Benarkah Tumpek Krulut sebagai Hari Kasih Sayang ala Bali?

Beberapa tahun terakhir , hari suci Tumpek Krulut yang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku  Krulut, Sabtu (16/12) hari ini diberi makna b...


Beberapa tahun terakhir, hari suci Tumpek Krulut yang jatuh pada Saniscara Kliwonwuku Krulut, Sabtu (16/12) hari ini diberi makna baru sebagai hari perayaan cinta. Tumpek Krulut lantas dianggap sebagai hari kasih sayang khas Bali. Benarkah Tumpek Krulut memang merupakan hari kasih sayang? 
Cendekiawan Hindu, Drs. I Ketut Winaya, M.Ag, membenarkan makna Tumpek Krulut memang berdekatan dengan perayaan cinta atau kasih sayang.
”Makna perayaan Tumpek Krulut memang kasih sayang. Kata Krulut berasal dar kata lulut yang artinya ’senang’ atau ’cinta’ yang bisa disejajarkan dengan makna sayang,” kata pensiunan dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini.
Menurut Wiana, maka Tumpek Krulut sebagai hasi kasih sayang ditunjukkan dengan adanya sarana banten sekartamanyang dihaturkan saat Tumpek Krulut. Dalam pemahaman Wiana, banten sekartaman merupakan bentuk ungkapan rasa sayang kepada siapa saja yang memunculkan energi positif dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.
Di India, lanjut Wiana, juga ada tradisi peringatan hari kasih sayang . Di tanah kelahiran agama Hindu itu ada Hari Raksa Banda atau pun Walmiki Jayanti. Raksa Banda merupakan hari untuk mengukuhkan ikatan cinta, kasih dan sayang di antara pasangan suami-istri, laki-laki dan perempuan. Pada hari Raksa Banda itu, sang lelaki diberikan tetebusberupa benang, pihak perempuan diberikan gelang. Tatkala hari Walmiki Jayanti, anak-anak hingga yang masih muda akan mempersembahkan bunga kepada orang yang lebih tua.
Namun, masyarakat Hindu Bali selama ini merayakan Tumpek Krulut sebagai hari piodalan di pelinggih penyarikan di banjar. Karena itu, seringkali ditemui, saat hari Tumpek Krulut diadakan piodalan di banjar-banjar.
Penulis buku-buku agama Hindu, Dra. Ni Made Sri Arwati dalam buku Rahina Tumpek tidak secara jelas menyebut Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang. Arwati hanya menyebutkan, yadnya saat Tumpek Krulut jika dicermati secara mendalam sesungguhnya sebagai sarana memunculkan rasa saling asih, asah dan asuh di antara sesame manusia melalui sarana seni tetabuhan, karya cipta Hyang Widhi yang membuat rasa tertarik, senang, terpesona dalam kehidupan.
Pemaknaan lebih segar terhadap suatu hari raya keagamaan memang suatu hal yang penting dilakukan sepanjang tidak jauh beranjak dari dasar sastra yang mendasari munculnya hari raya itu. Pemaknaan Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang dapat dianggap sebagai sebuah pemaknaan baru yang lebih segar sesuai dengan konteks zamannya.  (DN-ist)

Berita Terkait

Kabar Buleleng 4917949928417618152

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Populer

item