Di Usia Senja, Tirthayasa Terus Berpuisi

Dewata News. Com -  Made Tirthayasa, seniman sastra modern asal Singaraja, Buleleng, Bali kini usianya sudah senja namun sesungguhnya I...


Dewata News. Com - Made Tirthayasa, seniman sastra modern asal Singaraja, Buleleng, Bali kini usianya sudah senja namun sesungguhnya Ia masih muda. Seirama keyakinan jiwanya yang masih bagai remaja.
 
Gairahnya masih tetap sama. Berpuisi masih tetap dalam jiwa di era 1969-1970an. Bagi Tirthayasa yang tahun 2017 ini dianugerahkan Penghargaan Seni Wija Kusuma sebagai Seniman Sastra Modern oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng, puisilah yang menjadikan dirinya ada. Cintanya pada puisi terlihat dari masih giatnya Ia bergelut di bidang ini ditengah usianya yang sudah senja.
 
“Berpuisi itu untuk menyatakan perasaan kita. Berpuisi itu untuk menyatakan keberadaan kita. Berusaha tampil di panggung terbuka sebagai cermin saya masih eksis dengan kertas puisi di tangan,” kata Tirthayasa mengenai kisah dirinya terjun di dunia puisi.
 
Kisahnya berawal dari usia anak muda ketika masih duduk di bangku sekolah, SMA Bhaktiyasa. Keinginan untuk berpuisi sudah ada sejak di bangku sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan, karena tak mampu ke bangku kuliah, satu-satunya peluang ”mekuli” untuk buka tutup kantor perusahaan swasta di Jalan Gajah Mada 22 Singaraja.
 
Disela kesibukan harian tidak mencekam, memanfatkan ruang dan waktu menghadap mesin ketik. Setiap ada sesuatu terurai melintas di benak, langsung ribut akan bunyi mesin ketik. Bahkan, tulisan Jalan Gajah Mada 22 mendapat nominasi terbaik kala itu.
 
Sementara di waktu senggang, bergabung dengan Sanggar Embun Pagi di RRI Studio Singaraja yang kala itu diasung Gede Dharna, bersama-sama Nyoman Nada Sariada mengisi siaran sastra untuk pecinta sastra modern.
 
Karena sibuknya Gde Dharna sebagai fugur birokrasi, sehingga siaran sastra Sanggar Embun Pagi dipercayakan untuk diteruskan Tirthayasa. Sempat pula membina kecintaan Made Arga Pinatyh akan puisi.
 
Kemahirannya menulis puisi maupun cerpen sebagai bagian dari kehidupan Sanggar Embun Pagi terus diasah. Tidak saja menulis puisi, dan cerpen, juga naskah sandiwara radio.
 
Bahkan, setiap aven lomba penulisan puisi maupunn cerpen dan naskah sandiwara,yang diselenggarakan Listibya Kabupaten Buleleng maupun Listibya Provinsi Bali dan lembaga resmi lainnya, Tirthayasa tak pernah ketinggalan mengirimkan naskah. Dan syukurnya, senantiasa masuk nominasi tiga besar.
 
Karena keterampilan berpuisi dengan suara ”berat” menarik simpati Kepsta RRI Singaraja, Soejadi Hadjoloekito menawari Tirthayasa. ”Mau jadi penyiar” tanya Soejadi yang langsung dijawab ”Mau, mau pak”, jawab spontan Tirthayasa.
 
Dan sejak itu, Tirthayasa selain tetap mengasuh acara siaran Sastra Modern Sanggar Embun Pagi, juga menjalankan tugas sebagai penyiar radio.
 
Dari penilaian tulis menulis, ternyata Kepsta Soejadi Hardjoloekito memberi tugas tambahan selain penyiar, yakni sebagai pewarta atau reporter, karena sebagai radio informasi dan hiburan, RRI Singaraja hanya digawangi seorang reporter.
 
Dua tugas berbeda, baik sebagai penyiar maupun pewarta di RRI tak menyurutkan langkah Tirthayasa yang dalam setiap tulisannya dengan nama Cantiryas Boy. Dari Sanggar Sastra Puri Tirta bagaikan air mengalir terus lahir tercipta berbagai judul puisi, hingga usianya saat ini 68 tahun.
 
Sebab?
”Karena puisi, aku meluluhkan hati seorang perempuan, hingga jatuh keharibaanku”
”Karena puisi, aku menjadi penyiar dan jadi reporter”.
”Karena puisi dan reporter, aku punya anak istri”.
”Karena puisi dan reporter, aku peroleh Penghargaan Kesetiaan Profesi dari PWI”
”Dan, Karena puisi dan reporter, aku dianugerahkan Penghargaan Seni Wija Kusuma sebagai Seniman Sastra Modern dari Pemkab Buleleng”.
 
Di usianya yang telah lebih dari setengah abad ini, Tirthayasa tetap bergelut dengan puisi dan reporter yang telah lama membesarkan namanya. Dengan puisi di tangan, senantiasa berupaya ada ruang dan waktu di setiap even yang ada di Gumi Panji Sakti. ”Jejakku kutinggal di sini, tapi senyummu kubawa pergi”. Itulah kesan terakhir usai membaca puisi ”Roh Nusantara” di Kantor Kota Depok, Jawa Barat, belum lama ini.—

Berita Terkait

Breaking News 1295054326192820978

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Populer

item