Hadiri Ngaben Dan Nyekah Massal, Wagub Sudikerta Tekankan Pentingnya Awig-Awig Demi Keberlangsungan Agama dan Adat di Bali

Bangli, Dewata News. Com.-  Kehidupan bermasyarat di Bali, terutama terkait kehidupan beragama dan adat sudah mengakar dalam keseharian...


Bangli, Dewata News. Com.- Kehidupan bermasyarat di Bali, terutama terkait kehidupan beragama dan adat sudah mengakar dalam keseharian. Namun di era globalisasi saat ini, tak sedikit dinamika yang mempengaruhi dan bahkan mengancam keberlangsungan kegiatan beragama dan adat masyarakat Bali, terutama kebutuhan ekonomi yang semakin bervariatif. Untuk itu dibutuhkan satu dasar dan peraturan berupa awig-awig yang bisa mengakomodir semua kepentingan terutama kalangan ekonomi terbawah, yang bisa meringankan pelaksanaannya, sehingga tetap bisa ajeg dilaksanakan tanpa mengurangi makna dan tujuan kegiatan beragama dan adat. Demikian penegasan yang disampaikan Wagub Ketut Sudikerta saat menghadiri upacara Ngaben dan Nyekah massal di Br. Gria, Kelurahan Kawan, Bangli, Selasa (25/7).

Lebih jauh, Wagub Sudikerta mengapresiasi upacara Ngaben dan Nyekah yang dilaksanakan warga  Br. Gria secara massal, yang menurutnya merupakan salah satu contoh pelaksanaan upacara yang mengakomodir semua kepentingan, dan tidak memberatkan ekonomi warganya terutama warga yang kurang mampu. Kedepan, Wagub Sudikerta mengharapkan pelaksanaan upacara secara massal semakin digalakkan, karena bisa mengefisiensi banyak hal seperti tenaga, waktu, materi, maupun sarana-sarana yang dibutuhkan. "Upacara Pitra Yadnya merupakan salah satu hutang kepada leluhur, yang wajib dilaksanakan oleh setiap umat untuk menuntun arwah leluhur agar mendapat tempat yang lebih baik di alam setelah kehidupan ini. Karena wajib, jika dilaksanakan secara sendiri-sendiri tentu akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Maka itu, perlu dilaksanakan secara massal, biaya yang kita hemat pun bisa dialihkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup kita yang lain, seperti kesehatan, pendidikan dan lainnya," ujar Sudikerta.

Sementara itu, Kelian Adat Br. Gria I Nyoman Suarsa, menyampaikan upacara Ngaben dan Nyekah massal diantaranya diikuti 23 sawa dan  7 sawa nglungahang untuk upacara Ngaben, Nyekah diikuti 36 sekah, serta metatah 43 orang. Biaya yang dikenakan kepada keluarga peserta pun tergolong kecil, seperti diantaranya untuk peserta Ngaben dikenakan biaya sebesar 5 juta, Nyekah sebesar 10 juta, dan untuk Nglungahang serta Metatah dikenakan biaya masing-masing sebesar ribu. Lebih jauh, Ia menceritakan keadaan warganya yang berjumlah sekitar 250 kk yang mayoritas bekerja sebagai petani penggarap yang tentunya perekonomiannya kalangan menengah. Untuk itu, Ia pun sangat berharap mendapat bantuan pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur diwilayah yang dipimpinnya, seperti diantaranya pembangunan wantilan dan lain sebagainya. Namun Ia tak menampik berbagai program-program yang dilaksanakan Pemprov Bali sudah dirasakan oleh warganya, untuk itu Ia pun berharap program-program tersebut yang sudah berjalan dengan baik bisa semakin meningkat.

Berita Terkait

Breaking News 9004542094811245926

Post a Comment

Redaksi DEWATA NEWS menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di DEWATA NEWS . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi DEWATA NEWS akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.dewatanews.com

emo-but-icon

Siapa Calon Gubernur Bali 2018 Pilihan Anda ?

Populer

item