Mengenal Lebih Dekat Upacara Nyapu Leger Massal

Buleleng, Dewata News.com —   Sebagai umat Hindu di Bali, khususnya mengenal pada Wuku Wayang pekan ini berakhir pada hari Sabtu (29/07...


Buleleng, Dewata News.com — Sebagai umat Hindu di Bali, khususnya mengenal pada Wuku Wayang pekan ini berakhir pada hari Sabtu (29/07) sebagai hari raya Tumpek Wayang (Saniscara Kliwon Wayang), dan Odalan pada pelinggih Bethara Manik Dalang. Bagi umat yang termasuk kategoti Jro Dalang karena profesi sebagai seni Pedalangan, Tumpek Wayang merupakan ”Odalan”, mengupacarai pewayangan yang tersimpan dalam gedog.
 
Di samping itu, bagi warga masyarakat yang lahir pada Wuku Wayang, wajib hukumnya pada hari kelahirannya ini melaksanakan Upacara Nyapu Leger.
 
Atas ide Sulinggih maupun Jro Dalang, untuk meringankan beban biaya warga umat yang melaksanakan Upacara Nyapu Leger, sehingga memberi peluang kemudahan dengan pelaksanaan Upacara Nyapu Leger Massal. Sehingga tidak jarang di antara Sulinggih maupun Jro Dalang menyampaikian acara kegiatan pelaksanaan Upacara Nyapu Leger melalui media massa yang umumnya digelar bertepatan dengan rahinan Tumpek Wayang.
 
Terkait pelaksanaan Upacara Nyapou Leger Massal ini, Dewata News.commenyempatkan diri menemui Jro Mangku Dalang I Nyoman Rugada di rumah kediamannya Banjar Penataran, Gang II Kelurahan Kendran, Jalan Gajahmada, Singaraja, Kamis(27/07) siang.
 
Memasuki rumah kediaman Jro Mangku Dalang I Nyoman Rugada melalui gang “krucut”, karena hanya sekitar 50 meter jalan gang itu bisa dilalui mobil,dan setelah itu menyempit hingga di depan pintu rumah.
 
Dengan senyum khas Jro Dalang menyambut di pintu rumah, sementara di halaman yang sekaligus jalan beberapa orang ibu tampak sibbuk menyiapkan sarana untuk Upacara Tumpek Wayang.
 
”Saya sebagai pelaku seni di bidang Pedalangan sangat mengapresiasi tentang pelaksanaan upacara Nyapu Leger Massal yang diselenggarakan para Dalang ataupun para Sulinggih dewasa ini. Kenapa? Karena pelaksanaannya membantu umat atu warga krama yang lahir pada Wuku Wayang, terutama di bidang pembiayaan cukup lumayan mahal,” kata Jro Mangku Dalam I Nyoman Rugada membuka perbincangan siang itu.
 
Ia mengakui, bahwa Upacara Nyapu Leger massal biasanya dilaksanakan pada hari Sabtu ~ Tumpek Wayang, dimana semua krama yanglahir pada wuku Wayang sampai hari Sabtu sekalian diupacarai pada hari Sabtu atau Tumpek Wayang. Hal ini sudah berlangsung dari beberapa tahun dan semua itu sah-sah saja atau tergantung pada warga krama yang bersangkutan.
 
”Tetapi, menurut saya secara pribadi selaku pelaku seni Pedalangan mungkin mempunyai pandangan lain dan bukan berarti apa yang telah dilaksanakan itu salah. Menurut saya, setiap orang mempunyai hari lahir yang berbeda. Nah, jika seandainya saya melaksanakan upacara Nyapu Leger pada hari Sabtu atau Tumpek Wayang, sekali lagi menurut saya, kurang tepat,” tegasnya.
 
Kenapa? Karena sudah jelas lepas dari hari kelahiran atau otonannya, sehingga apabila hal itu tetap dilaksanakan tidak menutup kemungkinan aka nada upacara massal yang lain, yaitu Upacara Tiga Bulanan, kalau hanya berpedoman dengan Wuku yang sama, seperti Upacara Nyapu Leger Massal.
 
Kepada umat se-dharma, lanjut Jro Mangku Dalang I Nyoman Rugada, apa yang disampaikian bukan mengatakan, bahwa Upacara Nyapu Leger Massal yang sudah dilaksanakan itu salah, agar tidak salah persepsi, karena semua itu kembali pada umat atau warga krama yang melaksanakannya,
 
”Kemungkinan saya sebagai Dalang juga akan melaksanakan Upacara Nyapu Leger Massal, namun tatacaranya mungkin sedikit berbeda, dimana saya siap membantu umat untuk Upacara NyapuLeger Massal dengan menghimpun diri sesuai dengan hari kelahirannya,” ujarnya.
 
Sebagai contoh, diungkapkan Jro Mangku Dalan I Nyoman Rugada, warga krama yang lahir pada hari Minggu Wuku Wayan berapa orang, yang lahir pada hari Senen Wuku Wayang berapa orang dan seterusnya. Nah kemungkinan mengenai biaya yang dikeluarkan oleh warga krama akan berbeda sesuai dengan jumlah peserta pada hari kelahirannya masing-masing dan dibuatkan banten sesuai dengan hari kelahirannya.
 
”Umat se-dharma yang saya banggakan dan muliakan, ini pandangan saya dan sekali lagi saya tidak mengatakan, bahwa apa yang telah dilaksanakan itu salah atau jelek sepanjang umat dapat menerima itulah yang baik dana pa yang saya sampaikan ini sudah barang tentu tidak sejalan atau sependapat dengan yang sudah berjalan. Yang terpenting, bagaimana kita mampu memberikan bantuan untuk meringankan biaya upacara tersebut.Dan saya jiuga akan melayani umat dengan cara saya. Kita berbeda tetapi tujuan kita sama,” imbuhnya dihiasi senyum rahayu. (DN ~ TiR).—

Berita Terkait

Breaking News 2798561665015031633

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

Event Partner

YURA Shop

Populer

item