelantik dan Jero Jempiring dan sebagai sarana edukasi sejarah kepada masyarakat dan para pelajar yang merupakan generasi penerus, Pemkab Buleleng membangun Monumen PerangJagaraga.

”Dengan dibangunnya Monumen Perang Jagaraga, terpenuhinya keinginan masyarakat Buleleng umumnya dan masyarakat Desa Jagaraga khususnya yang telah dinantikan kurang lebih 20 tahun,” kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buleleng Gede Komang melaporkan saat itu.

Sumber pembiayaan, lanjut, mantan Kepala BKKBN Kabupaten Covalima, Timor Timur ini, pembangunan Monumen Perang Jagaraga bersumber dari dana APBD Tahun 2016 pada SKPD Dinas Sosial sebesar Rp15 miliar, ”Perincian untuk pelaksanaan fisik Rp14,7 miliar dan Rp300 juta untuk supervise/pengawasan. Pembangunan Monumen Perang Jagaraga ini dilaksanakan oleh PT Tunas Jasa Sanur dengan nilai kontrak Rp13.841.359.000 dan supervise/pengawasan dilaksanakan CV Manar Jaya dengan nilai kontrak Rp269.392.000,” imbuh Gede Komang.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengakui, dibalik heroiknya pertempuran Perang Jagaraga tidak terlepas dari gigihnya Patih I Gusti Ketut Jelantik yang dibantu oleh sang istri tercinta Jro Jempiring dalam memimpin perlawanan melawan Pasukan Belanda.

”Pemkab Buleleng memberikan perhatian khusus terhadap perjuangan lascar puputan Jagaraga dalam melawan penjajah Belanda dengan membangun Monumen Perang Jagaraga sebagai penghargaan dan pengingat kepada anak cucu kita, bahwa di tanah inipernah terjadi pertumpahan darah dalam melawan Belanda,” ungkap Bupati Agus Suradnyana.

Diharapkan, pembangunan Monumen Perang Jagaraga ini menjadi sarana pembelajaran bagigenerasi miuda, sekalugus untuk mewujudkan revolusi karakter bangsa.

Menyambut kedatangan Bupati dan Wabup Buleleng PASS siang itu, Perbekel Desa Jagaraga tampil di panggung menarikan Tarian Baris Tunggal, sementara penari legendaris Ni Luh Menek sebagai penari yang pertama menarikan Tarian Teruna Jaya ciptaan maestro seniman Gde Manik, meski di usia 78 tahun namun masih energik tampil di panggung.

Upacara peresmian yang ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Bupati PAS didampingi Wabup Sutjidra diakhir dengan pentas fragmentari Perang Jagaraga oleh generasi muda Desa Jagaraga.

Setahun telah diresmikan, Monumen Perang Pututan Jagaraga mulai ramai dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman) dan domestik (wisdom). Tak hanya menjadi edukasi sejarah untuk kalangan pelajar dan mahasiswa, lokasi ini dijadikan pilihan tempat foto selfie.

Dari pusat Kota Singaraja, pengunjung bisa menaiki sepeda motor, mobil atau bus ke arah timur dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Sedangkan jika dari pusat wisata Pantai Lovina, Kecamatan Buleleng perjalanan ditempuh sekitar 45 menit. Tiba di lokasi, wisatawan leluasa menyaksikan seluruh areal monumen yang sudah tertata rapi.

Di kawasan ini pengunjung bisa melihat dari dekat sosok pejuang Gusti Ketut Djelentik dan Jro Jempiring yang diwujudkan dalam patung menjulang tinggi. Tangan kedua pejuang ini tampak menghunus keris saat bertempur melawan penjajah Belanda. Lokasi patung ini lah yang menjadi tempat untuk berfoto selfie.

Puas mengabadikan foto bersama pejuang kemerdekaan, pengunjung bisa menyaksikan kisah Perang Puputan Jagaraga dalam diorama yang berada di ruang bawah. Cerita perang heroik itu dipajang lengkap dengan patung berukuran kecil yang dibuat mirip dengan aslinya.

Dimulai dari masuknya kapal barang Belanda di Pelabuhan Sangsit yang kini menjadi Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Dusun Pabean, Desa Sangsit, Kecamatan Sawan. Berikutnya, dikisahkan Gusti Ketut Djelantik menolak penghapusan hukum Hak Tawan karang yang berlaku pada masa itu. Hukum ini menyebut bahwa setiap kapal yang masuk ke Buleleng, barang yang diangkut dikuasai oleh kerajaan pada masa tersebut.

Penolakan ini memicu awal pertempuran yang pertama berhasil dimenangkan oleh pasukan Djelantik. Penjajah Belanda kembali melakukan serangan dan terjadilah perang puputan. Gusti Ketut Djelantik dan Jro Jempiring bersama pasukannya gugur pada 19 April 1849 silam.

Salah seorang warga masyarakat saat ditemui, Selasa (13/02) mengatakan setiap hari ada saja rombongan wisatawan yang berkunjung. Untuk wisman, kebanyakan asal Belanda dan Jerman.

Ia mengatakan wisatawan sangat menikmati obyek yang ada, tidak saja untuk obyek foto juga sebagai referensi sejarah kerajaan dan penjajahan Belanda. “Sekitar dari enam bulan tamu ramai berkunjung. Kalau mancanegara biasnaya datang setelah berkunjung ke obyek wisata alam di Desa Sekumpul lalu pulanggnya melihat monumen ini. Selain itu, mereka juga mengunjungi kawasan Pura Dalem Segara Madu di seberang jalan,” jelasnya.  Made Tirthayasa.—

Berita Terkait

Kabar Buleleng 3058999826196392055

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

YURA Shop

item